Terancam Digusur, Pedagang Pasar Babrik Bantul Mengadu ke Dewan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
06 Oktober 2020 18:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Belasan pedagang Pasar Babrik, Argorejo, Sedayu, mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul, Selasa (6/10/2020). Mereka minta bantuan wakil rakyat untuk memfasilitasi sengketa hak guna kios antara pedagang, investor dan Pemerintah Desa Argorejo.

Pengelola Pasar Babrik, Supananto, mengatakan ada 16 kios yang kini terancam diambil alih investor untuk dibangun kembali dan disewakan dengan harga yang sulit terjangkau oleh pedagang. Padahal, penghuni 16 kios sudah menempati kios tersebut lebih dari 30 tahun secara turun temurun.

Selama ini, mereka juga membayar retribusi rutin kepada pemerintah desa setempat karena pasar desa tersebut merupakan lahan kas desa. Biaya retribusi yang dibayar Rp12 juta per tahun dengan luasan kios 3x4 meter persegi per kios.

BACA JUGA: 18 Anggota DPR Positif Covid-19, Gedung Parlemen Akan Dilockdown

“Tiba-tiba ada investor yang akan membangun kembali pasar Babrik dan menawarkan harga sewa Rp260 juta dengan masa kontrak hak pakai selama 20 tahun. Harga itu kalau dibayar dimuka, kalau dicicil jatuhnya bisa Rp400 jutaan lebih,” kata Supananto.

Supananto mengaku sebenarnya pedagang tidak mempersoalkan kios akan dibangun ulang supaya layak, bahkan pedagang mendukungnya. Namun, jika dibangun oleh pihak ketiga dan ditawarkan dengan harga yang sulit terjangkau oleh pedagang, kata Supananto, maka pedagang keberatan.

Padahal, pedagang selama ini juga rutin membayar retribusi dan tidak ada persoalan. Pihaknya juga merasa resah karena pihak ketiga yang akan membangun pasar tersebut sudah memasang patok, meski patok-patok tersebut kini dicabuti kembali oleh pedagang.

Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Babrik, Susanto, menilai pemerintah desa tidak transparan dalam proses rencana pembangunan kembali Pasar Babrik yang berlokasi di Dusun Kalakan, Argoreo tersebut. Sebab berkali-kali pihaknya menanyakan kepda kepala desa setempat dan mendapat jawaban belum ada kesepakatan apapun dengan pihak ketiga.

BACA JUGA: Wawancara Kursi Kosong, Najwa Shihab Dilaporkan ke Polisi oleh Relawan Jokowi

Namun, investor selalu menunjukan izin untuk memanfaatkan kios-kios tersebut dengan tanda tangan kepala desa. Padahal para pedagang selama ini juga tidak pernah mendapat sosialisasi apapun, kecuali rencana pembangunan ulang pasar Babrik dari pemerintah desa.

“Kami diskusi [dengan kepala desa terkait pembangunan ulang oke, tapi di tengah perjalanan di masa pandemi Covid-19 ada berita [investor] sudah memasarkan duluan dengan mematok harga 2Rp60 juta.  Kami kaget,” kata Susanto.

Pedagang air isi ulang dan kembang ini pun merasa kecewa dengan pemerintah desa padahal dirinya sudah 30 tahun lebih menempati kios dari mulai kakek, ibu, hingga dirinya.

Ketua Komisi B DPRD Bantul, Muhammad Agus Salim, yang menemui pedagang Pasar Babrik, mengatakan akan menindaklanjuti keluhan para pedagang tersebut dengan mengundang Pemerintah Desa Argorejo dan investor serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selain itu pihaknya juga akan mengecek langsung lokasi pasar, “Setelah dilakukan akan duduk bersama bisa tabayun menyelesaikan jalan terbaik bagaimana permohonan [pedagang] ini agar bisa menggunakan lahan tersebut,” kata Agus Salim.

BACA JUGA: Masih Terjadi, Ini Modus Kebocoran Retribusi Masuk Pantai di Gunungkidul

Sementara itu Kepala Desa Argorejo, Ngadimin mengatakan pembangunan ulang Pasar Babrik agar lebih baik dan dapat meningkatkan pendapatan asli desa (PADes). Rencananya kios tersebut dari yang tadinya hanya 16 kios akan ditingkatkan menadi 30 kios sehingga akan lebih banyak warganya yang memanfaatkan kios.

“Kami harus berpikir panjang bahwa Argorejo penduduknya banyak. Kami ingin memberikan kesempatan kepada yang lain juga agar lebih banyak yang disejahterakan,” kata dia.

Selain memperbanyak warga yang diberdayakan dengan berjualan di kios itu, kata Ngadimin, pemasukan untuk PADes juga meningkat sehingga dapat digunakan untuk pembangunan Desa Argorejo dan mafaatnya lebih luas.

Selama ini pemasukan dari Pasar Babrik hanya menyumbang Rp12 juta per tahun. Rencananya setelah ada pembangunan ulang menajdi Rp25 juta per tahun sumbangan untuk PADes. Nilai tersebut sampai saat ini juga belum disepakati karena masih dalam proses apraisal dan pihaknya masih minta hagra sewa dinaikkan.

Ngadimin mengaku tidak menutup mata bagi 16 pedagang yang sudah lama menempati kios. Pihaknya sudah meminta pihak ketiga untuk memperioritaskan 16 pedagang dengan harga yang yang disepakati bersama. Namun persoalannya dalam beberapa kali kesempatan pertemuan investor dan 16 pedagang belum mencapai kesepakatan karena pedagang sudah menolak duluan.

Ia menghormati perbedaan pendapat warganya, “Saya menghargai perbedaan pendapat,” kata Ngadimin.

Ia menggandeng pihak ketiga karena membangun ulang pasar dengan APBDes terlalu berat.