Cermat dan Peka Hadapi Ancaman Bencana ala Danang Samsurizal

Danang Samsurizal. - Istimewa
01 Agustus 2020 19:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pandemi Covid-19 yang menambah deretan ancaman bencana di DIY membuat Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Danang Samsurizal, 48, harus ekstra cermat membuat taktik dan selalu peka terhadap kebutuhan lapangan masyarakat dan para sukarelawan.

Sebagai seorang pemimpin, di benak Danang, jam kerja adalah tujuh hari 24 jam. Terlebih saat pandemi Covid-19 merebak di DIY.

Menurutnya, sebagai sosok yang bekerja di bidang kemanusiaan dia tak boleh absen hadir mendampingi dan mengawasi para sukarelawan yang kini bekerja keras 100 kali lipat di lapangan.

“Bencana dan situasi darurat tidak kenal tanggal muda atau tanggal tua, tidak peduli apakah itu hari Senin atau Minggu. Apalagi sekarang ada pandemi, ini menambah jenis ancaman bencana di DIY. Total saat ini, DIY punya 13 ancaman. Otomatis penanganan tanggap darurat di DIY akan lebih sibuk,” kata Danang kepada Harianjogja.com di Kantor Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, Sabtu (18/7/2020).

Saat ditemui Harian Jogja, Sabtu pagi, Danang mengenakan rompi seragamnya dengan rapi, satu persatu sukarelawan hilir mudik masuk ke ruangannya mengoordinasikan kegiatan lapangan. Akibatnya Danang harus berkali-kali izin jeda wawancara demi kepentingan sukarelawan.

Bahkan Danang sempat kedatangan tamu yang mengadu permasalahan lapangan terkait kekurangan ambulans. Dengan seksama, Danang mendengarkan kecemasan mereka dan memberi ruang diskusi untuk solusi terbaik.

Tamu dan sukarelawan yang secara bergantian menemuinya untuk berkoordinasi adalah aktivitas yang ia lakoni sehari-hari. “Di saat seperti ini kami harus solutif. Jadi prinsipnya jangan hanya bicara aturan. Kalau ada masyarakat di lapangan minta tolong, jangan hanya dibalas dengan ‘tapi aturannya seperti ini’. Tidak bisa. Lebih tepat ‘aturannya seperti ini memang, tapi coba, ada cara ini’, ini bicara juga soal rasa dalam berkomunikasi,” kata Danang.

Keputusan Cepat

Saat ini, Danang memimpin ratusan staf dan sukarelawan untuk melaksanakan tanggap darurat penanganan pandemi. Menurut dia, penanganan pandemi di DIY juga tak bisa mengesampingkan ancaman bencana lainnya seperti aktivitas Gunung Merapi, kekeringan di Gunungkidul, dan juga gempa bumi. Semua penanganan bencana harus berjalan selaras.

Dia tak memungkiri pandemi menyebabkan adanya banyak penyesuaian dalam penanganan kebencanaan. Meskipun saat ini DIY aman dari bencana alam, Danang merasa harus selangkah lebih maju.

Danang pun membayangkan sebuah skenario di benaknya. Di tengah hiruk pikuk para sukarelawan membantu masyarakat dalam penanganan pandemi, tiba-tiba aktivitas Gunung Merapi meningkat menjadi waspada. “Jika dari BMKG [Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika] ada peringatan Merapi statusnya gawat, hanya ada 20 menit buat ambil keputusan apakah warga harus diungsikan atau tidak. Dan tentunya naungan pengungsi tidak akan sama. Harus ada protokol jaga jarak. Ini tantangan besar bagaimana protokol kesehatan tetap diterapkan di tengah situasi panik dan genting,” kata Danang.

Strategi Cermat

Di tengah kesibukannya, kini dia terus memikirkan strategi penanganan untuk situasi tersebut.

Pandemi, aktivitas Gunung Merapi, gempa bumi dan kekeringan membuat Danang harus cermat mengatur taktik, termasuk strategi pembagian sumber daya sukarelawan di lapangan. Tak hanya itu, dia berprinsip harus selalu peka terhadap kebutuhan di lapangan, baik itu dari masyarakat, instansi lain, dan para sukarelawan.

Oleh karena itu, sebagai middle management, Danang memosisikan diri dengan seimbang sebagai sosok yang memantau dan turun langsung ke lapangan. Masih segar dalam ingatannya, perjalanan seharian penuhnya menuju ibu kota pada Maret dan April lalu saat menjemput reagen test senilai miliaran rupiah.

“Saya waktu itu nyetir sendiri, saat kondisi sedang genting-gentingnya, memang saya merasa harus turun langsung. Tanggung jawab besar dan penting untuk saya hadir bersama sukarelawan agar mereka aman dan tenang menjalankan tugas mereka,” kata Danang.

Tak hanya itu, Danang pun merasakan betapa rumitnya proses penjemputan jenazah positif Covid-19, betapa gerahnya tubuh saat dibalut alat pelindung diri (APD), atau bagaimana rasanya ketika dia bernafas, kacamata pelindung berembun dan mengaburkan pandangan.

Dari pengalaman itu Danang makin sadar, dia harus menyediakan alat-alat dan fasilitas yang terstandar untuk mendukung pekerjaan dan kesehatan para sukarelawan.

“Sebagai seorang pemimpin, saya tunjukkan dan tidak hanya omong. Sesekali saya terjun ke lapangan. Tetapi di sisi lain saya juga percaya kemampuan staf. Harus seimbang antara mengawasi dan memberi contoh,” kata Danang.