Nyaru Jadi Pekerja Proyek, Komplotan Maling Gasak Alat Kelistrikan di YIA Bernilai Ratusan Juta

Ilustrasi. - Freepik
12 Oktober 2020 18:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Kepolisian Resor Kulonprogo meringkus komplotan pencuri piranti kelistrikan yang beraksi di Yogyakarta International Airport (YIA), Kapanewon Temon, Kulonprogo. Dalam aksinya, para pelaku menyamar sebagai pekerja proyek bandara, kemudian menggasak delapan Air Circuit Breaker (ACB) senilai Rp600 juta yang terpasang di gedung mezzanin kompleks YIA.

Wakapolres Kulonprogo, Kompol Sudarmawan menerangkan kasus pencurian ini terjadi pada Juli 2019 silam. Pelaku dalam kasus ini sebanyak tujuh orang yaitu Remon, 50, warga Cakung Barat, Cakung, Jakarta Barat; Harno, 40, Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara; Andi Suparyono, 32, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan; Imam, 40, warga Cisarua, Bogor; Arif, 30, Pemalang; Slamet, 30, Pemalang dan Yanto, 38, Citerep, Bogor.

Namun dari jumlah itu baru tiga pelaku yang berhasil ditangkap, yakni Remon, Harno dan Andi. Mereka diringkus di sebuah hotel di Yogyakarta, belum lama ini. Sedangkan empat pelaku sisanya yaitu Imam, Arif, Slamet dan Yanto hingga kini masih buron.
"Untuk tiga pelaku sudah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang. Kami masih berupaya mencari keberadaan mereka," kata Sudarmawan kepada awak media di Mapolres Kulonprogo, Senin (12/10/2020).

BACA JUGA: Ketua Satgas Covid-19 Prihatin dengan Kerumunan yang Langgar Protokol Kesehatan

Sudarmawan menjelaskan aksi pencurian itu dilakukan para pelaku pada Sabtu, 6 Juli 2019 sekitar pukul 6.30 WIB. Sebelum melancarkan aksinya, mereka terlebih dulu berkumpul di SPBU Kedundang, Temon. Setelah itu meluncur ke lokasi proyek pembangunan YIA menggunakan sebuah mobil Avanza. Mereka kemudian masuk melalui pintu utama proyek sisi barat.

Untuk mengelabuhi petugas keamanan, para pelaku menyamar menjadi pekerja proyek lengkap dengan alat pelindung diri (APD) meliputi sepatu boot, rompi oranye dan helm. Usaha ini berhasil. Para pelaku berhasil masuk secara leluasa kemudian memarkirkan mobil yang mereka bawa di dekat masjid bandara. Setelah itu pelaku Remon, Imam, Arif dan Yanto berjalan kaki menuju terminal bandara, dan sisanya berjaga di luar sembari mengawasi keadaan. Ke empat pelaku itu kemudian masuk ke dalam terminal, tepatnya di area mezzanine. Di situ mereka menggondol 8 unit ACB yang berfungsi sebagai pemutus dan penghubung aliran listrik.

"Kurang lebih satu jam, para pelaku kemudian keluar membawa barang curian tersebut. Mereka dijemput menggunakan mobil yang tadi sudah dibawa. Setelah itu kabur keluar bandara," jelas Sudarmawan.

Dijelaskan, para pelaku kabur ke arah timur atau kota Jogja. Kemudian satu persatu memisahkan diri. Ada yang ke Solo dan Pati, Jawa Tengah, adapula yang ke Jakarta. Adapun barang hasil curian itu dibawa oleh Arif, Yanto dan Slamet untuk dijual. Namun lantaran tidak mengetahui harga, delapan ACB senilai Rp624 juta itu hanya dijual Rp10,5 juta. Masing-masing pelaku kemudian mendapat bagian Rp 1,5 juta.

"Barang bukti yang diamankan yakni rompi, helm dan sepatu proyek serta empat plat besi dudukan panel ACB. Mereka kami jerat Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara," ucap Sudarmawan.

Sementara itu salah satu pelaku, Harno mengatakan dalam aksi itu dirinya bertugas mengawasi keadaan. Setelah barang curian berhasil didapat, ia bersama rekan-rakannya lantas kabur dan memisahkan diri. Harno sendiri mengaku nekat terlibat dalam aksi ini karena butuh duit untuk membiayai anaknya sekolah. "Anak mau ujian kelulusan, tapi pas itu saya enggak pegang duit, nah kebetulan saya diajak Remon ikut aksi ini, ya karena enggak punya duit tadi, jadinya mau ikut aja," ujar pria yang bekerja sebagai perajin alumunium ini.