Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Ilustrasi mahasiswa/Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN- Masa perkuliahan semester baru sudah dimulai oleh beberapa kampus di Kabupaten Sleman. Kendati mayoritas masih dilaksanakan secara daring, namun Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menegaskan jika ada kuliah tatap muka, maka mahasiswa perlu mengikuti syarat yang ditetapkan Pemkab Sleman.
Syarat itu mengacu pada pedoman yang tertuang dalam SE Bupati Sleman No. 443/01352 tentang Panduan Penerimaan Mahasiswa dari Luar Daerah. Dalam surat edaran tersebut, mahasiswa yang akan masuk ke Sleman dari luar kota diharuskan membawa surat keterangan sehat dari wilayah asal.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo bahkan menegaskan bahwa mahasiswa yang datang dari zona merah atau PSBB harus membawa hasil swab negatif. Mereka juga masih diharuskan menjalani karantina mandiri selama 14 hari.
"Tetap mengacu ke surat edaran Bupati, jadi yang mau datang ke Sleman dari luar kota harus membawa surat keterangan sehat. Kalau dari daerah PSBB atau zona merah harus membawa hasil swab. Kalau sudah sampai Sleman harus karantina 14 hari atau swab ulang," kata Joko pada Selasa (8/9/2020).
Joko meminta kampus juga harus menjalankan protokol kesehatan seperti aturan pemerintah. Disinggung soal apakah keberatan jika kampus di Sleman mulai menerapkan kuliah tatap muka, Joko menegaskan selama syarat dari Pemkan Sleman dijalankan, ia tak keberatan.
"Asal dilakukan dengan persyaratan khusus yang saya sampaikan tadi," imbuh dia.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah V, Fathul Wahid memprediksi kampus-kampus di DIY belum sepenuhnya menerapkan kuliah tatap muka pada semester ini. Jika pun ada kuliah tatap muka, maka akan tetap dikombinasikan dengan kuliah daring.
"Luring 100% bayangan saya tahun depan, masih kombinasi," kata Fathul.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) itu menjelaskan sebenarnya sudah ada kampus yang menerapkan kuliah luring, namun hanya untuk prodi tertentu, misalnya prodi profesi, dan disertai aturan yang sangat ketat. "Salah satunya pendidikan profesi atau keterampilan medis itu tidak bisa digantikan secara daring. Sudah mulai agak lama hanya mitigasi sangat ketat terkait penerapan protokol kesehatan," ujarnya.
Di kampus yang dipimpinnya itu juga saat ini sudah mengizinkan praktikum tatap muka di laboratorium. Kendati demikian, untuk perkuliahan teori di kelas seperti biasa belum akan diizinkan sampai kondisi pandemi membaik.
Menurut Fathul, jika kampus di DIY langsung menerapkan kuliah tatap muka, maka risikonya cukup besar. Sebab 70% mahasiswa di DIY berasal dari luar daerah.
"Yang pendatang kan lebih dari 70%, kalau mereka berasal dari daerah merah bisa menimbulkan masalah. Kami membuat rencana tapi tetap memantau perkembangan. Kalau ada perubahan drastis ya [luring] dipercepat," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Sam Altman mengungkap Gen Z kini memakai ChatGPT sebagai penasihat hidup, berbeda dengan generasi tua yang masih menggunakannya seperti Google.
Jadwal bola malam ini 18-19 Mei 2026 menghadirkan Arsenal vs Burnley, semifinal Liga Arab Saudi, hingga La Liga 2 Spanyol.
Google resmi meluncurkan Gemini Intelligence untuk Android, tetapi fitur AI canggih ini hanya tersedia di HP flagship tertentu dengan RAM minimal 12GB.
Juventus terancam gagal lolos ke Liga Champions usai kalah 0-2 dari Fiorentina dan turun ke posisi keenam klasemen Serie A.
Apple dikabarkan akan mengubah Siri menjadi AI percakapan setara ChatGPT dan Gemini melalui pembaruan iOS 27 pada akhir 2026.