Ditemukan Coklit Asal-Asalan di Gunungkidul, Bawaslu Buka Posko Pengaduan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
06 Agustus 2020 11:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, WONOSARI–Bawaslu Gunungkidul membuka posko pengaduan berkaitan dengan proses pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih Pilkada 2020. Diharapkan masyarakat mau melaporkan terkait dengan proses pendataan yang tidak sesuai dengan aturan.

Anggota Bawaslu Gunungkidul, Rosita mengatakan, proses pemutakhiran data pemilih menjadi salah satu yang krusial dalam penyelenggaraan pilkada. Oleh karenanya, bawaslu berkomitmen melakukan pengawasan terkait dengan tahapan ini.

“Kami akan terjun ke lapangan untuk pengawasan. Selain itu, juga membuka posko pengaduan yang bisa diakses oleh masyarakat,” kata Rosita kepada wartawan, Rabu (5/8/2020).

BACA JUGA : Temukan Coklit Asal-Asalan, Bawaslu Gunungkidul Minta 

Menurut dia, posko pengaduan tidak hanya di kantor Bawaslu. Pasalnya, pelayanan ini juga dibuka di 18 kapanewon di Gunungkidul. “Memang belum ada aduan yang masuk, tapi kami akan terus sosialisasikan ke masyarakat. Jika memang belum terdaftar atau melihat petugas yang tidak bekerja secara professional bisa dilaporkan ke posko,” katanya.

Rosita mengungkapkan, proses coklit masih akan berlangsung hingga 13 Agustus mendatang. adapun hasil pengawasan dari bawaslu menemukan sejumlah masalah, salah satunya berkiatan dengan kinerja petugas coklit yang kurang professional.

“Saya langsung sidak sendiri dan menemukan petugas coklit yang tidak bekerja dengan baik,” katanya.

Dia pun meminta kepada seluruh pengawas di tingkat desa maupun kecamatan untuk terus melakukan pengawasan terhadap proses coklit di lapangan. Rosita juga mengimbau apabila menemukan temuan harus dilengkapi bukti pendukung yang lengkap. Sebagai contoh, jika menemukan petugas coklit yang tidak turun lapangan harus ada saksi dari masyarakat yang didokumentasikan sehingga ada bukti yang kuat.

“Minimal ada video pengakuan dari warga, sehingga tidak asal tuduh karena memang ada buktinya,” imbuh Rosita.

Sebelumnya Bawaslu Gunungkidul menemukan petugas pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih yang bekerja tidak professional alias asal-asalan. Tindak lanjut temuan ini, bawalu meminta pendataan ulang terhadap Proses Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).

BACA JUGA : Coklit Data Pemilih Dilakukan dengan Protokol Kesehatan 

Anggota KPU Gunungkidul, Asih Nuryanti mengatakan, pihaknya kembali mengingatkan kepada petugas coklit tentang pakta integritas yang telah ditandantangani sebelum bertugas. Menurut dia, pakta ini harus benar-benar dilaksanakan karena menjadi acuan utama dalam tugas di pilkada.

“Aturannya sudah jelas, petugas harus professional dan bekerja sesuai regulasi. Jadi, itu yang harus dipegang,” katanya.

Menurut Asih, memang ada rekomendasi dari bawaslu terkait dengan kinerja petugas coklit. Hanya saja, temuan tersebut tidak bisa dijadikan dasar bahwa seluruh pendataan berjalan tidak baik.

“Dari 1.907 petugas, yang dilaporkan hanya tiga petugas. Jadi, secara umum proses masih berjalan dengan baik. Memang di lapangan ada temuan, tapi kami juga berusaha untuk melakukan perbaikan dalam kinerja,” katanya.