Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Salah seorang warga keturunan Tionghoa mengunjungi makam keluarganya saat Imlek di Bong Cino Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates, Sabtu (25/1/2020).-Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, KULONPROGO- Suasana Imlek di Kulonprogo tak seramai di Kota Jogja lantaran warga Tionghoa di Bumi Menoreh ini makin berkurang. Namun, hal itu masih tampak dari kunjungan warga Tionghoa ke pemakaman keluarga Tionghoa di Dusun Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates pada Tahun Baru Imlek, Sabtu (25/1/2020) lalu.
Salah satu yang datang melakukan maybong, yang artinya ziarah kubur dalam istilah Tionghoa, pada hari itu ialah Suryo Winarto, 62. Warga Sleman ini datang bersama kedua anaknya untuk mengunjungi makam istrinya yang telah meninggal dan dimakamkan di sana lima tahun lalu.
"Setiap imlek kami datang untuk nengok istri, mertua, dan anak saya yang meninggal saat bayi, semua dimakamkan di sini," kata Suryo saat ditemui di sela-sela ziarahnya.
Dikatakannya, meski ia merupakan warga Sleman, namun mendiang istri dan mertuanya merupakan warga Kulonprogo sehingga makamnya menempati Bong Cino Tegallembut atau pemakaman khusus keluarga Tionghoa di Dusun Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates itu. Tak ingin jauh dari istrinya, Suryo bahkan juga sudah menyiapkan liang di sebelah makam istrinya.
"Dulu keluarga mertua saya sempat punya usaha tukang gigi di Wates," kata dia. Meski begitu, kehidupan keluarganya semenjak dirinya menikah lebih banyak dihabiskan di Sleman, meski pada akhirnya keluarga istrinya memilih dimakamkan di Kulonprogo.
"Kalau kami saat malam imlek berdoa dan makan-makan saja, lalu di hari imleknya berkunjung ke sanak saudara," ujar Suryo.
Juru kunci Bong Cino Tegallembut, Samiyem, 60, menuturkan hari itu tanah makam yang dijaganya hanya dikunjungi tiga rombongan keluarga untuk maybong. "Selain Pak Suryo ini, tadi ada juga keluarga lain, tapi hanya dua orang. Memang sepi," katanya.
Sejak beberapa tahun terakhir, ia menjadi juru kunci bersama Adisuparmo, suaminya. Selama empat generasi, keluarga Adisuparmo sudah menjadi juru kunci di pemakaman itu.
Meski tak dapat memastikan keseluruhan jumlah makam, ia menaksir ada sekitar seratus warga Tionghoa yang dimakamkan di sana. Ia mendapat upah bersih-bersih makam setiap kali ada peziarah yang datang. "Tapi ada juga yang bayar tahunan, jadi saya lebih sering bersihin makamnya," kata Samiyem.
Ia memaklumi jika kunjungan ke makam tersebut sudah tidak begitu ramai lantaran kebanyakan keluarga mendiang sudah tinggal di kota lain, seperti Kota Jogja dan Jakarta. Sementara pemakaman di tanah itu juga makin menyusut minatnya lantaran ada metode pemakaman lain yaitu dikremasi dan dilabuh ke laut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menyelenggarakan SV Career Days UGM 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM mulai Kamis (21/5/2026)
Gapasdap mengungkap 7 kapal tenggelam di Gilimanuk diduga akibat truk ODOL. Pelanggaran muatan berlebih kini ancam keselamatan pelayaran.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.