Pesan Kerabat Korban Tenggelam di Gua Cemara

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
10 Agustus 2020 17:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Seluruh warga Kecamatan Tempel, Sleman yang menjadi korban laka laut di Pantai Gua Cemara, Bantul akhirnya ditemukan menyusul korban terakhir mengapung di perairan Gunungkidul pada Senin (10/8/2020) pagi. Jenazah itu berhasil diidentifikasi Tim DVI Polda DIY sebagai korban terakhir bernama Ahmad Chairul Fatah, 4.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol. Yuliyanto menuturkan dengan ditemukannya jenazah di perairan antara Pantai Baron dan Pantai Drini Gunungkidul pada Senin pagi, Tim DVI Polda DIY telah mengidentifikasi lima korban laka laut yang ditemukan sejak Jumat (7/8/2020) hingga Senin.

"Jenazah DVI No. 24/RS/005 yang ditemukan oleh nelayan di Pantai Drini, Gunungkidul teridentifikasi sebagai Achmad Choirul Fatah melalui ciri-ciri medis dan properti pada jam 11.45 WIB," kata Yuliyanto.

Penemuan ini melengkapi pencarian ketujuh korban yang terseret ombak di Pantai Gua Cemara, Bantul pada Kamis (6/8/2020) pagi lalu. Dua korban yaitu Ulli Nur Rahmi, 28, dan Ahmad Nur Fauzi, 30, dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia tak lama seusai terseret ombak pada Kamis pagi.

Kemudian M. Fazir Zakir A, 8, ditemukan meninggal dunia pada Jumat malam di Pantai Pandansimo. Sehari setelahnya, tiga korban ditemukan dengan jarak waktu yang tak begitu lama berselang, yaitu M. Riski Romadhon, 7, Joko Widodo, 38, dan M. Zidan Apdori, 7.

Secara terpisah, Pengurus Pondok Pesantren As-Salam Kerisan, Banyurejo, Tempel, KH Ashari Zainal Abidin menuturkan jenazah terakhir akan dimakamkan di tempat yang sama dengan keenam jenazah yang sudah ditemukan terlebih dahulu yaitu di makam keluarga di Pondok Pesantren Krakitan, Salam, Magelang. Sebelum dibawa ke sana, jenazah terlebih dahulu dibawa ke rumah duka di Dusun Glagahombo, Pondokrejo, Tempel, Sleman.

Pria yang selama ini menjadi kerabat dekat keluarga korban laka laut ini berharap dengan adanya peristiwa ini bisa menjadi kesadaran bagi masyarakat untuk berhati-hati jika bermain di pantai. Musibah yang menimpa keluarga ini ia harap menjadi yang terakhir kalinya.

"Saya terima kasih pada semua pihak. Mohon disiarkan lewat media untuk menjadi peringatan bersama bahwa di laut harus hati-hati. Laut selatan lain dengan laut yang lain. Media mohon sampaikan bahaya laut selatan ini, sehingga tidak ada musibah lagi di laut selatan, ini terakhir kalinya," ungkap Ashari kepada awak media di rumah duka di Glagahombo, Pondokrejo, Tempel, Senin (10/8/2020).

Pada Minggu (9/8/2020) malam, Ashari mengaku mengajak keluarga Joko Widodo ke lokasi kejadian. Di sana, ia berdoa supaya korban terakhir segera ditemukan. "Kami berdoa supaya segera ditemukan, supaya tidak hancur jasadnya," kata dia. Beruntung, pada Senin pagi doa itu dikabulkan lewat nelayan yang menemukan sesosok mayat mengambang di perairan Gunungkidul.

Seolah Berpamitan

Keluarga Joko Widodo, kata Ashari, merupakan santri yang biasa mengaji bersamanya. Baik Joko dan ketiga anaknya rutin mengaji dengan kelompok pengajian yang diasuhnya. Sesekali, pengajian itu diselenggarakan di rumah Joko di Karanggawang, Mororejo, Tempel.

Pada pertemuannya yang terakhir dengan Joko beberapa hari yang lalu, Ashari kembali diminta membuka pengajian di Karanggawang. Namun, ia merasa ada perilaku yang berbeda kali ini lantaran Joko menghadapkan ketiga anak tertuanya kepada dia untuk didoakan menjadi anak yang soleh.

"Saat itu saya kaget, ketiga anaknya dibawa ke depan saya, mohon didoakan supaya jadi anak yang soleh. Saya kaget, kok seperti pamitan. Baru terasa setelah terjadi. Saat itu nggak membahas hal lainnya, karena lanjut mengaji," ungkap Ashari.

Dengan kejadian ini, ia berharap keluarga yang ditinggalkan oleh ketujuh mendiang bisa meneruskan perilaku baik yang dilakukan semasa mereka hidup. Perlu diketahui, kematian Joko Widodo beserta istri dan ketiga anaknya meninggalkan anak terakhir yang selamat dari tragedi itu seorang diri.

Anak bungsu itu diketahui baru berusia sekitar dua tahun. "Yang bungsu akan dirawat kakak Pak Joko di Dukun, Magelang, yaitu Pak Bambang," kata dia.

Sementara itu, Ahmad Nur Fauzi meninggalkan istri dan dua anak. M. Zidan Apdori, 7, menurut Ashari juga bukan anak kandung Fauzi, melainkan santri. "Dia [Zidan] dari luar daerah, ikut Fauzi sejak kecil untuk mengaji, karena dia [Fauzi] hafiz," imbuhnya.