Identitas Nenek Viral Jualan Salak karena Dipaksa Anak Terungkap! Ternyata Warga Gamping

Kapolsek Wirobrajan Kompol Endang Sri Widiyanti saat dikonfirmasi di Mapolsek Wirobrajan, Senin (20/7/2020).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
20 Juli 2020 16:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Seorang nenek yang kedapatan berjualan di sekitar Mancasan, Wirobrajan, Kota Jogja akhirnya mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak. Salah satunya adalah Polsek Wirobrajan.

Sebelumnya, sebuah video yang akhirnya viral beredar di media sosial. Video tersebut menggambarkan seorang lansia berjualan salak di wilayah Mancasan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta dengan berjalan kaki.

Akun @infojogjaupdate me-repost story Instagram dari akun @salwaaaasb pada Minggu (19/7/2020) yang mengunggah seorang nenek yang berjualan salak di sekitar Mancasan, Wirobrajan Yogyakarta. Nenek tersebut jalan kaki hingga menuju ke Jembatan Tamansari di Jalan Letjen S. Parman Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta.

Sang nenek ternyata sudah ditunggu oleh seseorang yang diduga anaknya yang berada di Jembatan Tamansari sesaat sebelum nenek tersebut diangkut oleh seseorang yang diduga anaknya dengan kendaraan bermotor roda tiga merek Viar.

Dalam unggahan yang mendapatkan respons netizen tersebut, video yang di-repost oleh akun @infojogjaupdate dari akun @salwaaaasb tersebut terdapat tiga sesi video.

Video pertama tersebut dituliskan, "simbah ini dipaksa suruh jualan sama anaknya, tidak dikasih makan dan minum sama anaknya, sampe kelaparan di warung saya, dan tanpa dosa anaknya nunggu di motor Tossa. Kebetulan saya dapet video plat nomer Tossa dan video anaknya, akan saya post setelah ini, tolong bantu viralkan ini supaya anaknya ditindak"

Sementara itu, Kapolsek Wirobrajan Kompol Endang Sri Widiyanti mengatakan jika Polsek Wirobrajan sudah menindaklanjuti terkait dengan viralnya seorang nenek yang berjualan di sekitar Wirobrajan, Yogyakarta, dengan berjalan kaki tersebut pada Minggu (19/7/2020).

"Kami sudah menyampaikan hal tersebut kepada Danramil, Camat, di wilayah Wirobrajan supaya jika terjadi hal-hal yang seperti ini di Wirobrajan aparat bisa segera mengatasinya," ujar Endang saat dikonfirmasi di Mapolsek Wirobrajan, Senin (20/7/2020).

Bila ditemukan hal serupa, lanjut Endang, masyarakat diminta untuk segera menghubungi pihak kepolisian agar bisa dilakukan tindakan di lapangan. "Sehingga kami bisa membina atau memberikan solusi, tapi kan itu kayaknya dipekerjakan," imbuhnya.

Endang mengimbau jika masyarakat tidak berbuat hal yang serupa. Apalagi, jika orang tua tersebut orang tua kandung kita sendiri.

"Janganlah menggunakan orang tua, simbah-simbah itu wayahe istirahat, apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, lansia kan rentan terpapar," jelasnya.

Polsek Wirobrajan juga sudah mengantongi identitas nenek lansia yang kedapatan menjual salak sebanyak dua bungkus plastik tersebut.

"Simbahnya atas nama Mbah Sudi (S) sedangkan anaknya atas nama Priyono (P). Tempat tinggalnya sendiri di wilayah Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman," jelasnya.

Polsek Wirobrajan juga sudah berkoordinasi dengan Polsek Gamping. Polsek dibawah komando Endang tersebut juga sudah berkoordinasi dengan Polda DIY bagian Ditbinmas.

"Karena tempat tinggalnya di Gamping, kami langsung berkoordinasi dengan Polsek Gamping. Pembinaan oleh Polsek yang bersangkutan diharapkan untuk dilakukan," terangnya.

Sementara itu, salah satu warga Mancasan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Sujasno, 66, mengatakan jika Mbah Sudi yang menjual salak di sekitar rumahnya yang berada di dekat jembatan Tamansari tersebut sudah sekitar satu bulan berjualan salak dengan berjalan kaki dan ditunggui oleh pria yang diduga anaknya di jembatan Tamansari.

"Bukan warga sini, tapi saya juga ndak tahu warga mana, tapi dia ditunggui oleh seseorang di jembatan pakai motor merek Viar, biasanya keliling, dan nanti kalau sudah selesai dinaikkan ke motor Viar tersebut," ujar Sujasno, saat dikonfirmasi di depan rumahnya yang sekaligus dijadikan warung tersebut, Senin (20/7/2020).

Mbah Sudi, lanjut Sujasno, memang lumayan sering menjajakan salaknya. Biasanya Mbah Sudi hanya menjual dua kantong plastik berisikan salak.

"Biasanya mulai dari jam 11.00 atau 12.00 siang sudah datang ke sini menjajakan dagangannya ke kios-kios maupun orang di sekitarnya," terangnya.

Sujasno sebenarnya miris melihat keadaan Mbah Sudi yang sudah lansia namun masih harus menjual buah salak di tengah teriknya Matahari. "Orangnya itu (Mbah Sudi) agak bungkuk," tutupnya.