Ada Pandemi Covid-19, Penggunaan Air oleh Warga Jogja Meningkat 10%

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
27 Juli 2020 04:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Selama pandemi Covid-19, penggunaan air oleh masyarakat berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh PDAM Tirtamarta Kota Jogja di wilayah kota Jogja mengalami kenaikan berkisar dari 5 sampai dengan 10 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Kota Jogja Majiya mengatakan jika fenomena tersebut dikarenakan pada saat awal pandemi Covid-19 di bulan Maret hingga Mei masyarakat banyak berkegiatan di dalam rumah.

Baca juga: Puluhan Motor Knalpot Blombongan Terjaring Razia

"Salah satu faktornya adalah banyak masyarakat yang diminta untuk work from home," ujar Majiya, Minggu (26/7/2020).

Meningkatnya penggunaan air, lanjut Majiya, juga didukung oleh penggunaan air sumur yang dimiliki oleh warga di masing-masing rumah. Adapun, sumur-sumur tersebut berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh PDAM Tirtamarta Kota Jogja sebanyak 32.000 titik sumur.

"Banyak rumah tangga yang memiliki itu [sumur], banyaknya sumur di wilayah kota Jogja juga sebanding dengan pelanggan PDAM Tirtamarta yang berjumlah sekitar 32.000 pelanggan. Artinya 50 - 50 ya," jelasnya.

Baca juga: DIY Terasa Lebih Dingin Daripada Musim Hujan, Ini Penyebabnya..

Meningkatnya penggunaan air juga menjadi latar belakang PDAM Tirtamarta Kota Jogja untuk mengimbau agar masyarakat makin sadar jika air merupakan kebutuhan pokok yang harus diperhatikan ketersediannya.

"Air merupakan kebutuhan vital. Oleh karena itu, masyarakat kami imbau untuk memperbanyak biopori dan sumur-sumur peresapan itu penting sekali kehadirannya, jadi jangan dicor semua," ungkap Majiya.

Untuk menjaga distribusi air baik dari segi kesehatan dan kelancaran, PDAM juga melakukan perbaikan terhadap pipa yang dinilai sudah tidak layak digunakan. Pasalnya, usia pipa yang sudah eksis sejak zaman kompeni dan materi pipa yang berupa asbes tidak baik bagi kesehatan tubuh manusia.

Perbaikan pipa perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirtamarta Kota Jogja yang dilakukan dari simpang empat Wirobrajan sampai dengan Jembatan Sayidan menelan biaya sebesar Rp8,4 miliar.

Majiya sebelumnya mengatakan jika pipa yang dimiliki oleh instansi yang dikepalainya tersebut sudah eksis sejak zaman Belanda pada tahun 1918.

"Nah baru dilakukan penggantian pada tahun ini, penggantian dilakukan secara bertahap dari dukungan pemerintah Kota Jogja melalui penyertaan modal," ujar Majiya.

Anggaran sebesar Rp8,4 miliar tersebut digunakan untuk memperbaiki pipa milik PDAM mulai dari simpang empat Wirobrajan sampai dengan Jembatan Sayidan dengan jarak sekitar 2,2 kilometer. Pengerjaan pergantian pipa sendiri sudah dilakukan sejak Januari awal tahun 2020 lalu.

"Tahun depan rencananya akan dilakukan kembali perbaikan dari jembatan Sayidan sampai ke Gembiraloka ke arah timur," ungkap Majiya.

Penggantian pipa tersebut dikarenakan PDAM Tirtamarta Kota Jogja masih menggunakan PDAM pipa ACP (Asbestos Cement Pipe) atau disebut dengan pipa asbes. Asbes dinilai sangat berbahaya untuk kesehatan karena dapat menyebabkan penyakit, seperti halnya penyakit kanker.

"Asbes juga berdasarkan kajian yang dilakukan oleh world health organization (WHO) tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan sehingga tahun 2018 kami (PDAM Kota Jogja) mengajukan penyertaan modal ke Pemkot Jogja didukung oleh DPRD sehingga penggantian pipa baru bisa dilakukan tahun ini," jelasnya.

Penggantian pipa, lanjut Majiya, akan dilakukan secara bertahap oleh PDAM Tirtamarta Kota Jogja. PDAM Kota Jogja paham betul penggunaan asbes tidak mendukung aspek kesehatan manusia.

"Tentunya perbaikan terus berjalan dan juga melihat kondisi keuangan perusahaan dan APBD nantinya akan dilakukan penggantian mulai dari Bedog sampai dengan Wirobrajan," jelas Majiya.