Kisah Wisatawan: Berjam-jam Urus Surat Demi ke Malioboro

Wisatawan Malioboro. - Catur Dwi Janati.
22 Juli 2020 12:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA --Malioboro tengah bergeliat perlahan. Satu persatu wisatawan dari lokal hingga luar daerah kini mulai berdatangan.

Di depan sebuah lapak kaos beraneka rupa, seorang pria dan dua perempuan sedang asik memilih. Mencermati tiap detail, untuk bisa dibeli dan dibawa pulang. Pria itu bersama Agung Haryanto. Ia bersama istri dan anak perempuannya, memang tengah sibuk memilih kaos-kaos dengan kutipan khas Malioboro.

Masih lengkap dengan masker kain yang dikenakannya Agus mulai bercerita, bagaimana segala persiapan hingga ribetnya liburan di kala pandemi. Persiapan dimulai saat Agus memutuskan pesawat menjadi moda transportasi yang digunakannya untuk mengangkut ia dan keluarganya dari Kalimantan Selatan untuk berlibur. Diberlakukannya wajib membawa surat keterangan sehat membuat ia dan keluarganya bergegas jalani Rapid Diagnostic Test (RDT).

BACA JUGA : Tak Pakai Masker, Wisatawan di Malioboro Diusir Petugas 

Agus memang tidak bercerita detail, tentang fasilitas kesehatan yang ia gunakan untuk melakukan tes. Namun menurut pengakuan Agus, dibutuhkan satu jam hingga hasil pemeriksaan cepat itu keluar.

"Saya kan berlima, jadi masing-masing sejam ya lima jam," ujarnya.

Praktis untuk mempersiapkan secarik kertas yang digunakan untuk surat jalan tersebut Agus butuh waktu nyaris satu hari.

Menanggapi aturan wajib surat Rapid untuk perjalanan tersebut, menurut Agus banyak warga yang keberatan jika ia menyaksikan respons masyarakat dia televisi. "Tapi karena warga ini membutuhkan, untuk perjalanan, mau enggak mau, dengan terpaksa mereka harus [RDT], berapa pun biayanya bayar," keluhnya.

Agus pun harus merogoh koceknya untuk biaya tambahan pemeriksaan tes.

 "Karena kita butuh, butuh sekali mendapatkan surat itu," tambahnya.

Berangkat dari Kalimantan Selatan, Agus tak lantas turun di Jogja. Dia, terlebih dahulu mendarat di Surabaya. Dari sana lah kemudian Agus melanjutkan perjalanan ke Jogja menggunakan bus. Namun diakui Agus, saat mengendarai bus, surat Rapid tidak diperiksa lagi. Surat tersebut hanya digunakan Agus dan keluarganya saat hendak lepas landas dari bandara.

BACA JUGA : Langgar Protokol di DIY, Wisatawan Terpaksa Dipulangkan

Berbekal surat Rapid yang dia kantongi, Agus punya waktu 14 hari kedepan sejak surat itu diterbitkan hingga tidak berlaku lagi. Kalau sudah begitu, Agus kudu keluarkan anggaran lagi untuk lakoni tes Rapid.

"Ini saya baru nyampai, berarti berjalan tiga hari," jelasnya.

Rencananya Agus akan pulang Selasa (21/7) atau enam hari semenjak surat Rapid miliknya diterbitkan.

Apa yang diceritakan Agus baru dari segi syarat perjalanan surat Rapid, belum lagi soal piranti wajib selama pandemi yakni masker. Bahkan agar tidak lupa tidak membawa masker ia mempersiapkan banyak masker agar tidak ketinggalan. Terlebih bila tidak membawa masker di Kota Jogja, bukan tidak mungkin Agus bakal kena sanksi berupa denda Rp100.000.

"Sampai-sampai saya tuh supaya enggak kelupaan saya beli satu dus masker, supaya ya kita harus mengikuti [aturan] kewajiban," tuturnya.

Jujur, Agus mengaku cukup terganggu dengan pengunjung di Malioboro yang masih ada yang tidak menggunakan masker. Namun menurutnya hal itu tergantung kesadaran masing-masing individu, karena tidak mungkin juga baginya untuk mengingatkan langsung orang yang tidak bermasker. "Kalau dia, mereka, tidak mau pakai-pakai [masker] seperti itu ya harus siap dengan risikonya," paparnya.

