Sejarawan Peter Carey Buktikan Kraton Jogja Tak Ada Hubungannya dengan Turki Utsmani

Kraton Jogja. - Harian Jogja
21 Agustus 2020 19:37 WIB Hery Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sejarawan asal Inggris, Peter Carey membantah adanya hubungan antara Kesultanan Islam Jawa dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, Turki. Bantahan tersebut datang berdasarkan korespondensinya dengan ahli sejarah hubungan Turki Utsmaniyah - Asia Tenggara, asal Medeniyet University, Istanbul, Ismail Hakki Kadi.

Sejarawan yang lahir di Yangoon, Myanmar itu tak menyampaikannya secara langsung kepada awak media. Asisten penelitinya, Christopher Reinhart menulis sejumlah tweet sebagai perpanjangan tangan Peter Carey.

“Saya Christopher Reinhart, sebagai asisten peneliti Prof. Peter Carey, ingin meneruskan, atas permintaan Prof. Carey, informasi lanjutan mengenai klaim adanya hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultanan Islam di Jawa di dalam Film “Jejak Khilafah di Nusantara” yang sempat mencatut namanya,” tulisnya melalui akun Twitter pribadi, Rabu, (19/8/2020).

Berdasarkan hasil korespondensinya itu ia mengatakan tak ada bukti maupun dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang mampu menunjukkan pernah adanya kontak antara Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak (1475 - 1558) selaku negara Islam pertama di Pula Jawa. Khususnya, raja pertamanya, Raden Patah yang bertakhta selama kurun waktu 1475 - 1518.

Sementara itu, asisten peneliti Peter Carey lainnya, Feureau Himawan Sutanto juga mengatakan Kesultanan Islam di Jawa yang dimaksud juga meliputi Kraton Jogja.

“Iya, termasuk Kraton Jogja. Kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis, (20/8/2020).

Feureau Himawan Susanto juga bersedia menghubungkan Harianjogja.com dengan Peter Carey. Maksud dan tujuannya untuk mengulas lebih jauh soal bukti yang menegaskan bahwa Kraton Jogja tidak pernah memiliki hubungan dengan Turki Utsmani.


Kendati tak pernah menjalin hubungan, Peter Carey tak menyangkal jika banyak orang Jawa yang jatuh kagum dengan Kesultanan Utsmaniyah saat berkuasa pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Salah satu di antaranya ialah Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro, sebut Peter banyak memperoleh inspirasi dari Kesultanan Utsmaniyah. Buktinya bisa dilihat dari sejumlah penamaan pasukan dan pangkat keperwiraan yang ala Turki.

“Bulkio berasal dari bahasa Turki bölük = regu) untuk pasukan elit paswal-nya, dan penggunaan pangkat Turki - Ali Pasha ("Pasha Agung") untuk panglimanya, Sentot Ali Basah, Pasha (Basah/Komandan Senior) dan Dullah (Komandan Junior) untuk perwira lapangannya,” ujarnya.

Ada kemungkinan inspirasi penamaan itu didorong karena orang-orang Jawa yang pergi Haji dan kemudian mendapat pengalaman militer saat tinggal di Haramain (istilah untuk menyebut dua kota suci, Mekkah dan Madinah). Di sana mereka berguru dengan para Ustaz yang ahli di bidang teologi Islami dan hukum.

Kadang kala, demi memperoleh uang untuk pulang ke Jawa, mereka turut ikut mengabdi bersama pasukan Utsmaniyah yang saat itu menguasai Haramain usai menaklukan Wahabbi.

Pangeran Diponegoro mengambil nama Sultan Kanjeng Ngabdulhamid. Nama tersebut terinspirasi dari Abdulhamid 1, seorang Sultan Utsmaniyah yang bertakhta antara tahun 1774 - 1789.
Abdulhamid 1 boleh dikatakan sosok yang penting. Ia merupakan yang pertama kali membangkitkan lagi klaim Utsmaniyah sebagai Khilafah yang melindungi Ummat Muslim di seluruh dunia.

Penjelasan di atas, kata Peter Carey tak serta merta menegaskan hubungan antara Kesultanan Islam di Jawa dan penguasa Turki. Jika bicara sebatas kekaguman orang Jawa terhadap praktik Utsmaniyah, memang, banyak bukti yang mampu menjelaskannya. Hanya saja, catatan maupun arsip Turki Utsmaniyah tidak ada yang menyebut bahwa para Sultan di Jawa dan Jogja khususnya, merupakan Wakil Kesultanan Utsmaniyah.

“Di dalam arsip Turki Utsmaniyah sama sekali tak ada catatan yang menandakan kalau para penguasa Turki dan pemerintah di sana mengetahui tentang apa yang terjadi di Jawa ataupun bahkan tentang nama Diponegoro, apalagi mengirimkan bantuan material ataupun moril untuk mendukung perjuangannya,” katanya.

Upaya meluruskan sejarah ini begitu penting baginya. Sebagai sejarawan, Peter Carey mengaku harus berpatokan teguh terhadap sumber sejarah. Setiap kisah masa lampau ada baiknya terbebas dari karangan serta informasi yang tidak terdapat di arsip sejarah.

Selain itu, penafsiran sejarah yang berdasarkan arsip valid juga sangat penting guna menghindari bangsa Indonesia dari sejarah khayalan. Adapun Peter Carey memberi contoh, yakni intepretasi sejarah yang dikemukakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia [HTI] dan kaum khilafis.

“Semua ini sangat penting diketahui agar orang Indonesia mengenal sejarahnya yang sebenarnya dan bukan sejarah yang dimanipulasi hasil karangan pada khilafis,” katanya.

Sejarah, lanjutnya patut diperiksa terus menerus. Bila banyak orang yang menyebut bahwa Turki Utsmaniyah punya hubungan dengan masa perjuangan Aceh pada abad ke-19, tak serta berlaku juga buat Jawa. Pasalnya, tak ada Arsip Turki Utsmani yang mampu memaparkan kondisi Jawa pada tahun 1475 - 1908.

Pernyataannya juga bertautan dengan rencana penayangan film berjudul “Jejak Khilafah” yang menurut Peter Carey mengandung dusta dan dikemas dengan sudut pandang sejarah palsu. Ia sendiri, sebelumnya telah bersikeras menolak dihubungkan dengan produksi film tersebut.