Cegah Solar Tumpah di Jalan Jogja-Wonosari, Polisi Periksa Truk
Satlantas Polres Gunungkidul memeriksa tutup tangki BBM truk untuk mencegah tumpahan solar dan risiko kecelakaan di jalur Jogja-Wonosari.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Warga Nglegi, Kapanewon Patuk menuntut dua pamong kalurahan mundur dari jabatannya. Tuntutan diajukan karena aksi pencatutan nama warga menjadi pendukung bakal pasangan calon independen yang diduga dilakukan kedua pamong.
Buntut dari pencatutan ini, ratusan warga melakukan unjuk rasa di depan balai kalurahan, Kamis (13/8/2020). Koordinator aksi, Amri Nugroho mengatakan, aksi dilakukan karena warga tidak terima namanya terdaftar sebagai pendukung bapaslon independen. Padahal, kata dia, warga tidak pernah memberikan surat pernyataan dukungan kepada pasangan tersebut. “Total ada sekitar 2.900 identitas yang dicatut,” kata Amri kepada wartawan, kemarin.
Menurut dia, hasil dari penelusuran yang dilakukan diduga pencatutan terjadi karena ulah dari dua pamong di Kalurahan Nglegi. Atas temuan ini, warga pun membuat aksi menuntut kedua pamong mundur dari jabatannya. “Satu berstatus sebagai pamong atas nama Sudiyono dan Wartono selaku Kepala Dusun Gendoro,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tuntutan mundur diajukan karena warga kecewa dengan perilaku dari kedua pamong yang berbuat seenaknya dalam hal pencarian dukungan untuk bapaslon independen.
“Kami juga akan menempuh jalur hukum,” kata Amri.
Di sisi lain, Pamong Kalurahan Nglegi, Sudiyono mengatakan dirinya siap mengikuti proses hukum. Meski demikian, ia menolak apabila diminta mundur dari jabatannya tersebut. “Saya tetap akan mengabdi sesuai dengan ketugasan yang saya miliki,” katanya.
Disinggung mengenai pencatutan nama untuk dukungan bapaslon independen, Sudiyono mengakui perbuatan tersebut. “Saya sudah buat surat pernyataan yang dilengkapi dengan tandatangan berkaitan dengan pencatutan tersebut,” katanya.
Lurah Nglegi, Wasdiyanto mengatakan, atas permasalahan ini sudah membaut mediasi antara warga dengan kedua pamong. Hasil dari pengakuan keduanya saat mediasi, pencatutan dilakukan karena motif ekonomi. “Data diambil dari database komputer yang ada di kalurahan,” katanya.
Menurut dia, untuk tuntutan mundur dirinya tidak bisa berbuat banyak karena keduanya ngotot tidak mau mundur meski ada desakan dari masyarakat. “Kita ikuti mekanismenya saja. Yang jelas, saya tidak serta merta bisa memberhentikan pamong dengan sembarangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satlantas Polres Gunungkidul memeriksa tutup tangki BBM truk untuk mencegah tumpahan solar dan risiko kecelakaan di jalur Jogja-Wonosari.
SKK Migas menargetkan proyek Gas Mako Natuna berproduksi 111 MMscfd dalam dua tahun dan memasok kebutuhan listrik Batam.
KAI Daop 6 Yogyakarta membuka pemesanan tiket kereta keberangkatan 1 Desember 2026 melalui Access by KAI mulai 1 November.
Polri akan mendalami keluhan penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran di Sukoharjo melalui mekanisme pengawasan internal, termasuk Propam.
Anggota DPRD Sleman Respati Agus Sasangka menindaklanjuti keluhan sampah di Pasar Cebongan dengan mengusulkan penggunaan insinerator dan optimalisasi mesin komp
Gowes Jogjaversitas 2026 di UII diikuti pimpinan PTS DIY dan Jateng untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergi antarkampus.