Komunitas Ini Berbagi Kebahagiaan lewat Buku

Anak-anak pengunjung perpustakaan jalanan di Tugu Jogja yang digagas oleh Komunitas Akar Rumput, belum lama ini. - Istimewa
20 Agustus 2020 09:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Buku adalah jendela dunia. Sayangnya hingga kini masih banyak kalangan yang susah mengakses buku. Hal itulah yang menjadi spirit Komunitas Akar Rumput untuk selalu mengajak masyarakat mendistribusikan buku secara merata ke seluruh pelosok negeri.

Beberapa mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) berdiskusi panjang soal minimnya ruang diskusi tentang berbagai tema buku di Kota Jogja. Jika pun ada, aksesnya hanya bisa didapatkan oleh kalangan terpelajar.

Itulah sebabnya, mereka pun berinisiatif membentuk sebuah komunitas yang spiritnya adalah merangsang ruang-ruang yang lebih lebar bagi siapapun untuk membaca buku. Tak hanya ruang untuk membaca, mereka juga berkomitmen untuk menciptakan ruang-ruang diskusi bertema literasi yang bisa diakses oleh kalangan yang selama ini tak tersentuh: akar rumput.

Akhirnya pada 10 Oktober 2015, mereka memutuskan membentuk komunitas yang lantas mereka beri nama Komunitas Akar Rumput dengan slogan Mengakar Kuat Memberi Manfaat. Para mahasiswa pascasarjana ini berasal dari bidang pendidikan yang berbeda-beda. Mereka mengumpulkan buku-buku yang mereka miliki dan dikumpulkan di sebuah lapak yang berada di sekitar Tugu Pal Putih Jogja.

“Kami pilih Tugu Jogja [Tugu Pal Putih] karena di sana adalah tempat bertemunya seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya pelajar saja. Bahkan di sana banyak anak-anak pedagang asongan atau penjual angkringan yang bermain sambil menunggu orang tua mereka cari rezeki,” kata Dwi Kusnanto, salah satu anggota Komunitas Akar Rumput kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Nanto, sapaan akrab Dwi Kusnanto, menjelaskan anak-anak itu kemudian diajak oleh anggota membaca buku di lapak. Tentunya buku yang diberikan masih sesuai dengan usia mereka. Misalnya dongeng dan buku pengetahuan umum tingkat sekolah dasar atau taman kanak-kanak.

Secara garis besar, komunitas ini memiliki kegiatan yang dimiliki komunitas membaca pada umumnya. Seperti misalnya perpustakaan jalanan yang mereka dirikan di area sekitar Tugu Pal Putih Jogja, di mana masyarakat boleh mampir membaca buku di lapak mereka. Masyarakat juga boleh mendonasikan buku-buku yang mereka miliki.

Akan tetapi anggota komunitas selalu ingin mendistribusikan ke daerah-daerah yang terpencil. Maka komunitas ini menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dengan mengikuti program bagi buku yang diadakan oleh pemerintah.

Setiap setahun sekali, mereka mengirim buku ke Perpusnas untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia, terutama daerah terpencil. “Senang sekali kami setiap bisa bagi-bagi buku ke seluruh Indonesia. Di sini pokoknya kami berbagi kebahagiaan, berbagi ilmu, jadi kami tidak mengarah ke ideologi tertentu. Buku yang tersedia di kami juga macam-macam dengan berbagai bidang pendidikan,” kata Nanto.

Diskusi Terbuka

Pun sesekali mereka mengadakan diskusi di perpustakaan jalanan Komunitas Akar Rumput. Biasanya tema buku dan diskusi disesuaikan dengan bidang pendidikan anggota yang ditunjuk menggelar diskusi. Diskusi bebas dihadiri siapapun tanpa dipungut biaya.

Diskusi ini acap dihadiri oleh mahasiswa, wisatawan dengan berbagai usia mulai dari 20 tahun hingga 50 tahun, pedagang sekeliling, hingga anak-anak. Oleh karena itu Tugu Jogja masih menjadi tempat yang sering digunakan untuk menggelar lapak buku dan diskusi. “Biasanya topik yang dibahas dan buku yang didiskusikan itu juga tergantung berita yang sedang aktual. Kami selalu berprinsip kami ini berbagi kebahagiaan, maka di akhir acara diskusi nanti peserta dapat suvenir berupa buku atau makanan ringan,” kata Nanto.

Selama pandemi, kegiatan perpustakaan jalanan ditiadakan. Sebagai gantinya, pengunjung setia lapak mereka dipersilahkan mengontak komunitas melalui media sosial apabila ingin membaca buku koleksi mereka. Nantinya mereka akan diarahkan ke alamat sekretariat, yaitu rumah anggota yang memiliki buku yang mereka cari.

“Kami juga masih terima buku sumbangan. Kalau ada yang mau sumbangkan bukunya bisa ke kami, nanti buku-bukunya kami jemput di rumah donatur. Kami juga akan salurkan buku-buku itu ke teman-teman yang membutuhkan,” kata Nanto.

Bahkan rencananya, komunitas ini bakal menggelar open recruitment anggota, tetapi sejak pandemi rencana tersebut tertunda. Nanto menjelaskan komunitas ini terbuka bagi siapapun asalkan calon anggota mencintai buku dan memiliki tujuan berbagi kebahagiaan melalui buku.