Gaok Berbunyi, Aktivitas Malioboro Berhenti Lima Menit

Pengunjung dan warga Malioboro menghentikan aktivitas untuk menyaksikan gaok di Pasar Beringharjo berbunyi, Senin (17/8/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah\\n
18 Agustus 2020 00:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Setiap daerah memiliki cara unik tersendiri untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Di Jogja, pada detik-detik proklamasi dibunyikan gaok atau sirine yang tersebar di sejumlah titik.

Malioboro terlihat riuh pagi itu, dipadati oleh pengunjung di sepanjang pedestrian dan berbagai kendaraan di jalan, Senin (17/8/2020). Wisatawan dan masyarakat Jogja tampak menikmati suasana Malioboro sebagai pilihan berlibur di momen long weekend itu.

Baca juga: Malioboro Padat Merayap, Sultan Geram Soal Penjagaan

Matahari mulai meninggi dan lalu lintas Malioboro sedang padat-padatnya, ketika gaok yang terletak tepat di atas Menara di selatan Pasar Beringharjo meraung tanpa ampun. Bunyinya lebih mirip suara helicopter ketimbang sirine ambulance atau peringatan kebakaran.

Beberapa saat pengunjung Malioboro di sekitar Pasar Beringharjo kaget dan bingung mencari-cari sumber suara yang cukup keras itu, hingga akhirnya mereka menemukan sumber itu setelah melongok keatas. Gaok di atas menara itu nampak berputar-putar seperti hendak menyebarkan kabar seluas-luasnya.

Mendengar gaok ini, pengunjung dan warga Malioboro lainnya menghentikan aktivitas. Tukang becak yang tengah duduk bersantai keluar dari becaknya, pengamen menghentikan nyanyiannya, para pedagang menghentikan transaksinya.

Baca juga: Penghuni Baru Indekos di Danurejan Mencurigakan, Ditemukan Sudah Meninggal

Sementara polisi yang sudah disiagakan di jalan, menghentikan lalu lintas saat itu juga. Mobil, motor, becak, andong, semua berhenti selama gaok itu berbunyi. Dalam kondisi seperti itu, Sebagian pengunjung menghambur ke jalan untuk menyaksikan lebih jelas gaok bekerja.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan setahun sekali ini, para pengunjung pun meraih handphone masing-masing dan mengabadikan momen ini, menyorot kamera handphonenya ke arah gaok maupun ke arah kerumunan di sekitarnya untuk menangkap suasana waktu itu.

Setelah sekitar lima menit meraung, putaran gaok mulai melambat dan bunyinya melemah, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Polisi Kembali membuka jalan, menginstruksikan kendaraan untuk Kembali melanjutkan perjalanannya dan membubarkan pengunjung yang masih di tengah jalan. Para pengunjung Kembali pada aktivitasnya masing-masing.

Pukul 10.17 WIB, tepat 75 tahun lalu teks proklamasi dibacakan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang menandakan kemerdekaan Indonesia dari jajahan Jepang maupun Belanda. Pembunyian gaok ini menjadi penanda sekaligus penghormatan momen heroik itu.

Ketua Panitia Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-75 DIY, Tri Saktiyana, menjelaskan Jogja memiliki gaok yang tersebar ke sejumlah titik diantaranya Pasar Beringharjo, Plengkung Gading, Jalan Hayam Wuruk, Tugu Jogja dan eks Bioskop Permata. Gaok tersebut rutin dibunyikan setiap tahun di jam dan hari pembacaan proklamasi kemerdekaan RI.

“Di Jakarta detik-detik proklamasi diperingati dengan penembakan meriam dan sirine ambulance. Di Jogja, karena kita memiliki gaok di sejumlah titik, kita bunyikan itu. Kita bunyikan sebagai penanda supaya historisnya terulang kembali,” ujarnya.

Ia mengungkapkan gaok telah dipasang ke sejumlah titik itu sejak zaman Belanda. Pada mulanya, gaok digunakan untuk memperingatkan masyarakat ketika terjadi kegentingan semisal ada serangan udara atau semacamnya, agar masyarakat bersiap menyelamatkan diri. Hingga saat ini, gaok-gaok itu masih berfungsi dengan baik.

Kali ini pembunyian gaok agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya gaok dibunyikan tepat saat upacara bendera sedang berlangsung di Gedung Agung. Tahun ini, upacara dilakukan lebih pagi, pukul 07.00 WIB dengan peserta terbatas dan protokol kesehatan.