Hotel dan Restoran di Bantul Tidak Boleh Layani Prasmanan

Ilustrasi - Pixabay
23 Juni 2020 07:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Pariwisata DIY meminta pengelola hotel dan restoran tidak menyajikan makanan dan minuman dengan konsep prasmanan untuk mengurangi potensi penyebaran Coronavirus Disease atau Covid-19 di sektor industri perhotelan dan restoran.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata DIY, Rose Sutikno, saat meninjau Numani Resto di Jalan Parangtritis KM.7, Sewon, Bantul, Senin (22/6/2020).

Rose Sutikno bersama tim mendatangi Numani sebagai bagian dari simulasi penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) hotel dan restoran dalam menghadapi new normal. Selain Numani yang ditinjau adalah Hotel Ros-In di Ringroad Selatan. “Kami ingin restoran, hotel, dan destinasi wisata benar-benar menerapkan protokol kesehatan,” kata Sutikno.

Sejumlah protokol kesehatan yang perlu dilakukan di antaranya adalah dengan menyediakan tempat cuci tangan, alat pengukur suhu badan, menyiapkan tempat duduk yang berjarak, menerapkan proses pembayaran dengan sistem non tunai, proses pelayanan mengenakan alat pelindung diri (APD), serta penyajian makanan yang tidak diperkenankan dengan sistem prasmanan karena berpotensi adanya kerumunan.

“Penyajian makanan harus dilakukan dengan sistem piring terbang [diantarkan langsung ke meja pembeli],” ujar Sutikno.

Sutikno mengaku secara umum hasil pemantauan di dua lokasi tersebut sudah sesuai SOP new normal. Namun demikian tidak memungkiri pihaknya masih menemukan beberapa persoalan yang harus diatasi seperti tempat sampah yang masih menggunakan tangan saat dibuka, dan tempat ibadah di restoran yang masih menyediakan peralatan salat.

Sesuai SOP seharunya tempat ibadah tidak menyediakan peralatan salat selama pandemi Covid-19 ini. pengunjunglah yang harus membawa peralatan ibadah sendiri untuk meminimalisir terjadinya penularan infeksi Covid-19.

Sutikno menyatakan pasca simulasi SOP New Normal pihaknya akan terus memantau industri perhotelan, restoran dan destinasi wisata agar protokol kesehatan tetap dijaga, “Kalau belum ditindaklanjuti kita ingatkan terus agar ditindaklanjuti demi kesehatan pelaku usaha industri, petugas, dan pengunjung,” ujar dia.

Omzet

Sementara itu Wakil Manajer Restoran Numani, Hani mengatakan selama pandemi Covid-19 Restoran Numani hanya tutup sebulan saat awal pandemi, selebihnya sampai saat ini tetap buka. Meski sudah buka, restoran yang sudah berdiri sejak 26 tahun tersebut masih sepi pengunjung.

Akibatnya pihak restoran juga harus meliburkan sejumlah karyawannya, “Dari 40 karyawan , sekarang yang masuk hanya enam orang,” kata Hani. “Omzet turun drastis sampai 95 persen,” kata dia.

Hani mengatakan biasanya tamu yang datang sebelum pandemi bisa sampai ratusan bahkan ribuan. Saat waktu libur 40 bus rombongan wisatawan biasanya dalam sehari dan hari biasa bisa sampai 10-20 bus rombongan wisatawan. Sampai saat ini diakuinya belum ada pelanggan reguler dan agen wisata yang menghubungi untuk memesan makanan di Numani. Pengunjung yang ada saat ini hanya perorangan dan keluarga. Sebagian besar makanannya juga dibawa pulang.

Soal protokol kesehatan, pihaknya sudah menerapkan sejak awal pandemi dengan melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala, penyajian makanan dengan sistem piring terbang, mengurangi tempat duduk, dan melengkapi petugas dengan APD. “Kalau ada pengunjung yang tidak mengenakan masker kami berikan masker secara gratis,” ucap Hani.