Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Mobil tangki air milik BPBD Gunungkidul saat meyalurkan bantuan kepada warga di Dusun Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar. foto diambil beberapa waktu lalu. /Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tiga kapanewon di Gunungkidul telah kehabisan anggaran dropping air bersih. Untuk penyaluran ke masyarakat, mereka meminta bantuan ke BPBD. Tiga kapanewon yang anggarannya telah habis tersebut beliputi Tanjungsari, Tepus dan Girisubo.
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, untuk dropping air berisih tahun ini, Kapanewon Girisubo mengalokasikan anggaran sekitar Rp90 juta. Meski demikian, dana tersebut sudah digunakan untuk dropping ke masyarakat sebanyak 522 tangki. “Dananya sudah habis,” katanya kepada Harianjogja.com, Jumat (9/10/2020).
Baca juga: 8 Mahasiswa UAD Terluka dalam Insiden Demo Ricuh di Gedung DPRD DIY
Menurut Arif, meski anggaran yang dimiliki sudah habis, namun masyarakat masih membutuhkan bantuan air bersih. Hal ini dikarenakan hujan yang turun di wilayah Girisubo belum merata dan intensitasnya masih kecil sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan. “Hujannya belum merata sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih,” katanya.
Guna mencukupi kebutuhan ke masyarakat, Arif mengakui sudah melayangkan surat resmi ke bupati untuk meminta bantuan air bersih. “Sudah diajukan dan mudah-mudahan bisa membantu memenuhi kebutuhan air di masyarakat,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kapanewon berkaitan dengan penyaluran air bersih. Ia menjelaskan, dari sepuluh kapanewon yang memiliki dana droping mandiri, Kapanewon Tepus dan Tanjungsari telah meminta bantuan ke BPBD karena dana yang dimiliki sudah habis.
Baca juga: KUA-PPAS 2021 DIY Disepakati, Pemulihan Ekonomi Jadi Fokus
“Untuk Girisubo laporan resminya belum masuk. Meski demikian, kami siap memberikan bantuan air di Tanjungsari, Tepus maupun Girisubo,” kata Edy.
Menurut dia, pihaknya menunggu laporan dari kapanewon berkaitan dengan data terbaru masalah kekeringan di wilayah masing-masing. “Kami tunggu laporannya hingga minggu depan. Pelaporan ini juga untuk mengetahui apakah di kapanewon membutuhkan tambahan bantuan dari BPBD atau tidak,” katanya.
Disinggung mengenai alokasi dana droping, Edy mengakui BPBD memiliki anggaran sekitar Rp753 juta. Hingga saat ini, kata dia, anggaran masih mencukupi dan tidak ada kekhwatiran kehabisan karena dana yang terpakai baru sekitar 45% dari pagu anggaran yang dimiliki. “Masih banyak dan bisa untuk membantu kapanewon yang melaporkan telah kehabisan anggaran droping,” katanya.
Keyakinan Edi tentang anggaran dropping air bersih juga tidak lepas dari prediski BMKG DIY bahwa saat sekarang sudah memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. “Akhir bulan sudah masuk musim hujan. Jadi, saya kira dengan anggaran yang tersisa masih sangat mencukupi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.
SPP-TDLN mulai memungut PPN transaksi digital luar negeri sejak 25 September 2026 dengan melibatkan perbankan dan fintech.
El Nino diperkirakan berdampak hingga 2027. Pemerintah diminta memperkuat mitigasi untuk menjaga produksi dan harga pangan.