Kisah Hasan Merkids, Dulu Preman Jogja Tanpa Belas Kasihan, Kini Berbuat Kebaikan Tanpa Batas

Hasan Merkids. - Ist/Youtube Polda Jogja
07 Juli 2020 15:07 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Nama Hasan Merkids sudah tidak asing lagi bagi warga Jogja. Namun, kisahnya yang inspiratif selalu menaarik untuk diperdengarkan kembali.

Hasan adalah mantan preman dan residivis asal Mergangsan Kidul yang kini sudah bertobat dan berubah menjadi seorang penggiat sosial. Jika dulu kegiatannya adalah membuat onar, kini ia memilih menjadi manusia yang bermanfaat.

Hasan lahir dengan nama Hasanudin namun ketika mulai di jalanan ia kemudian dipanggil Gepeng, atau Hasan Gepeng. Kini, setelah bertobat, ia berupaya menghapus nama itu dengan menggantinya mencadi Gepeng Coret, yang artinya nama Gepeng sudah tidak ada lagi. Hasan kini lebih dikenal dengan nama Hasan Merkids atau disingkat Hamer.

Baca juga: Keren! Pria Ini Make Over Kamar Kosnya Jadi Smart Kos, Bisa Diperintah Pakai Suara

Hasan memulai kisah hidupnya dengan menceritakan masa kecilnya. Ia lahir di Mergangsan Kidul Kota Jogja, dari sebuah keluarga miskin. Kehidupannya pun tidak punya aturan, ia sering kumpul-kumpul dan bikin onar di jalan.

"Pokoknya bikin resah warga," kata Hasan, saat dihadirkan dalam Polcast, Podcast Polda Jogja #2 - Preman Yang Dipensiunkan Polisi dan disiarkan dalam channel Youtube Polda Jogja, Senin (6/7/2020).

Berbagai macam kejahatan sudah ia lakukan mulai kenakalan remaja, kejahatan jalanan, kejahatan politik hingga menjadi orang bayaran dan pemakai narkoba. Semua itu dilakukan dengan alasan kemiskinan. Menjadi orang bayaran dilakukan karena imbalan uang.

Adapun kejahatan jalanan dilakukan karena sebagai orang miskin, ia merasa menjadi sampah masyarakat. "Karena berpikir bahwa orang gak punya itu kayak sampah. Menjadi berani karena gak punya apa-apa, mati besok atau sekarang sama saja," katanya ketika ditanya alasannya oleh pembawa acara, AKP Estiqomah.

Baca juga: Ngalor Ngidul Ngetan Ngulon, Warganet Ini Ajarkan Cara Mengetahui Arah Mata Angin di Jogja

Kemiskinannya saat itu juga membuatnya merasa benci dengan orang kaya dan ingin menyakiti orang kaya. Salah satunya benci pada orang yang punya mobil. Kebencian itu diwujudkan dengan sering merusak kaca mobil orang dan merusak spion.

Ternyata, ia mendapatkan karmanya ketika dirinya punya mobil. Suatu saat ia bersama istri dan anaknya berwisata ke pantai di Bantul, di jalan pulang, mobilnya dilempar batu oleh orang. "Istri saya teriak, Yah, kena batu. Saya gini, oh karmaku ndisik, aku gaweane mecahi [kaca] mobil. Gak marah, ndisik ngeneki, berarti ada balesane," tuturnya.

Menurutnya, dari kejahatan yang dilakukan, nantinya ada balasannya. Pernah pula Hasan melakukan kejahatan membacok orang, lalu ia kena balasannya dibacok orang.

Melanjutkan cerita, di usia 15 tahun, Hasan sudah masuk penjara di Sleman karena menusuk orang. Tak tanggung-tanggung, ia masuk penjara dengan 21 kasus kenakalan. Karena masih dibawah umur, ia hanya dihukum penjara satu bulan.

Tak disangka, beberapa waktu lalu ia bertemu dengan salah satu korban yang ia bacok dulu. Ternyata korban itu mengalami cacat fisik. "Dulu gak ada kasihan. Kalau sekarang, gimana itu kalau keluarga kita yang ngalami. Mungkin para pelaku belum sadar, mungkin senang. Tapi kalau yang kena keluarganya, mungkin dia pelan-pelan akan mengurangi, dan bermanfaat di masyarakat," tuturnya.

