Gelombang Laut Selatan Gunungkidul Capai 5 Meter, SAR Lakukan Antisipasi

Kondisi di Pantai Indrayanti, Tepus, Kecamatan Tepus bersih setelah diterjang gelombang tinggi, Sabtu (9/5/2020). - Ist/ Dok SAR Satlinmas Wilyaah II DIY
20 Juli 2020 09:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, TANJUNGSARI – Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II DIY, Marjono memastikan gelombang setinggi lima meter yang menerjang kawasan pesisir selatan tidak sampai menimbulkan kerusakan. Meski demikian, masyarakat yang berada di kawasan pantai diminta untuk berhati-hati agar terhindar dari musibah kecelakaan laut.

“Puncaknya kemarin [Sabtu 18/7]. Memang ada kenaikan gelombang, namun semua aman terkendali,” kata Marjono, Minggu (19/7/2020).

BACA JUGA : Hati-Hati! Pantai Selatan DIY Akan Diterjang Gelombang

Menurut dia, tidak adanya kerusakan tidak lepas dari antisipasi yang dilakukan relawan. Sebelum adanya kenaikan tinggi gelombang, para nelayan maupun pedagang sudah diberikan informasi berkaitan dengan ancaman gelombang tinggi. Selain itu, pada saat terjadi puncak kondisi laut sedang surut sehingga tidak berdampak signifikan.

“Untuk saat ini sudah terpantau landai. Tapi, tetap harus waspada agar tidak menjadi korban kecelakaan laut,” katanya.

Marjono menuturkan, tim SAR akan terus mengingatkan para wisatawan maupun nelayan yang berakitivitas di laut. Untuk nelayan diminta membawa alat perlindungan diri seperti jaket pelampung saat menangkap ikan. Pelampung ini, kata dia, sangat bermanfaat saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena bisa menjadi penyelamat saat dalam kondisi darurat.

BACA JUGA : Ombak Pantai Selatan Mengganas, Perahu Nelayan

“Untuk pengunjung jangan bermain di area yang berbahaya seperti rip current [arus balik air laut] sehingga terhindar dari laka laut. Kami akan terus mengingatkan pada saat ada yang bermain di area berbahaya, baik melalui pengeras suara atau teguran secara langsung,” katanya.

Ketua Kelompok Nelayan Baron, Sumardi mengatakan, adanya geombang tinggi sempat mengganggu aktivitas penangkapan ikan. Meski demikian, ia tidak mempermasalahkan karena fenomena itu memang sering terjadi hampir setiap tahun.

“Harapan kami agar tangkapan bisa melimpah sehingga pendapatan nelayan bisa maksimal,” katanya.

Disinggung mengenai pantauan di laut, Mardi mengakui terus berkoordinasi dengan petugas SAR. Ia mencontohkan, pada saat ada prakiraan tentang kenaikan gelombang pasti akan ada informasi ke nelayan. Selain itu, nelayan juga sering melakukan pembaharuan data terkini tentang kondisi laut melalui gawai yang dimilki.

“Setiap empat jam, BMKG melakukan pembaharuan data gelombang, jadi nelayan memanfaatkan smartphone yang dimiliki untuk pemantauan,” katanya.