BACA JUGA : Tidak Bermasker, Pengunjung Malioboro Diminta Pulang 

Meski kerepotan dengan segala persiapan baru ini, hal itu terlibas oleh tekadnya untuk ingin mengunjungi Malioboro. "Karena tujuan dari dulu ya Malioboro ini," ungkapnya.

Segala persiapan Agus mempersiapkan ini itu supaya tetap aman dalam liburan selama pandemi tampaknya tidak dilakukan semua orang. Salah satu pengunjung Malioboro dari luar kota yang enggan disebut namanya mengaku mengendarai bus umum dari Jakarta menuju Jogja, secara blak-blakan tidak mengantongi surat izin apapun.

"Menurut saya sih enggak penting, kalau kaya gitu, maksudnya Kalau surat sehat bisa beli, kayanya semuanya jadi diuangkan gitu," ujarnya.

"Padahal kan kita sendiri udah dalam keadaan susah gitu, maksudnya jangan dibuat makin ribet," katanya.

Ia menambahkan sebagai pekerja, dia rutin melakukan medical check up selama dua tahun. Setiap delapan bulan pun iamengaku selalu cek kesehatan. "Jadi saya yakin aja gitu, enggak tahu kenapa saya yakin aja saya sehat," tambahnya.

"Terlalu ribet kalau misalnya kita harus pergi keluar kota itu harus bawa surat sehat kalau buat saya sih," ungkapnya.

Dalam kunjungannya ke Jogja, ia hanya seorang diri tanpa teman maupun rombongan. Menurut penjelasannya, bus yang ia tumpangi sudah menerapkan sistem jaga jarak sehingga tiap kursi hanya digunakan satu orang.

Ia  khusus datang ke Jogja hanya untuk menikmati suasana Jogja yang menurutnya klasik dan dihuni orang-orang yang ramah. Menurutnya tidak terganggu dengan orang yang tidak memakai masker di Malioboro.

"Enggak [terganggu] sih, mungkin kepercayaannya dia aja, dia yakin dia enggak akan kenapa-kenapa, Corona itu kan dari kita juga kan, kalau kitanya terlalu khawatir juga enggak bagus kan, jadi ya udah biasa aja," ujarnya. Menurut Ensa yang terpenting dia sudah berusaha melindungi dirinya dengan menggunakan masker dan cuci tangan.

Wisatawan Lokal

Selain kedatangan wisatawan lokal, Malioboro juga tetap menjadi favorit destinasi wisata bagi wisata lokal DIY. Dari tiga warga asal DIY yang diwawancarai Reporter Harianjogja.com, mereka semuanya membawa masker bahkan lengkap dengan Hand Sanitizer. Salah satu wisatawan lokal yang telah bersiap dengan protokol berwisata di tengah pandemi ialah Andin Ardifa.

Andin yang masih bersekolah mengaku membawa masker dan hand sanitizer setiap pergi, termasuk saat berkunjung ke Malioboro. Bahkan dirinya mengaku setiap bepergian dari kerumunan selalu cuci tangan sebelum masuk ke rumah.

Wisatawan lokal lainnya yang tengah kedapatan mengikuti protokol kesehatan yakni Raditya Bimantara. Dia yang mengunjungi Malioboro bersama istri anaknya taat menggunakan masker. Bahkan anaknya yang berusia di bawah lima tahun ia ajari menggunakan masker.

BACA JUGA : Alana Bagikan Masker Gratis di Malioboro 

"Awalnya sih enggak mau pertama, tapi kita coba bagaikan caranya tetap pakai masker," ujarnya.

Alhasil berbekal masker dengan gambar yang lucu, anaknya pun sekarang mau menggunakan masker. Raditya mengaku membeli banyak masker anak dengan gambar yang lucu-lucu agar anaknya mau pakai masker.

Berwisata memang menjadi salah satu obat mujarab pelepasan penat. Orang-orang bahkan rela jauh-jauh datang ke Jogja untuk menikmati suasana. Pariwisata juga menjadi penggerak ekonomi yang menjalani salah satu tumpuan Jogjakarta. Namun agaknya sudah menjadi kewajiban bersama untuk setiap wisatawan mengikuti peraturan yang berlaku di suatu wilayah. Maka, roda ekonomi tetap bergerak, kesehatan masyarakat pun tetap terjamin.