Kejahatannya di jalanan juga seringkali terjadi hanya karena hal sepele, seperti saat bertemu orang dan merasa dilihat oleh orang. Hanya saling menatap di jalanan, ia bisa sangat marah. Bahkan, kenakalannya di masa remaja dilakukan dengan sengaja. Ia keluar mutar-mutar jalanan, siapa orang yang melihat ke arahnya akan diserang.

"Dulu dilihat saja marah, nopo ndelengke aku. Sekarang semua tak jadikan sedulur, bermanfaat untuk bersama. Dulu hanya melihat saja jadi musuh. Saya pingin apa yang dipakai orang, saya rebut. Kenakalan remaja itu cari masalah, muter, mana yang melihat. Bahkan dulu ada teman yang bilang "goleke musuh". Sekarang cari sedulur sebanyak-banyaknya," katanya.

Hasan juga punya pengalaman tak terlupakan dengan polisi, salah satunya dengan Ipda Winardi. Saat itu ia ditangkap dalam kasus memakai narkoba. Ia tidak terima, lalu melawan sampai seru hingga akhirnya ia ditembak dengan tiga timah panas oleh Ipda Winardi.

Kekinian, ketika ia melakukan aksi sosial di Malioboro, tak disangka Ipda Winardi melihatnya. Mereka lalu bertukar nomor ponsel, dan mulai sering berkomunikasi. Ipda Winardi terkesan dengan aksi sosial yang dilakukan oleh Hasan. Akhirnya kini mereka menjadi sahabat bahkan sering bekerjasama dalam kegiatan sosial.

Terkait penyebab berubahnya sifat Hasan yang dulu perman kini menjadi baik, ada banyak kejadian yang membuatnya sadar dan memperbaiki diri. Salah satunya adalah saat terjadi gempa bumi 2006.

Saat itu ia sedang di dalam penjara karena kasus perusakan dan pembacokan. Di dalam penjara saat terjadi gempa, ia merasa senang karena berpikir orang-orang di luar pada kena gempa.

Namun, ternyata anak istrinya di rumah juga ikut menjadi korban gempa. Mereka selamat, namun membuat Hasan sadar. "Dari situ, saya keluar, saya terus melakukan bantu-bantu, mulai air bersih lalu ke merapi," katanya.

Saat terjadi erupsi Merapi, ia mulai terjun menjadi relawan. Kini, ia membuat sebuah wadah kegiatan sosial bernama Merkids. Jika dulu awalnya berasal dari kata Mergangsan Kidul, kini Merkids berarti Menyongsong Esok Raih Kebersamaan Impikan Damai.

Kegiatan mereka bermacam-macam namun semua merupakan kegiatan sosial, seperti mengirim bantuan air bersih ke daerah yang kekeringan, membantu korban gempa, melakukan bedah rumah tidak layak huni milik warga miskin, membantu pembangunan masjid dan panti asuhan.

Tak hanya itu, mereka juga melakukan aksi sosial dengan menambal jalan yang berlubang. Bahkan, mereka juga membantu orang gila di jalan dengan memberi makan atau uang. Contoh lain yang dilakukan Hasan adalah ia selalu membawa sandal jepit di mobilnya. Saat bepergian, ia salat berpindah-pindah tempat dan di masjid yang ia tumpangi untuk salat, ia meninggalkan sandal jepitnya agar bisa digunakan di masjid tersebut.

Jika dulu ia mengumpulkan orang untuk melakukan kejahatan, kini ia mengumpulkan orang untuk melakukan kebaikan. Kini, Merkids sudah punya anggota lebih dari 2.000 orang yang memiliki kartu anggota. Di luar itu, banyak orang yang ikut mendukung dan berpartisipasi saat mereka melakukan kegiatan sosial. Adapun untuk sumber dana kegiatan sosial, mereka mendapatkan dari kas, anggota dan sumbangan. Setiap kegiatannya selalu dipajang di akun instagramnya @hasan_merkids.

Terakhir, Hasan yang dihadirkan dalam acara tersebut guna memeriahkan HUT Bhayangkara pun berpesan pada masyarakat, terutama remaja nakal dan preman.

"Karma itu ada, mumpung belum mengalami, berhentilah. Cukup saya saja yang mengalami," katanya.