Berbulan-bulan Hilang karena Corona, "Hantu" Tugu Kembali Muncul & Gentayangan

"Hantu" yang biasa diajak berfoto oleh pengunjung Tugu Pal Putih, Kota Jogja, Jumat (4/9/2020). - Harian Jogja/Hery Setiawan
05 September 2020 09:27 WIB Hery Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbulan-bulan menghilang karena pandemi Corona, “pocong” dan “hantu biarawati” kembali muncul dan bergentayangan di kawasan Tugu Jogja. Mereka bangkit lagi, menemani malam-malam pengunjung yang datang ke kawasan ikonis di Jogja.

Kamis (3/9/2020) malam atau malam Jumat kemarin seharusnya jadi saat yang dinantikan para “hantu” itu.

Bagi Kartono, 26, salah satu anggota Komunitas Hantu Tugu Jogja, malam Jumat adalah waktu yang tepat untuk menciptakan peruntungan. Bersama teman-temannya ia akan berubah menjadi “hantu” menyeramkan. Mereka akan berdiri di bawah Tugu Jogja sambil menerima ajakan berfoto para pengunjung.

BACA JUGA: Penuhi Persyaratan, Kuda Maharsa Bertekad Sapu Bersih Semua Kecamatan di Pilkada Sleman

Sayang sekali, hujan mengguyur sedari petang hingga malam. Kartono dan teman-teman tak bisa bekerja. Terpaksa, mereka lalui malam Jumat kemarin dengan bertahan di dalam rumah.

“Akhirnya kami libur dulu,” kata Kartono saat ditemui Harian Jogja, Jumat (4/9/2020).

Dewi fortuna pun berpihak kepada Komunitas Tugu Jogja sehari setelahnya. Kendati langit sempat kelabu pada sore hari, tak ada hujan yang jatuh malam itu. Kartono akan datang ke Tugu Jogja, berdandan layaknya hantu di tengah keramaian dan hilir mudik kendaraan.

BACA JUGA: Messi Terpaksa Bertahan di Barcelona meski Menderita, Ini Pernyataan Lengkapnya

Kartono menjadi hantu biarawati. Wajahnya putih, matanya hitam. Penampilannya mirip seperti Valak, tokoh hantu yang terkenal berkat film horor arahan James Wan, The Conjuring (2013).

Bertolak belakang dengan citra Valak yang menyeramkan, Kartono justru pribadi santai dan kocak. Kepada Harian Jogja, ia menceritakan bahwa Komunitas Hantu Tugu Jogja sudah ada sejak tahun 2014. Lebih tepatnya dua hari setelah Erupsi Gunung Kelud.

Awalnya cuma iseng-iseng. Kartono tak mengira penampilannya justru mengundang perhatian. Banyak orang yang mengajaknya foto. Tak sedikit pula yang memberi uang. Sejak itulah, Kartono menjadikan “hantu” sebagai mata pencaharian utama.

BACA JUGA: Sido Maju, Pendaftaran Babe Kental dengan Nuansa Adat dan Tradisi

Selama enam tahun, Kartono nyaris tak menemui kendala. Hingga tiba pandemi Covid-19 pada awal Maret lalu. Kartono terpaksa harus menghentikan kegiatannya sebagai hantu jalanan. Larangan itu mulanya bersifat sementara. Namun, seiring pertambahan kasus positif infeksi Corona di DIY, larangan itu pun bertahan lama.

Selama kurang lebih enam bulan, Kartono nyaris tak punya pekerjaan. Pekerjaannya sebagai hantu jalanan ia hentikan sementara. Bicara soal penghasilan, sudah pasti hampir nol rupiah. Sayangnya lagi, Kartono juga mengaku tak dapat jatah bantuan sosial. “Sejak ada larangan itu saya jual semangka alias glundang-glundung di rumah [menganggur],” ujar Kartono sambil terkekeh.

Pada akhirnya, kekosongan itu harus segera diisi. Hantu Tugu Jogja bergentayangan kembali. Bukan untuk menakuti, tapi karena ada hidup yang perlu dinafkahi. Mulai Sabtu pekan lalu, Kartono dan temannya kembali datang ke Tugu Jogja dan berdandan seperti hantu.

Meski sudah kembali, Kartono merasa penghasilannya belum dapat dikatakan normal. Tugu Jogja masih sepi. Sebelum pandemi, ia dan temannya mampu meraup uang sebanyak Rp50.000 sampai Rp100.000. Sementara pada akhir pekan bisa mencapai Rp150.000. Sekarang, uang sebesar itu sulit ia dapat.