Sering Dibajak, Pengrajin Knalpot Balap Butuh Hak Paten

Danang Wicaksana Sulistya (kanan) saat menyambangi pengrajin knalpot balap/Ist
21 Oktober 2020 20:07 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Perajin knalpot balap di Dusun Jimat, Widodomartani, Ngemplak, Sleman mengeluhkan seringnya terjadi pembajakan atas produk mereka. Hal tersebut terjadi karena produk yang mereka lepas ke pasar tersebut belum memiliki hak cipta.

"Kami nggak bisa apa- apa, Mas. Mau nuntut para pembajak juga nggak bisa. Soalnya kami juga belum punya hak paten produk kami," keluh Eko Prasetyo, pengrajin knalpot balap saat ditemui Calon Bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), Rabu (21/10/2020).

Kepada DWS, Eko berharap produk miliknya bisa dibantu mendapatkan hak paten.

"Tolong dibantu, Mas. Kalau Mas Danang besok kepilih (jadi bupati), tolong kami dibantu ngurus paten. Biar kalo ada apa- apa kita bisa ajukan ke proses hukum," harap Eko.

BACA JUGA: Dua Hotel di Malioboro Senilai Ratusan Miliar Dibeli Pemda DIY, untuk Apa?

Menurut Eko, usaha berlabel "KDX Exhaust Concept" yang dirintisnya tahun 2005 silam bisa memiliki kapaistas produksi 200 buah knalpot balap setiap bulannya. Namun, semenjak Pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Eko mengaku harus menurunkan angka produksinya hingga 50 persen.

"Sepi, Mas. Ora payu," keluhnya sambil berkelakar.

Meski begitu, Eko bersyukur kondisi tersebut tidak sampai membuatnya mengurangi merumahkan 4 orang karyawannya.

"Alhamdulillah masih bisa bertahan, Mas. Embuh piye carane. Karyawan disini sudah saya anggap keluarga sendiri. Jangan sampai berkurang, kalau bisa malah nambah (jumlah kayawan)," kata Eko.

Disinggung mengenai pemasaran, Eko mengaku sejauh ini pihaknya mengandalkan reseller untuk menjual knalpot balap produksinya yang dibanderol Rp700 ribu sampai Rp1 juta tersebut.

Tidak hanya laku di dalam negeri, Eko mengaku knalpot balap produksinya juga menembus pasar luar negeri. Selain beberapa negara Asia tenggara, produknya juga pernah menembus benua Eropa.

"Pernah kok, Mas. Denger kabar knalpot sini bisa sampai Italia. Saya kaget. Setelah saya periksa lewat FB (Facebook) akun si pembeli, ternyata beneran sampai sana," akunya.

Kepada DWS, Eko berharap Bupati Sleman mendatang bisa lebih memperhatikan olahraga otomotif, khususnya balap sepeda motor.

Dalam kesempatan itu, DWS mengaku mencatat beberapa masukan dan harapan dari Eko.

"Hal-hal seperti ini harus kita ketahui karena, potensi semacam ini adalah aset untuk Sleman," kata DWS.

Sebelum menentukan langkah untuk pendampingan, DWS menyatakan perlunya basis data pelaku industri di wilayah Kabupaten Sleman.

"Minimal didata dulu semua. Ini juga berlaku untuk jenis usaha kreatif, kuliner dan lainnya, jadi harus semua didampingi," kata DWS.

Terkait harapan pegiat olahraga balap dan otomotif, DWS berharap ada wadah yang dapat dibentuk sebagai medium pembianaan.

"Kita harus wadahi, selain agar dapat berprestasi dan muncul bibit-bibit atlit balap, ini saya kira juga dapat mengurangi keinginan remaja pada balap liar di jalanan" kata DWS.

Selama ini para pebalap masih mengandalkan sejumlah lokasi yang sebetulnya tidak diperuntukkan sebagai sirkuit.

"Harapannya nanti ada lokasi khusus. Dalam bayangan kami lokasi dan event balap itu akan dikelola bersama oleh Dinas Pemuda dan Olahraga bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan", ungkap DWS.

Nantinya, masih menurut DWS, Dispora akan mengurus sisi olahraga dan Disparbud akan mengurus sisi kemasannya. Sementara lokasi sirkuit bisa dimasukan dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor wisata.