SEPEDA LIPAT JOGJA: Bersepeda, Melepas Penat, dan dan Berbagi Ilmu

Anggota komunitas Sepeda Lipat Jogja berfoto bersama di sela-sela aktivitas bersepeda mereka. - Istimewa
14 September 2020 19:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejak pandemi Covid-19 merebak, aktivitas masyarakat bergeser sepenuhnya ke budaya hidup sehat. Komunitas Sepeda Lipat Jogja yang seluruhnya beranggotakan perempuan pun ikut mengajak masyarakat umum berolahraga menyenangkan sambil berbagi inspirasi bisnis.

Sejak pandemi, peran perempuan karier menjadi berlipat ganda. Selain disibukkan dengan pekerjaan yang tetap berjalan, sebagai ibu mereka juga memiliki kewajiban mendampingi anak-anaknya belajar daring. Hobi yang menyehatkan menjadi tempat untuk rehat dan menyegarkan pikiran sekaligus ruang untuk menjadi diri sendiri.

Ada alasan tersendiri mengapa para perempuan yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Lipat Jogja memilih sepeda lipat sebagai sarana melakukan hobi yang menyehatkan. Salah satu anggota, Annie Maharani, mengatakan sepeda lipat lebih ringkas untuk mendukung pergerakan mereka yang semuanya adalah seorang orang tua.

BACA JUGA: Trio Anyar Everton Disanjung Setelah Kalahkan Tottenham

Prinsip para anggota selaras, bersepeda dilakukan untuk bersenang-senang. "Tidak usah terlalu capek karena keesokan hari masih mengurus keluarga dan kerja. Sepeda lipat kan mudah dibawa-bawa dengan mobil. Kalau lelah, bisa langsung dilipat dan kami pulang pakai kendaraan masing-masing," kata Annie saat diwawancarai Harian Jogja, Selasa (1/9/2020).

Dia menjelaskan komunitas ini awalnya terbentuk dari empat perempuan pebisnis yang rutin bersepeda di kawasan Pakem saat era adaptasi kebiasaan baru mulai digaungkan, tepatnya sejak Mei 2020.

Dari empat anggota, komunitas ini kemudian berkembang menjadi puluhan anggota. Salah satu anggota yang merupakan pelopor berdirinya komunitas ini, Retno Puspitasari, mengatakan masing-masing anggota mengajak teman-teman terdekatnya untuk bergabung.

BACA JUGA: Sultan Jogja Izinkan Kampus DIY Gelar Kuliah Tatap Muka, Ini Syaratnya

"Tentunya anggota baru juga perempuan semua yang sudah berkeluarga. Sebenarnya lajang juga boleh bergabung. Syarat terpenting adalah perempuan dan punya sepeda lipat. Tapi dalam perjalanannya lebih selaras ngobrol dengan sesama ibu," kata Pipit.

Komunitas ini memiliki jadwal tetap untuk bersepeda bersama, yakni setiap Selasa dan Jumat. Titik kumpul bervariasi sesuai dengan kesepakatan anggota. Rute yang ditempuh mayoritas di daerah perkotaan. Terkadang anggota juga menyepakati rute tempat wisata.

Pipit mengatakan bersepeda dipandang sebagai olahraga yang ringan. Padahal sebenarnya bersepeda merupakan olahraga berat. Terbukti banyak kasus pesepeda yang pingsan kelelahan atau hilang nyawa saat terlalu bersemangat bersepeda dengan fisik yang belum terbiasa.

BACA JUGA: Mahasiswa UIN Jogja Positif Corona Sempat ke Kampus, Fakultas Lockdown 3 Hari

Oleh karena itu, sesama anggota selalu saling mengingatkan prinsip awal kegiatan komunitas ini. "Intinya kami bersepeda itu murni hobi, melepas penat dari pekerjaan rumah dan bisnis. Kalau capek ya angkut saja sepedanya, kalau ada urusan mendesak dari keluarga juga tinggal lipat sepedanya," kata Pipit.

Pipit mengatakan hobi memiliki peran penting di dalam dunia perempuan bekerja yang juga merupakan seorang ibu. Menurutnya hobi menjadi ruang untuk tetap menjadi diri sendiri.

"Kami masing-masing sudah izin ke keluarga, kami membuat kesepakatan dengan mereka bahwa Selasa dan Jumat adalah hari kami memberi waktu untuk diri sendiri," kata Pipit.