50 Wastafel di Malioboro Rusak Gara-gara Demonstrasi UU Ciptaker

Demonstrasi yang ricuh di halaman DPRD DIY, Kamis (8/10/2020). - Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
15 Oktober 2020 06:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja,com, JOGJA- Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengatakan dampak terjadinya kericuhan saat demonstrasi UU Cipta Kerja yang digelar mahasiswa di kawasan Jalan Malioboro berakibat kerusakan wastafel yang ada di Malioboro.

Wastafel yang rusak mulai Mall Malioboro ke arah selatan. "Wastafel mengalami kerusakan. Kita coba tarik dan perbaiki kalau masih bisa ya. Massa sangat luar biasa. Akhirnya itu (wastafel) terkena lemparan batu. Wastafel yang rusak termasuk milik PKL, totalnya ada 50 wastafel," ujar Ekwanto, pada Rabu (14/10/2020).

Baca juga: Tak Dituruti Saat Dimintai Jatah Uang, Pria Jogja Aniaya Juru Parkir

Sedangkan, coretan-coretan yang merupakan aksi vandalisme dari peserta aksi massa sendiri juga terdapat di sejumlah fasilitas publik yang ada di Malioboro. Coretan bertuliskan umpatan kepada DPR dan sejumlah kata-kata tidak etis.

"Tulisan tulisan itu paling banyak di wilayah Malioboro sebelah Utara dari gedung DPRD DIY baik di tembok maupun di tempat duduk yang bulat bulat. Tulisannya kurang etis. Kita bersihkan semua," sambung Ekwanto.

Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY, Singgih Raharjo mengatakan ksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah massa aksi di Malioboro pada Kamis (8/10/2020) hingga berujung ricuh tidak hanya berdampak kepada rusaknya sejumlah fasilitas publik. Akan tetapi, juga berimbas kepada turunnya kunjungan wisatawan ke ikon wisata Jogja.

Baca juga: Pemkot Jogja Tak Pernah Tutup Bioskop, tapi...

"Jika dibandingkan sebelum dan setelah kejadian (unjuk rasa) ada penurunan. Biasanya Sabtu lebih dari 20 ribu kemarin kurang dari 20 ribu, turunnya sekitar 5 ribuan pengunjung. Saya sudah cek di data aplikasi visiting Jogja," ujar Singgih saat dikonfirmasi pada Rabu (14/10/2020).

Lebih lanjut, Singgih mengungkapkan jika pada Minggu pekan lalu juga terjadi hal yang sama. Yakni, penurunan jumlah pengunjung di Malioboro dengan jumlah yang hampir sama. Padahal, biasanya Sabtu Minggu terjadi peningkatan dibanding weekday.

Kondisi pariwisata di DIY, lanjut Singgih, sebelum unjuk rasa yang dilakukan beberapa waktu lalu di Malioboro hingga berujung ricuh sebenarnya sudah mulai menunjukkan angin segar. Artinya, secara perlahan mulai bangkit setelah dipukul telak oleh adanya pandemi Covid-19.

"Dari sisi pariwisata mendorong penerapan protokol kesehatan, kebersihan, keamanan selama ini cukup bagus dampaknya. Kondisi pariwisata di Jogja sebelum demonstrasi berlangsung sudah mulai merangkak untuk bangkit setelah terpukul oleh pandemi Covid-19, dengan cara penerapan protokol kesehatan," sambung Singgih.