Pusat Kuliner Pasar Bantul Gunakan Transaksi Non Tunai

Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad (kedua dari kiri) bersama Bupati Bantul Suharsono (kiri) dan Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta (kanan) saat menunjukan cara pembayaran non tunai melalui aplikasi QRIS di Pusat Kuliner Pasar Bantul lantai II, Jumat (14/8/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
14 Agustus 2020 19:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - PT Bank BPD DIY bersama Pemerintah Kabupaten Bantul terus berupaya mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bangkit meski di tengah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Salah satunya memfasilitasi pelaku UMKM menggunakan layanan non tunai lewat QR Code Indonesia Standar (QRIS).

Ada 22 kios kuliner di lantai II yang diresmikan oleh Bupati Bantul Suharsono bersama BPD DIY, Jumat (14/8/2020). Lantai II Pasar Bantul tersebut sebelumnya mangkrak bertahun-tahun, namun kini disulap menjadi pusat kuliner yang ramai. Selain itu di lantai III pasar rakyat itu juga kini menjadi Co Working Space.

Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad mengatakan kuliner menjadi kebutuhan pokok bagi semua orang sehingga jika pelaku usaha kuliner ini bisa berjalan di tengah pandemi maka akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di masyarakat. Salah satu cara agar pelaku usaha kuliner tetap jalan dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Kalau ekonomi tumbuh dan masyarakat terbiasa melakukan aktivitas sesuai SOP penanganan Covid-19, Insyaallah antara ekonomi dan pencegahan Covid itu akan berjalan beriringan sehingga ekonomi bangkit dan masyarakat maju dan bantul maju, Insyallah ekonomi tumbuh pelan pelan,” kata Santoso, saat peresmian pusat kuliner di lantai II Pasar Bantul.

Ia menilai pusat kuliner di Pasar Bantul sangat potensial untuk berkembang, terlebih Bantul juga merupakan pusatnya kuliner bahkan sampai pelosok. Agar tetap eksisi di masa pandemi ini, maka perlu adanya terobosan. Salah satu tersobosan adalah dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 melalui pembayaran non tunai.

Pihaknya memfasilitasi pelaku usaha kuliner tersebut dengan menerapkan sistem pembayaran QRIS. Tersobosan itu dilakukan mengingat transaksi tunai menjadi salah satu potensi kerawanan penularan Covid-19. Dengan penerapan transaksi non tunai membuat masyarakat maupun pelaku usaha merasa aman. Dengan demikian ekonomi akan bangkit secara perlahan.

Pemimpin BPD DIY Cabang Bantul, Arief Budiman menambahkan QRIS merupakan sistem pembayaran non tunai. Semua pelaku usaha kuliner di Bantul diakuinya sudah menggunakan QRIS, bahkan sejumlah pedagang sayuran di lantai dasar juga sudah menggunakannya. “Pembeli cukup menggunakan android untuk bayar. Semua sudah kita QRIS-kan. Pembeli makanan disini cashless. Uang tunai potensi penularan Covid,” kata dia.

Selain memfasilitasi para pelaku UMKM dengan QRIS, BPD DIY juga menyiapkan dana kredit bagi pelaku UMKM dan pedagang pasar melalui dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Ekonomi Daerah.

Arief mencatat dari semua data kredit di Bantul sebanyak 40% adalah untuk pengusaha kecil dan menengah sesuai visi bank plat merah tersebut dalam memajukan UMKM. Sementara sisanya adalah kredit umum dan konsumtif. Sebenarnya, kata dia, target kredit pelaku usaha adalah 50% dan umum 50%. Dengan demikian masih ada peluang banyak penyaluran kredit untuk diserap. Nilai total kredit adalah Rp1,10 triliun, “Harapkan setelah pandemi berakhir ada semacam daya ungkit sehingga umkm berkembang dan kredit produktif berkembang lagi,”

Bupati Bantul Suharsono berharap keberadaan pusat kuliner Pasar Bantul dan BCL akan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk datang berbelanja di Pasar Bantul, sehingga nantinya menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kualitas kesejahteraan para pedagangnya serta dapat menjadi salah satu destinasi ikonik.

“Terlebih posisi Pasar Bantul yang berada di jantung kota yang merupakan jalur utama menuju bandara, tentunya menjadi harapan besar kami bahwa tempat ini akan menjadi pusat kuliner yang mengesankan bagi masyarakat luas yang melintas,” kata Suharsono

Suharsono meminta para pedagang menjaga kebersihan kios, menjaga tampilannya, menyajikan makanan yang bersih, higienis, dan sehat, dan tidak lupa menyediakan fasilitas protokol kesehatan, sehingga dengan demikian tujuan utamanya untuk wisata kuliner yang aman dan aman akan dapat terwujud.

“dalam melayani pembeli selalu gunakan alat pengaman standar sesuai protokol kesehatan seperti masker dan sarung tangan, selalu cuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas, untuk penyajian gunakan alat makan yang benar benar bersih atau bisa juga dengan menggunakan alat makan yang sekali pakai. dan jangan lupa berikan pelayanan yang ramah kepada setiap pembeli yang datang,” ucap Suharsono.