Penelitian: 98 Persen Pelepasan Nyamuk Wolbachia Tak Berisiko dan Kasus Demam Berdarah Berkurang

Profesor Adi Utarini. - Ist.
22 Agustus 2020 15:27 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Rangkaian Festival Inovasi Wolbachia bertajuk Sains untuk Kemanusiaan telah dimulai sejak 12 Agustus 2020) lalu.

Webinar seri ke-2 dengan topik pembahasan “Hasil Pelepasan di Skala Terbatas dan Analisis Risiko” yang berlangsung pada 19 Agustus 2020 ini, menyorot hasil pelepasan nyamuk di skala terbatas pada 2014 silam serta analisis risiko serta strategi pelibatan masyarakat yang dilakukan oleh WMP Yogyakarta, yang kala itu bernama EDP (Eliminate Dengue Project) Jogja.

Team Leader WMP Yogyakarta Warsito Tantowijoyo menjelaskan hasil pelepasan skala terbatas nyamuk ber-Wolbachia di 4 dusun Kabupaten Sleman dan Bantul menunjukkan nyamuk mampu bertahan hidup di lingkungan alami dan berhasil berkembang biak.

"Saat ini, diperkirakan nyamuk ber-Wolbachia sudah mencapai 100 generasi yang berhasil berkembang biak. Hampir 100% keturunannya mengandung Wolbachia,” jelas Warsito dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (22/8/2020).

Ia menambahkan keturunan nyamuk ber-wolbachia dihasilkan melalui jalur ibu. Ketika nyamuk betina mengandung bakteri wolbachia, maka keturunannya mengandung wolbachia. Kunci dari keberhasilan inovasi ini adalah kemampuan nyamuk wolbachia kawin dengan nyamuk lokal.

Entomolog Institut Pertanian Bogor Damayanti Buchori menambahkan penelitian yang dilakukan WMP Yogyakarta, selama 30 tahun ke depan memiliki dampak negatif yang sangat kecil. “Kami melihat risiko ini dari dua komponen, antara peluang yang akan terjadi, dikali dengan konsekuensi," katanya.

Dari hasil analisis dampak risiko yang dilakukan, lanjutnya, ditemukan 98% pelepasan nyamuk Wolbachia tidak menimbulkan risiko. Risiko ini dilihat dari berbagai aspek, seperti ekologi, ekonomi, sosio kultural, kesehatan, serta mosquito management efficacy.

Citra Indriani Epidemiologis WMP Yogyakarta, menyampaikan pihaknya mengirim petugas pemantau kasus DBD di semua daerah yang disebari nyamuk wolbachia. Setiap hari ada satu staf yang didedikasikan untuk mengecek dari rumah ke rumah untuk melihat kemungkinan ada warga yang mengeluh demam. Pihaknya juga menggunakan surveilans pasif diambil dari hasil laporan yang diterima rumah sakit ataupun puskesmas dari pasien yang datang.

"Data dari surveilans aktif dan pasif menunjukkan bahwa ada penurunan kasus yang berarti dari tahun 2014 ke tahun 2017,” katanya.

Pada sesi kedua webinar, Prof. Adi Utarini Peneliti Utama WMP Yogyakarta, memaparkan strateginya dalam melakukan pendekatan ke masyarakat. Pendekatan awal yang dilakukan untuk fokus pada warga adalah melalui persetujuan individual di beberapa daerah di Sleman. Selanjutnya menggunakan persetujuan komunitas di daerah Bantul, di mana komunitas pada level Rukun Tetangga (RT) yang disasar.

"Saya kira semua peneliti sepakat bahwa permohonan persetujuan warga bukan sekedar prosedur administratif, dan juga bukan prosedur yang melindungi peneliti jika terjadi sesuatu. Saya yakin, peneliti akan memastikan setiap individu di masyarakat untuk mendapatkan informasi yang memadai, sehingga keputusan setuju atau tidaknya," ujarnya.

Masyarakat penerima manfaat Herman Budi Pramono, Kepala Desa Trihanggo. Herman menceritakan pengalaman yang dialami warga Desa Trihanggo saat awal pelepasan nyamuk Wolbachia dilakukan di Dusun Kronggahan. Memang sempat terjadi pro kontra di warga.

Pihaknya merespon masyarakat yang kontra dengan pelepasan nyamuk melalui sosialisasi dari WMP Yogyakarta tetap dilaksanakan, dengan tujuan agar masyarakat memahami tujuan dari penelitian ini.

“Saya menjelaskan kepada warga, dengan berpartisipasi dalam penelitian ini, kita ini sudah ikut berjuang memerangi demam berdarah. Saat program ini berhasil maka kita setidaknya sudah berkontribusi bagi umat manusia di dunia,” kata Herman.

Hingga saat ini, masyarakat Dusun Kronggahan, Desa Trihanggo, sudah merasakan manfaat dari pelepasan nyamuk Wolbachia. Terbukti angka demam berdarah di daerah tersebut sudah jauh berkurang.