Digelar dalam 2 Format, FKY 2020 Tetap Bergerak di Tengah Pandemi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan DIY Sumadi (tengah) saat konferensi pers Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 dengan tajuk Akar Hening di Tengah Bising di kompleks Dinas Kebudayaan DIY, Senin (7/9/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
07 September 2020 17:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA#MULANIRA2 menjadi tema besar Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 yang bertajuk Akar Hening di Tengah Bising. #MULANIRA2 menjadi lanjutan tema FKY 2019, yakni #MULANIRA, sebuah kata yang diambil dari bahasa Jawa kuno yang berarti wiwitan atau pada mulanya. Arti dari kata tersebut selaras dengan tujuan FKY untuk mengenalkan beragam kebudayaan di Jogja.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan DIY Sumadi mengatakan FKY 2020 harus menyesuaikan dengan pandemi Covid-19. Festival harus diselenggarakan dengan format yang berbeda. Semua pertunjukan dan pameran disajikan dengan konsep daring melalui website www.fkymulanira.com dan luring dengan menghadirkan program melalui televisi dan radio.

“Laman website www.fkymulanira.com akan menjadi venue utama FKY 2020. Meskipun secara garis besar akan digelar dengan konsep daring dan luring, khusus untuk pameran seni rupa akan tetap dihadirkan secara langsung dengan batasan kunjungan dan protokol kesehatan,” ujar Sumadi dalam konferensi pers, Senin (7/9/2020).

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY: 14 Positif, 32 Sembuh

FKY 2020 akan diselenggarakan selama enam hari mulai 21 sampai dengan 26 September 2020. Judul Akar Hening di Tengah Bising di FKY 2020 dimaknai sebagai pengingat, bahwa dalam pandemi seperti sekarang, masyarakat tetap memiliki ruang dalam mengupayakan produksi pengetahuan dan mempertajam daya baca.

“Akar yang bergerak hening tetap melakukan sesuatu yang. Mengusung semangat yang sama di tengah pandemi Covid-19 ini, FKY harus tetap terselenggara seperti layaknya sebuah festival dengan mengikuti protokol kesehatan dan pemanfaatan teknologi digital,” ujar Sumadi.

Sementara itu, Direktur Utama FKY Paksi Raras Alit mengatakan transformasi FKY ke panggung virtual ini mempunyai tantangan yang tak mudah ditaklukkan. la menilai tak semua kegiatan seni dan budaya bisa dinikmati ketika medianya berganti.

BACA JUGA: Kerjasama KPK–PLN Berhasil Selamatkan Aset Negara Senilai Lebih dari Rp960 Miliar

“Contohnya pameran seni, pameran itu kehilangan rasa jika disajikan melalui virtual. Pengunjung pameran terbiasa menikmati secara detail karya-karya di pameran, untuk itu pameran seni rupa tetap dihadirkan secara langsung,” tutur Paksi.

FKY 2020 akan menghadirkan pameran seni rupa Akar Hening di Tengah Bising di Kompleks Museum Sonobudoyo pada 21- 26 September 2020 pukul 10.00 WIB-18.00 WIB secara langsung. Namun, jumlah pengunjung dibatasi, yakni 30 orang per sesi. Pengunjung wajib memakai masker dan harus registrasi terlebih dahulu.

BACA JUGA: Serapan Danais Minim karena Covid-19, Pemkab Ubah Pola Kegiatan

Pameran ini menghadirkan 33 seniman dengan ragam sebaran medium mulai dari lukisan, patung, instalasi, fotografi, audio visual, dan performance yang ditampilkan dengan format kunjungan langsung dan kunjungan virtual melalui website www.fkymulanira.com.

“FKY tetap menghadirkan galeri virtual dengan pemanfaatan teknologi kamera 360 derajat,” ungkap Direktur Kreatif FKY Gintani Nur Apresia Swastika.

Gintani mengatakan beberapa seniman yang berpartisipasi antara lain, Sugeng Oetomo, Biosci, The Freak Show Man, Wok The Rock, Timoteus Anggawan Kusno, Handiwirman Saputra.

Manajer Pameran Seni Rupa Sukma Smita mengungkapkan pameran seni rupa ini menjadi menarik karena menghadirkan Sugeng Oetomo. Sugeng adalah seorang penata lampu pertunjukan yang sejalan dengan semangat Akar Hening di Tengah Bising.

“Kemudian ada Bioscil, yaitu pegiat film yang fokus memberikan edukasi tontonan pada anak-anak di sekolah dan kampung-kampung, aktivitas mereka didasarkan atas kegelisahan pada tontonan anak-anak hari ini yang tidak sesuai dengan usia mereka,” ujar Sukma.