Ini Kondisi Stok Pangan di Jogja saat Pandemi

Tumpukan karung beras memenuhi kios salah satu pedagang beras di Pasar Wates pada Jumat (20/3/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
20 Juli 2020 10:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO--Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja menyatakan stok sejumlah komoditas bahan pokok di wilayah kota Jogja dalam kondisi aman. Artinya, tidak ada penurunan signifikan terhadap stok komoditas walaupun di tengah pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto menyatakan wilayah kota Jogja yang cenderung terbuka membuat stok sejumlah komoditas yang dibutuhkan masyarakat dalam kondisi yang aman. Meskipun, di tengah pandemi Covid-19.

"Ketika terbuka kan tidak mengenal pembatasan aksesibilitas transportasi. Ketika tidak ada penutupan lokus distribusi sejumlah komoditas, saya rasa tidak ada," ujar Sugeng, Jumat (17/8/2020).

BACA JUGA : Stok Pangan di Kota Jogja Dipastikan Aman

Selama lokus-lokus distribusi sejumlah komoditas memiliki stok dan tidak terganggu dalam aspek distribusinya, menurut Sugeng, penurunan komoditas dalam beberapa waktu ke depan dinilainya tidak akan terjadi.

"Semuanya berkaitan dengan aspek permintaan di masyarakat seperti apa, kalau permintaan naik mestinya suplainya akan naik," imbuhnya.

Hal tersebut juga didukung oleh tidak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah kota Jogja. Sehingga, pasokan komoditas ke sejumlah distributor berjalan dengan normal.

Berdasarkan peta pangan di wilayah kota Jogja, menurut Sugeng, tidak ada daerah yang dinilai kekurangan stok pangan. Tidak ada kesulitan bagi masyarakat untuk mendapatkan bahan pangan. Namun, yang menjadi perhatian adalah daya beli masyarakat.

BACA JUGA : Sri Purnomo: Stok Pangan di Sleman Cukup Hingga Enam

"Hal tersebut dikarenakan kemiskinan dan sebagainya. Tapi, program untuk menanggulangi itu kan juga sudah ada seperti bantuan langsung tunai saat pandemi Covid-19. Cadangan stok pangan aman, stok beras juga aman, hingga ada BLT, saya rasa tidak begitu mengkhawatirkan kalau melihat peta pangan di wilayah Jogja," jelas Sugeng.

Imbas dari Covid-19 memang berdampak terhadap peta konsumsi masyarakat. Data dari instansinya menyatakan, persentase daya beli masyarakat di Jogja turun sekitar 55 sampai dengan 10 persen.

"Karena masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 juga kan dibantu oleh program sosial dari pusat maupun dari APBD Kota. Sehingga, ketika mereka juga mendapatkan substitusi dalam hal ini seperti beras dan lainnya sehingga bisa," ungkap Sugeng.

Kepala Bulog Divre DIY, Juaheni, sebelumnya mengatakan jika ia dan jawatannya sudah melakukan pengadaan gabah untuk mengantisipasi peningkatan yang cukup signifikan terhadap kebutuhan beras di masyarakat.

"Pembelian gabah maupun beras dari petani sudah kami lakukan. Karena memang panen ini di posisi April, Mei, Juni yang cukup tinggi. Sebenarnya pada Maret lalu sudah dimulai panennya. Gabah tersebut akan disimpan agar nantinya ketika dibutuhkan akan kami proses hingga beras masih segar," ujar Juaheni.

Lebih lanjut, stok gabah yang berada di gudang Bulog divre DIY sendiri per bulan Mei lalu mencapai 20.000 ton. Stok gabah sendiri diklaimnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sisi lainnya, harga gabah dari petani juga terus dipertahankan agar tidak jatuh.

"Kalau harga memang sudah dipatok oleh Kemendag. Untuk gabah dari petani yakni Rp5.300 per kilogram. Sedangkan, untuk beras harga dari petani yang kita beli adalah Rp8.300 untuk beras medium, kalau Bulog sejak dulu tidak bisa membeli harga di bawah itu, walaupun di pasar harganya jatuh, agar petani tidak dirugikan," ungkapnya.