Meski Pandemi, Nilai Ekspor Kerajinan Naik Dua Kali Lipat

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan (ketiga dari kanan) saat melihat produk kerajinan yang akan di ekspor di PT.Out Of Asia, dalam peluncuran konvoi eskpor, Sabtu (17/10/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
18 Oktober 2020 14:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - PT Out Of Asia (OOA) atau perusahaan yang bergerak di bidang kerajinan tangan mencatat tahun ini nilai ekspor yang dilakukan perusahaan tersebut naik dua kali lipat di banding tahun lalu. Bahkan selama Oktober ini OOA bisa mengekspor sebanyak 59 kontainer hasil kerajinan tangan ke berbagai negara meski masih dalam kondisi pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19.

Direktur Utama PT OOA, Handaka Santosa mengatakan selama Oktober ini telah mengekpor hasil kerajinan sebanyak 59 kontainer dengan nilai 1,2 juta Dolar Amerika. Sementara keseluruhan nilai ekspor tahun ini ke berbagai negara di lima benua hampir mencapai Rp70 miliar.

“Walaupun nilainya belum besar tapi ini sudah dua kali lipat dari omzet tahun lalu,” kata Handaka, saat peluncuran konvoi delapan kontainer yang dilepas oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan.

Selain Kasan, hadir dalam pelepasan konvoi ekspor tersebut adalah Direktur Pengembangan Produk Ekspor Olvy Andrianita; Komisaris Utama PT.OOA GBPH Prabusukumo; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Aris Riyanta; Sekretaris Daerah Bantul, Helmi Jamharis; Kepala Dinas Perdagangan Bantul Sukrisna Dwi Susanta; dan Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian (KUKMP) Agus Sulistyana.

Handaka mengaku bersyukur meski di tengah pandemi ekspor kerajinan bisa meningkat dua kali lipat. Namun demikian pihaknya tidak ingin terbuai, melainkan akan berusaha tetap mematangkan agar ekspor tetap stabil bahkan bisa lebih meningkat lagi. Bukan hanya mencari market baru di luar negeri, namun merebut pasar baru.

Sebab, menurutnya di tengah pandemi ini masih ada beberapa negara yang melakukan lockdown, sehingga pasar luar negeri terutama Amerika dan negara-negara di Eropa mengalihkannya ke Indonesia. Pihaknya terus berupaya mempertahankan kualitas sesuai yang diinginkan buyer.

Untuk mempertahankan kualitas, PT OOA sudah mengirimkan tim ahli untuk memberikan pelatihan dan pemahaman kepada para pengrajin yang memasok hasil kerajinannya ke PT OOA. Hasil kerajinan yang dipasok dari berbagai daerah kembali dilakukan finishing untuk mempertahankan kualitas.

Direktur Operasional PT.OOA, Arung Lusika menambahkan hampir semua produk kerajinan yang diekpor perusahaan tersebut adalah produk alam sebagai ciri khas seperti pelepah pisang, eceng gondok, rotan, kayu, bambu, pandan, marmer dan beberapa batu alam. “Persyaratan buyer memang rata-rata ingin menghindari toksin sehingga semua material yang digunakan aman dan mudah terurai dan minim penggunaan bahan kimia,” kata Arung.

Beri Dampak ke Perajin

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan mengapresiasi dalam situasi dan kondisi pandemi Covid-19, PT Out Of Asia sudah bisa tetap eksis bahkan ekpor dua kali lipat naik selama 2020 itu. Naiknya ekpor yang dilakukan OOA, diakuinya tidak hanya positif bagi perusahaan, namun juga berdampak pada pengrajin dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya DIY yang memasok hasil kerajinannya kepada perusahaan ekspor tersebut.

Sebab ia melihat ada lebih dari 3.000 pengrajin yang yang dikoordinir melalui OOA tersebut yang tentunya bisa menambah pendapatan dan peningkatan usaha bagi para pengrajin. “Ini prestasi yang membanggakan ternyata produk OOA produk nusantara bukan hanya dari Jogja. OOA salah satu konsolidator eskpor yang bisa menjadi contoh buat yang lainnya,” ujar Kasan.