Yulianto Humas Polda Tanya Bagaimana Jika Lampu Merah di Jogja Diatur Seperti Start Balap? Begini Tanggapan Warganet

Pembatasan jarak fisik pengendara di lampu merah. - Ist/ grup facebook ICJ
17 Juli 2020 14:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjoja.com, JOGJA-- Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Penerapan jarak fisik terus digalakkan di segala bidang kehidupan di masyarakat. Aturan ini sudah diterapkan di tempat umum, seperti ruang tunggu fasilitas publik.

Kini, ada penerapan jarak fisik untuk pengendara kendaraan saat berhenti di lampu merah. Aturan ini sudah diterapkan di sejumlah daerah, namun belum diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Baca juga: Tiba-tiba Pak Yulianto Humas Polda DIY Masuk di Grup Jogja Gowes dan Posting Video

Guna mengetahui respon publik terkait wacana penerapan protokol kesehatan tersebut, Kabid Humas Polda DIY Kombes Yulianto meminta pendapat warganet melalui media sosial Facebook. Selama ini, Yulianto memang dikenal aktif di media sosial facebook.

Setelah beberapa waktu lalu mengunggah video pesepeda tertib di grup Facebook Jogja Gowes, kini Ia mengunggah umpan pertanyaan tentang penerapan jarak di antrean kendaraan di lampu merah.

Di grup facebook Info Cegatan Jogja (ICJ), ia mengunggah pertanyaan yang disertai sebuah video tentang jarak pengendara yang sudah diterapkan di Sekayu Sumsel.

Baca juga: Polisi di Jogja Jadi Viral Setelah Gunakan Selang Bantu Pemotor yang Kehabisan BBM, Ini Videonya

Dalam video tersebut, tampak jarak fisik itu diterapkan dengan membuat garis tanda baris kendaraan di jalan, seperti tanda start balap sepeda motor. Sepeda motor tidak boleh berdekatan tetapi harus menempatkan sesuai gambar yang ada.

"Ngapunten luuurrr......
Menawi kados niki ten jogja sae mboten njih...
(Dalam rangka jaga jarak mencegah penyebaran covid-19)
Ini ada di daerah sumatera. SUMSEL sekayu," tanya Yulianto, dalam postingannya yang diunggah pada Kamis (16/7/2020) siang.

Dalam waktu sehari, unggahan tersebut dikomentari oleh lebih dari 2,5 ribu warganet dan mendapatkan emoji lebih dari 4,2 ribu yang terdiri emoji jempol, tertawa dan emoji cinta.

Ada beragam tanggapan yang muncul, berikut di antaranya:

Captha Chasper VII: "Daya tampung media dan kendaraanya tidak sebanding."

Mantholo : "Sae pak. Malah rapi dan enak dipandang. Hanya saja kalo macet bisa lebih panjang lagi rentetannya."

Rasyella Wijaya : "Jogja macet pak kadang belok kiri jalan terus aja nungguin ijo karena banyak yg ngelanggar marka."

Taufik Wahyu Murjoko: "Jogja terlalu over load kendaraan....rentan mcet lebih panjang di belakang nya kalau di buat seeprti itu."

Ibnoe SincLair: "Apik.. Koyo Moto GP,"

X - Sangkurilang: "Skrg g usah mkr kesitu simpel j..lawong udah tau di lampu merah ada garis marka jalan aja kadang ada yg tau..mlh ada yg melewati garis marka kok mau ky gitu mlh g mgkn lah..sekarang bayakan orang buru" pengen cpt taunya lampu merah berhenti gt j...g tau apa guna dan fungsi garis marka jalan di lampumerah....itu simpel contohnya".

Dimas Rintho Prasetyo: "Bagus banget klu itu diterapkan dijogja tapi pertanyaan saya mau tahan brapa hari dan brapa jam pak pol mengatur dijalan raya dan berpanas" gitu"

Gagak Lumayung: "Gelem tertib nek bapak polisine mengarahakan...nk bapak polisine raono hambuk yakin ...mawot mawon maning ..."

Fatma Purwanti: "Klo sy sdh inisiatif sndri. Klo di kmpu mrh agk jauhan sm yg lain."

Nah, kalau menurutmu, bagaimana jika di Jogja diterapkan jarak fisik untuk pengendara di lampu merah seperti itu?