Jadi Klaster Corona, Pengunjung Soto Lamongan XT Square Sehari 100-an Orang

Ilustrasi. - Freepik
31 Agustus 2020 19:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pengunjung soto Lamongan di depan XT Square mulai melapor satu per satu, setelah warung kaki lima itu dinyatakan jadi klaster penularan Covid-19.

Satu demi satu rentetan penularan klaster Soto Lamongan depan XT Square mulai terkuak. Satu demi satu pembeli mulai melapor ke layanan kesehatan terdekat guna memutus rantai penularan.

Awalnya seorang pedagang Soto Lamongan diketahui positif melalui hasil Swab. Selanjutnya dari hasil Tracing, bertambah 10 orang 6ang dinyatakan positif. Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan hingga Senin (31/8/2020) sebanyak 25 orang kontak erat kasus Soto Lamongan jalani swab atau uji usap. Dari jumlah tersebut, 11 dinyatakan positif, delapan dinyatakan negatif, dan enam orang lainnya masih menunggu hasil laboratorium.

"Kasus ini membuat kita harus melakukan Tracing kepada 10 [tambahan kasus] ini kemana saja interaksinya, kita coba untuk Tracing lalu untuk lakukan blocking," tambah Heroe. Disebutkan Heroe, mayoritas pasien positif dari klaster Soto Lamongan merupakan pasien asymptomatic atau tanpa gejala. "Ada 10 orang yang isolasi mandiri, satu orang yang dirawat di rumah sakit," imbuhnya.

Tercatat tiga orang telah melaporkan diri sebagai pembeli soto Lamongan dalam kurun waktu Agustus ini. Heroe menyebutkan dua orang mengaku makan di tempat sementara satu orang mengaku membeli soto namun di bungkus. "Mereka teindikasi, besok dijadwalkan akan diperiksa," ujar Heroe.

Jumlah pelapor sebagai pembeli mulai banyak yang masuk, Heroe memaparkan ada rombongan pesepeda dan pembeli lainnya yang telah melapor selain tiga pembeli tadi. "Kita arahkan mereka untuk melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan," tambahnya.

Banyak masyarakat yang mengaku sebagai pembeli soto Lamongan tidak mengejutkan. Heroe mengutarakan bahwa dalam sehari di masa pandemi seperti ini, warung tersebut setidaknya menghabiskan lima kilogram daging atau setara sampai 100 orang pembeli tiap harinya. Sehingga Heroe menganjurkan bagi warga yang membeli soto dalam kurun 14-25 Agustus untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan.

Situasi penyebaran membuat area RT tempat tinggal pedagang soto Lamongan di wilayah Pandeyan terpaksa melakukan lockdown lokal. Bukan tanpa sebab, pasalnya dari 11 orang positif dari klaster Soto Lamongan merupakan keluarga dan karyawan yang tinggal satu rumah.

Camat Umbulharjo, Rumpis Trimintarta tak menampik bahwa atas musyawarah di tingkat wilayah, maka disepakati area RT tempat pasien klaster Soto Lamongan terpaksa diberlakukan keluar masuk satu pintu. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir mobilisasi orang keluar masuk dan mempermudah pengawasan pasien. "Ya ada petugas di wilayah yang melakukan pengawasan terhadap pasien yang isolasi mandiri, tidak bisa 24 jam tapi kita koordinasi lewat handphone dari salah satu pasien yang dituakan di rumah itu," jelasnya.

Selama lockdown lokal, Rumpis menerangkan bahwa logistik disiapkan secara swadaya masyarakat dan diberikan oleh Dinsos. Sementara pemberian multivitamin dan madu diberikan puskesmas setempat.

Rumpis juga memikirkan nasib anggota keluarga lainnya yang dinyatakan negatif. Pasalnya dalam rumah tersebut memang menjadi tempat tinggal keluarga besar. Pihaknya pun berencana menyewa rumah untuk ang keluarga yang dinyatakan negatif. "Saya kira lebih mudah mendapatkan rumah untuk yang negatif ketimbang yang positif, harus membawa ke sana ke mari," jelasnya.

Beberapa tempat telah diprospek jadi tempat tinggal sementara bagi keluarga yang negatif, salah satunya gedung sekolahan. "Ada gedung sekolahan yang baru jadi dan belum terpakai," ujarnya. Kendati demikian agaknya warga yang bersangkutan sudah tertangani.