Pandemi Covid-19, Durasi Pagelaran Wayang Diperpendek

Ilustrasi pergelaran wayang kulit. - istimewa
11 Juli 2020 03:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pertunjukan budaya di DIY mau tidak mau harus beradaptasi dengan pandemi Covid-19. Protokol pencegahan penularan Covid-19 diharapkan bisa diaplikasikan ke pelaksanaan pagelaran budaya. Salah satunya, terkait dengan waktu digelarnya acara.

Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan jika salah satu pagelaran budaya bisa menyesuaikan durasi yang saat ini dibatasi. Salah satunya adalah pagelaran wayang yang dilakukan dengan durasi padat.

"Karena dalam waktu pandemi Covid-19 sekarang paling maksimal jam 10. Jam 10 itu kan kalau versi gugus tugas penanganan Covid-19 DIY harus sudah bubar semua aktivitas masyarakat," ujar Dian, Jumat (10/7/2020).

Lebih lanjut, Dian juga menyebutkan jika pagelaran dengan durasi yang dipadatkan atau lebih pendek dari durasi biasanya sudah dilakukan di sejumlah daerah.

"Sebenarnya pagelaran wayang dengan durasi padat sudah banyak dilakukan. Namun, untuk konsep seperti ini [durasi padat] belum pernah kami lakukan, sehingga kami akan coba," sambung Dian.

Upaya Disbud DIY adalah mengombinasikan pakem pagelaran budaya yang masih bisa dipertahankan dengan disesuaikan dengan protokol pencegahan penularan Covid-19.

Disbud DIY, lanjut Dian, menyiapkan beberapa konsep pertunjukan kebudayaan di tengah pandemi Covid-19. Di antaranya, menggunakan live streaming dan pertunjukan dengan terlebih dahulu sudah direkam aksi pertunjukan.

"Kalau live streaming kan real time. Ini juga menjadi pembelajaran baru bagi pelaku seni maupun masyarakat. Kalau live streaming kan tidak bisa direkayasa. Makanya, kami harus siap 100 persen. Kedua pertunjukan yang sudah di tapping sebelumnya," terang Dian.

Menurut Dian, pertunjukan kebudayaan yang menggunakan sistem live streaming mendapatkan atensi yang cukup tinggi jika dibandingkan masyarakat yang melihat pertunjukan yang sudah direkam sebelumnya.

"Untuk acara-acara yang digelar secara live streaming penontonnya memang banyak, itu terlepas dari komunitas pelaku seni yang main, dan faktor tokoh yang bermain di situ. Tapi secara garis besar penonton live streaming lebih banyak ketimbang tapping," ungkap Dian.

Pementasan wayang kulit maupun orang dengan menggunakan konsep daring artinya tidak ada yang menonton secara langsung. Pihaknya juga akan meninjau bagaimana respons masyarakat dalam mengapresiasi pertunjukan kebudayaan secara daring.

"Apakah mereka akan kehilangan sense-nya. Kita mulai mencoba beradaptasi dengan konsep itu [daring]. Nanti ada juga sistem yang mendatangkan penonton tapi sifatnya terbatas. Terkait dengan kapasitas ruang yang nantinya akan digelar oleh komunitas Pepadang di Sasono Hinggil," terang Dian.

Dian menambahkan, jika pelaksanaan pentas dengan menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 dilakukan dalam rangka mengakomodasi kegiatan seniman yang tidak berkarya berkesenian selama masa pandemi Covid-19 dengan aturan dan prosedur yang telah disepakati.

"Semua pentas dilakukan secara daring atau virtual dengan melibatkan seniman yang terbatas dengan tidak mengurangi unsur dan inti dari lakon yang dipentaskan. Dinas Kebudayaan DIY berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten maupun kota dan Pepadi DIY terkait jumlah pentas dan siapa yang berhak menyelenggarkaan pentas daring," tutupnya.