Kuliah Daring Tetap Jadi Pilihan Utama di Jogja, LL Dikti: Tatap Muka Masih Berisiko Tinggi

Sejumlah kampus swasta di Sleman masih mempersiapkan mekanisme perkuliahan tatap muka. Sejauh ini mereka masih akan menerapkan kuliah daring pada awal semester ganjil September mendatang.
15 September 2020 21:47 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kuliah daring masih menjadi pilihan utama di perguruan tinggi swasta di Jogja.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta Prof Didi Achjari mengatakan hingga saat ini seluruh perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta masih mengutamakan perkuliahan secara daring untuk mencegah penularan COVID-19.

"Belum ada perkuliahan yang tatap muka secara penuh. Tidak berani dan itu masih berisiko tinggi untuk saat ini," kata Didi Achjari di Yogyakarta, Selasa (15/9/2020).

BACA JUGA: Masuk Pasar Stan di Sleman Tak Pakai Masker, Warga Harus Bayar Rp250.000 Atau Bersihkan Pasar

Terkait rencana uji coba pembukaan aktivitas perkuliahan kampus di DIY pada pertengahan September 2020, menurut Didi, bukan berati perkuliahan dibuka dengan tatap muka secara normal penuh.

Selain berisiko, perkuliahan dengan tatap muka secara penuh tentu membutuhkan banyak tambahan ruangan karena ada pembatasan kuota mahasiswa untuk menerapkan jaga jarak fisik.

Meski demikian, ia mengakui ada sejumlah kampus yang memang memiliki kebijakan memulai perkuliahan tatap muka secara selektif atau kombinasi antara daring dan luring pada pertengahan September.

"Kombinasi,artinya hanya mahasiswa yang semester akhir dan sifatnya praktikum saja yang diperbolehkan tatap muka dan selebihnya tetap daring," kata dia.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Gunawan Budiyanto mengatakan kegiatan pembelajaran/perkuliahan di kampusnya akan dilakukan sesuai rencana awal, yakni tatap muka secara bertahap mulai 14 September 2020.

Menurut Gunawan, pada semester ini perkuliahan berlangsung dengan model tatap muka (luring) sebagai pendalaman materi untuk membentuk skill mahasiswa, namun dengan tetap menitikberatkan pada kuliah daring.

Supaya tidak tidak terjadi kerumunan di kampus, kata dia, hanya akan ada satu angkatan setiap bulan yang akan masuk mengikuti kuliah "offline".

"Mahasiswa semester 7 akan masuk kuliah offline terlebih dahulu kemudian berganti dengan mahasiswa semester 5 bulan berikutnya dan diikuti semester 3 pada bulan berikutnya lagi," kata Gunawan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Muchlas menyatakan perkuliahan di kampusnya sepenuhnya masih tetap diselenggarakan secara daring.

Keputusan itu, kata Muchlas, mengikuti surat edaran dari Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait larangan pembelajaran/kegiatan tatap muka bagi setiap Amal Usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan.

"Kami telah menyesuaikan kebijakan akademik UAD dengan ketetapan larangan kuliah tatap muka dari PP Muhamamdiyah," katanya.

Sumber : Antara