Pengelola Wisata di Jogja Diminta Hindari Jabat Tangan Saat Menyambut Wisatawan

Simulasi penerapan protokol kesehatan di pintu masuk objek wisata Kalibiru, Senin (29/6/2020) - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
06 Agustus 2020 06:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Dinas Pariwisata DIY mengimbau agar pengelola destinasi wisata untuk menghindari salaman dengan berjabat tangan. Upaya tersebut dilakukan dalam rangka menghindari terjadinya penularan Covid-19.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo mengatakan jika upaya tersebut adalah seiring dengan momentum pandemi Covid-19. Sehingga, pihaknya mengimbau agar pengelola destinasi wisata tidak melakukan aksi jabat tangan dalam rangka menyambut wisatawan.

Baca juga: Rektor UNY Sutrisna Wibawa Khawatirkan Keselamatan Anak Mencari Sinyal

"Jadi kita tidak berjabat tangan, maka kemudian kita melakukan dengan seperti ini (sambil mencontohkan gerakan Namaste dengan menyatukan kedua telapak tangan dan mengarahkannya di dada)," ujar Singgih, Rabu (5/7/2020).

Sementara itu, salam akan digantikan dengan Namaste. Namaste adalah gestur salam dengan menyatukan kedua telapak tangan dan mengarahkannya di dada.

Upaya salam dengan menyatukan kedua tangan diakui oleh Singgih sebelumnya sudah ia dan jajarannya diskusikan dengan sejumlah pihak. Upaya tersebut agar terjadi keseragaman dalam kebijakan yang nantinya akan disosialisasikan kepada pengelola destinasi wisata.

Baca juga: Hotel di Jogja Sudah Bergeliat! Okupansi Capai 70%

"Ini merupakan hasil diskusi kami dengan sejumlah budayawan dan juga melibatkan Kraton Ngayogyakarta. Salam ini (dengan mencotohkan gerakan Namaste) juga merupakan penghormatan juga," terang Singgih.

Lebih lanjut, untuk greeting kepada pengunjung maupun wisatawan sendiri Dinas Pariwisata akan mengambil unsur Bahasa Jawa. Upaya tersebut diharapkan agar dilakukan oleh pelaku pariwisata seiring dengan diterapkannya adaptasi kebiasaan baru (AKB).

"Kalau sore seperti ini ya Sugeng Sonten sambil mengaplikasikan gerakan menyatukan kedua tangan. Ini merupakan ciri khas yang nantinya akan digunakan oleh pelaku wisata di DIY. Semuanya di Jogja nanti akan menerapkannya," sambung Singgih.

Pihaknya terus berupaya untuk membumikan protokol baru kepada pelaku wisata dalam menyambut wisatawan yang datang ke destinasi wisata yang ada di DIY. "Upaya tersebut kami terus lakukan agar pelaku wisata lama-lama terbiasa," imbuhnya.

Adapun, kunjungan wisatawan ke wilayah DIY memang belum begitu masif. Ditambah, Pemda DIY sendiri menyatakan jika masa tanggap darurat penanganan Covid-19 masih berlangsung hingga akhir Agustus.

Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Malioboro, Ekwanto sebelumnya menjelaskan jika kunjungan di Malioboro masih berada di angka ratusan orang. Belum mencapai angka ribuan, kecuali kunjungan pada malam Minggu.

"600 sampai dengan 700 kunjungan itu belum normal. Kecuali malam Minggu ya, kalau weekend itu bisa sampai ribuan orang," ujar Ekwanto, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, kunjungan wisatawan di Malioboro sebelum pandemi sendiri bisa mencapai ribuan orang per harinya. Namun, setelah adanya pandemi Covid-19 kunjungan di Malioboro hanya mencapai ratusan orang per harinya.

"Kalau sebelum pandemi Covid-19 normalnya bisa mencapai 5.000 wisatawan yang datang per harinya, angka tersebut kalau normal ya, tidak ada pandemi Covid-19," terangnya.

Jumlah 600 sampai dengan 700 kunjungan ke Malioboro tersebut murni merupakan angka kunjungan dari wisawatan. Di dalamnya, tidak termasuk para pedagang kali lima yang berjualan di sekitar Malioboro.

"Kunjungan wisatawan di hari-hari biasa masih didominasi oleh wisatawan asal Jogja, kalau malam Minggu itu (kunjungan wisatawan) banyak juga dari luar DIY," sambung Ekwanto.