Habiskan Rp160 Juta, Program Pakan Monyet Gunungkidul Tak Efektif
DLH Gunungkidul menghentikan program pakan monyet ekor panjang pada 2027 karena dinilai tak efektif mencegah konflik dengan warga.
Mobil tangki air milik BPBD Gunungkidul saat meyalurkan bantuan kepada warga di Dusun Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar. foto diambil beberapa waktu lalu. /Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tiga kapanewon di Gunungkidul telah kehabisan anggaran dropping air bersih. Untuk penyaluran ke masyarakat, mereka meminta bantuan ke BPBD. Tiga kapanewon yang anggarannya telah habis tersebut beliputi Tanjungsari, Tepus dan Girisubo.
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, untuk dropping air berisih tahun ini, Kapanewon Girisubo mengalokasikan anggaran sekitar Rp90 juta. Meski demikian, dana tersebut sudah digunakan untuk dropping ke masyarakat sebanyak 522 tangki. “Dananya sudah habis,” katanya kepada Harianjogja.com, Jumat (9/10/2020).
Baca juga: 8 Mahasiswa UAD Terluka dalam Insiden Demo Ricuh di Gedung DPRD DIY
Menurut Arif, meski anggaran yang dimiliki sudah habis, namun masyarakat masih membutuhkan bantuan air bersih. Hal ini dikarenakan hujan yang turun di wilayah Girisubo belum merata dan intensitasnya masih kecil sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan. “Hujannya belum merata sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih,” katanya.
Guna mencukupi kebutuhan ke masyarakat, Arif mengakui sudah melayangkan surat resmi ke bupati untuk meminta bantuan air bersih. “Sudah diajukan dan mudah-mudahan bisa membantu memenuhi kebutuhan air di masyarakat,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kapanewon berkaitan dengan penyaluran air bersih. Ia menjelaskan, dari sepuluh kapanewon yang memiliki dana droping mandiri, Kapanewon Tepus dan Tanjungsari telah meminta bantuan ke BPBD karena dana yang dimiliki sudah habis.
Baca juga: KUA-PPAS 2021 DIY Disepakati, Pemulihan Ekonomi Jadi Fokus
“Untuk Girisubo laporan resminya belum masuk. Meski demikian, kami siap memberikan bantuan air di Tanjungsari, Tepus maupun Girisubo,” kata Edy.
Menurut dia, pihaknya menunggu laporan dari kapanewon berkaitan dengan data terbaru masalah kekeringan di wilayah masing-masing. “Kami tunggu laporannya hingga minggu depan. Pelaporan ini juga untuk mengetahui apakah di kapanewon membutuhkan tambahan bantuan dari BPBD atau tidak,” katanya.
Disinggung mengenai alokasi dana droping, Edy mengakui BPBD memiliki anggaran sekitar Rp753 juta. Hingga saat ini, kata dia, anggaran masih mencukupi dan tidak ada kekhwatiran kehabisan karena dana yang terpakai baru sekitar 45% dari pagu anggaran yang dimiliki. “Masih banyak dan bisa untuk membantu kapanewon yang melaporkan telah kehabisan anggaran droping,” katanya.
Keyakinan Edi tentang anggaran dropping air bersih juga tidak lepas dari prediski BMKG DIY bahwa saat sekarang sudah memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. “Akhir bulan sudah masuk musim hujan. Jadi, saya kira dengan anggaran yang tersisa masih sangat mencukupi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Gunungkidul menghentikan program pakan monyet ekor panjang pada 2027 karena dinilai tak efektif mencegah konflik dengan warga.
Kapolri Suyudi Ario Seto mendalami 98 kasus karhutla yang melibatkan korporasi. Lima perusahaan telah dicabut izinnya dengan total konsesi 92.464 hektare.
Cek jadwal perpanjangan SIM Sleman 20 Oktober 2026 di Polsek Cangkringan, lengkap dengan lokasi layanan, jam operasional, dan persyaratan.
Tujuh terdakwa kasus Little Aresha meminta dibebaskan. Tim penasihat hukum menilai para pengasuh menjalankan SOP yang ditetapkan manajemen daycare.
BMKG memperingatkan dampak tidak langsung Siklon Tropis Champi di Indonesia timur, termasuk potensi gelombang laut setinggi 1,25–2,5 meter.
Danantara mendukung reformasi pasar modal Indonesia bersama OJK dan BEI setelah MSCI menyoroti transparansi dan tata kelola saham.