Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi jalan tol./JIBI-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, JOGJA-Izin Penetapan Lokasi (IPL) tol trase Jogja-Solo telah terbit dan pengerjaan fisik akan segera dimulai 2021 mendatang, yang kemudian disusul dua trase lainnya, yaknni Jogja-Bawen dan Jogja-Cilacap. Digadang-gadang membawa pertumbuhan ekonomi, sejumlah pihak menyangsikan hal ini.
Kepala Divisi Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia, Darmaningtyas, menuturkan melihat tol yang sudah ada seperti Trans Jawa, kondisinya cenderung sepi. “Hanya digunakan kendaraan pribadi. bus dan truk tidak menggunakan karena mahal,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Kendaraan pribadi yang menggunakan tol pun terbatas, baru ramai di akhir pekan atau musim liburan. Minimnya penggunaan tol untuk angkutan industri ini tentu tidak sesuai tujuan dibangunnya tol yakni untuk efisiensi mobilitas ekonomi.
Jika tujuannya untuk memperlancar pergerakan orang dan barang kata dia, Jogja sebenarnya telah memiliki jaringan kereta api yang cukup bagus. Saat ini, elektrifikasi KRL kutoarjo sampai solo sedang dikerjakan. Elektrifikasi ini menurutnya bisa mengoptimalkan Kereta Pramek yang sekarang melayani Solo-kutoarjo karena akan menjadi KRL di Jakarta.
“Kalau elektrifikasi itu jalan dan kapasitas jaringan KA Solo-Kutoarjo bisa ditingkatkan, untuk apa kita membangun tol? Termasuk kalau menuju bandara baru [YIA] sudah dilayani jaringan kereta, kenapa harus membangun tol?” ungkapnya.
Pembangunan tol juga bisa memunculkan persoalan. Meski diklaim minim penggusuran, tetap ada persoalan ekologi, salah satunya adalah ditebanginya pohon di median jalan sehingga mengakibatkan kondisi udara jogja akan semakin panas “Ini persoalan yang tidak banyak dipahami oleh masyarakat sehingga tidak peduli pada dampak pembangunan tol ini.” Katanya.
BACA JUGA: Sudah 57 Nakes di Bantul Positif Covid-19, Dinkes Evaluasi Total
Peneliti Institute For Development of Economic And Finance (Indef), Bima Yudhistira, mengungkapkan pembangunan tol di Indonesia seharusnya menurunkan biaya logistik karena menghubungkan satu titik ke titik lain.
“Dilihat dari yang sudah ada, tol tidak banyak dipakai pengusaha untuk menurunkan ongkos logistik karena masih cukup mahal. Lebih banyak pakai jalan arteri di luar tol. Hal ini lah yang kemudian membuat traffic tol rendah,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam membangun tol Presiden Joko Widodo cenderung meniru konsep di Cina karena dianggap berhasil menuurunkan biaya logistik dan menghubungkan produsen di desa. Sayangnya peniruan ini tidak melihat aspek ekonomi lainnya.
Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan Cina. Jika Cina wilayahnya adalah daratan, maka cocok jalan menggunakan tol. sementara Indonesia wilayahnya adalah kepulauan. Kita butuh konektivitas laut, tapi tol laut pun dinomorduakan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Sebanyak 114 korban Kapal Virgo Transport 8 ditemukan, 108 selamat dan 6 meninggal. Sebanyak 129 orang masih dalam pencarian.
KK perlu diperbarui setelah menikah, cerai, kelahiran hingga perubahan data. Simak 8 kondisi, syarat, dan cara mengurusnya.
Gen Z mulai meninggalkan sapaan “halo” saat mengangkat telepon. Kebiasaan ini dipengaruhi komunikasi digital dan kekhawatiran penipuan AI.
Longsor Aceh Tengah menewaskan 1 warga dan melukai 13 orang. Material lumpur menutup sejumlah jalan dan merusak empat rumah warga.
Badan Geologi mencatat 11 gunung api erupsi hingga 7 September 2026. Gunung Ibu mencapai 25.556 kali erupsi.