Hujan Deras, Belasan Kuburan di Sleman Ambles

Belasan makam di TPU Sasana Mulya Minomartani, Dusun Mlandangan, Kalurahan Minomartani, Kapanewon Ngaglik ambles akibat hujan lebat yang mengguyur pada Jumat (30/10/2020) lalu. Foto diambil pada Rabu (3/11/2020). Harian Jogja - Lajeng Padmaratri.
04 November 2020 14:17 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, NGAGLIK--Akibat hujan deras yang mengguyur Dusun Mlandangan, Kalurahan Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Sleman pada pekan lalu menyebabkan belasan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sasana Mulya Minomartani ambles. Ahli waris kemudian melakukan perbaikan mandiri terhadap amblesan makam tersebut.

Juru Kunci TPU Sasana Mulya Minomartani, Tugino, mengatakan amblesan diperkirakan terjadi lantaran tanah di TPU tersebut tidak kuat menampung air hujan yang masuk. Menurutnya, tanah di TPU yang berdiri sejak 1991 itu merupakan tanah uruk.

BACA JUGA : Bawa Golok di Balik Baju, Tukang Gali Kubur Asal Pakuncen 

"Hujan lebat turun pada Jumat [30/10] kemarin, lalu saya cek ada 12 makam yang nisannya ambles. Selain itu ada empat makam yang ambles tanahnya, tapi nisannya masih tertahan tanah di sekitarnya," kata Tugino kepada wartawan pada Rabu (4/11/2020) di TPU  Sasana Mulya Minomartani.

Setelah musibah amblesan makam itu, pihaknya langsung menghubungi para ahli waris. Kemudian, mulai Selasa (3/11) sejumlah ahli waris melakukan perbaikan mandiri terhadap amblesan makam itu.

"Akan diperbaiki tapi oleh ahli waris. Pengurus makam hanya bantu tanah uruk, sementara tenaga yang mengerjakan dari ahli waris," lanjutnya.

BACA JUGA : BANJIR SLEMAN : Makam Ngabean Terancam Ambrol

Pantauan Harianjogja.com, pada Rabu pagi menjelang siang tampak beberapa ahli waris meninjau makam yang ambles di lokasi kejadian. Beberapa dari mereka melakukan pengerjaan pengurukan tanah makam dan pengecoran nisan.

Salah seorang ahli waris, Edi Dwi, 60, menuturkan makam jenazah ibunya turut ambles akibat hujan deras Jumat lalu. Setelah mengetahui kejadian itu, ia langsung melakukan perbaikan dengan menutup amblesan dengan batu kerikil dan pasir, kemudian mengecor nisannya secara swadaya.

"Saya perbaiki mandiri dulu. Saya belum tahu dari perangkat desa akan bertindak bagaimana. Kami tanggulangi pribadi dulu karena takutnya ambrol, kalau menunggu perangkat desa khawatir terlalu lama," kata warga Mlandangan ini.

Menurutnya, kejadian ini baru pertama kali dialaminya. Ia berharap musibah ini tidak terulang kembali, terlebih saat ini baru memasuki awal musim penghujan. Ia mengusulkan supaya pengelola makam memperbaiki saluran air di TPU tersebut supaya tidak terjadi amblesan lagi.

BACA JUGA : Warga Tionghoa di Kulonprogo Makin Berkurang, Bong Cino

Sementara itu, Ulu-Ulu Kalurahan Minomartani, Dedi Eko Bintoro menuturkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola TPU untuk memperbaiki saluran air. Ia mengakui, tanah di TPU tersebut tergolong labil karena merupaka tanah uruk, sehingga ketika terjadi hujan turun dengan intensitas tinggi ditambah beban nisan yang berat akan membuat tanah tergerus air, lalu amblas.

"Kami akan buat DED [Detail Engineering Design] dengan anggaran APBDes untuk memperbaiki saluran air di TPU. Mungkin realisasinya baru bisa tahun depan," ujarnya.