Sidak JATP, Komisi IV DPRD Kulonprogo Ingin ada Pembenahan

Pengendara motor melintas di depan kawasan Jogja Agro Techno Park (JATP) di Dusun Kemiri, Kalurahan Wijilan, Kapanewon Nanggulan, yang sudah ditutup pagar seng, Minggu (25/10/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
25 Oktober 2020 15:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO — Jogja Agro Techno Park (JATP) yang dibangun Pemda DIY di Dusun Kemiri, Kalurahan Wijilan, Kapanewon Nanggulan, tidak berkembang dan minim fasilitas pendukung wisata. Kehadiran taman wisata edukasi ini juga belum memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Hal itu terungkap saat Komisi IV DPRD Kulonprogo melakukan monitoring atau insepksi mendadak di JATP pada pekan lalu. Ketika pertama kali datang ke sana, jajaran Komisi IV yang diketuai Istana dikagetkan dengan adanya pagar seng yang menutup kawasan tersebut. Padahal pada 2019, JATP sudah dibuka untuk umum. Kehadiran taman wisata yang mulai dibangun pada 2018 itu juga sempat viral dan banyak didatangi wisatawan.

“Sampai di sana, kami kaget kok ini ditutup pagar seng. Itu kan jelek banget dan tentunya jadi pertanyaan kami, apakah JATP itu sudah dibuka atau belum sih, padahal dulu sempat viral banget lalu sekarang lenyap kaya gini” kata Ketua Komisi IV Istana, Minggu (25/10/2020).

Baca Juga: Pelaku Layangan 'Nyangkut' di Pesawat Citilink Bakal Disanksi

Saat menengok ke dalam kawasan JATP, Istana melihat fasilitas pendukung wisata di sana masih sangat minim. Dari pemantauanya, tidak terlihat adanya fasilitas dasar seperti toilet. Padahal fasilitas itu menurutnya penting untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Jika hal itu tidak segera dibenahi, pihaknya khawatir bisa memperburuk citra wisata Kulonprogo.

Pihak pengelola kata Istana juga belum melakukan koordinasi dengan pemerintah kalurahan dan masyarakat sekitar. Bahkan ia menyebut, warga di Wijilan tidak tahu tujuan didirikannya JATP. Seharusnya lanjut Istana, pihak pengelola dapat melibatkan masyarakat sekitar untuk membentuk kelompok-kelompok sadar wisata. Masyarakat juga perlu dibimbing agar mampu melihat peluang dengan kehadiran JATP, semisal dengan membangun penginapan.

“Sebab nanti konsepnya di sana itu ada pelatihan-pelatihan sehingga seharusnya di sana ada semacam penginapan yang dibikin penduduk mengingat lahannya di sana sangat terbatas. Koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat sekitar itu sangat penting sehingga pemberdayaan masyarakat bisa terwujud,” ucapnya.

Istana menyayangkan kondisi JATP saat ini. Menurutnya jika pengelolaan JATP benar-benar dilakukan dengan baik, destinasi ini bisa menarik banyak wisatawan. Potensi JATP juga dianggap sangat bagus untuk Kulonprogo bagian tengah, khususnya kawasan Nanggulan yang relatif tidak terlalu banyak obyek wisata dibandingkan kapanewon lain di sisi utara seperti Girimulyo, Kalibawang, Kokap dan Samigaluh.

Baca Juga: Diduga Ada ASN Tak Netral di Lingkungannya, Ini Langkah Disdikpora Bantul

Merujuk web Dinas Pariwisata Kulonprogo, JATP merupakan komplek terpadu yang dibangun Pemda DIY pada 2018 sebagai sarana media edukasi pertanian pada masyarakat. Tempat ini menjadi kawasan dengan fasilitas Agribisnis dan Agrotourism. Fasilitas yang tersedia antara lain Kantor UPTD dan Kantor Inkubator, Gedung Pelatihan dan Gedung Asrama, Gudang Produksi ,Lantai Jemur, Gudang Alsintan, Kolam Rekreasi, Green House, Taman Biofarmaka, Restoran dan Kolam Ikan, Zona Edukasi bercocok tanam, Taman Durian Menoreh, Zona Kandang dan Kolam Ikan

Adapun fungsi JATP antara lain sebagai Unit Pembelajaran (inkubator) agribisnis, Menumbuhkembangkan wirausahawan agribisnis (diversifikasi produk pertanian) dan Lembaga pelatihan dan percontohan (Precision/modern farming, Sustainable farming, Urban farming, Organic farming, Corporate farming dll).

Masih dari sumber yang sama, sampai saat ini, JATP masih dalam proses pembangunan dan belum resmi dibuka. Namun, wisatawan diperbolehkan untuk berkunjung ke JATP dan tidak dipungut biaya apapun dengan tetap menjaga kebersihan dan menaati peraturan yang ada.