Warga Tionghoa di Kulonprogo Makin Berkurang, Bong Cino Sepi Tahun Ini

Salah seorang warga keturunan Tionghoa mengunjungi makam keluarganya saat Imlek di Bong Cino Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates, Sabtu (25/1/2020).-Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
26 Januari 2020 17:57 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Suasana Imlek di Kulonprogo tak seramai di Kota Jogja lantaran warga Tionghoa di Bumi Menoreh ini makin berkurang. Namun, hal itu masih tampak dari kunjungan warga Tionghoa ke pemakaman keluarga Tionghoa di Dusun Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates pada Tahun Baru Imlek, Sabtu (25/1/2020) lalu.

Salah satu yang datang melakukan maybong, yang artinya ziarah kubur dalam istilah Tionghoa, pada hari itu ialah Suryo Winarto, 62. Warga Sleman ini datang bersama kedua anaknya untuk mengunjungi makam istrinya yang telah meninggal dan dimakamkan di sana lima tahun lalu.

"Setiap imlek kami datang untuk nengok istri, mertua, dan anak saya yang meninggal saat bayi, semua dimakamkan di sini," kata Suryo saat ditemui di sela-sela ziarahnya.

Dikatakannya, meski ia merupakan warga Sleman, namun mendiang istri dan mertuanya merupakan warga Kulonprogo sehingga makamnya menempati Bong Cino Tegallembut atau pemakaman khusus keluarga Tionghoa di Dusun Tegallembut, Desa Giripeni, Kapanewon Wates itu. Tak ingin jauh dari istrinya, Suryo bahkan juga sudah menyiapkan liang di sebelah makam istrinya.

"Dulu keluarga mertua saya sempat punya usaha tukang gigi di Wates," kata dia. Meski begitu, kehidupan keluarganya semenjak dirinya menikah lebih banyak dihabiskan di Sleman, meski pada akhirnya keluarga istrinya memilih dimakamkan di Kulonprogo.

"Kalau kami saat malam imlek berdoa dan makan-makan saja, lalu di hari imleknya berkunjung ke sanak saudara," ujar Suryo.

Juru kunci Bong Cino Tegallembut, Samiyem, 60, menuturkan hari itu tanah makam yang dijaganya hanya dikunjungi tiga rombongan keluarga untuk maybong. "Selain Pak Suryo ini, tadi ada juga keluarga lain, tapi hanya dua orang. Memang sepi," katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir, ia menjadi juru kunci bersama Adisuparmo, suaminya. Selama empat generasi, keluarga Adisuparmo sudah menjadi juru kunci di pemakaman itu.

Meski tak dapat memastikan keseluruhan jumlah makam, ia menaksir ada sekitar seratus warga Tionghoa yang dimakamkan di sana. Ia mendapat upah bersih-bersih makam setiap kali ada peziarah yang datang. "Tapi ada juga yang bayar tahunan, jadi saya lebih sering bersihin makamnya," kata Samiyem.

Ia memaklumi jika kunjungan ke makam tersebut sudah tidak begitu ramai lantaran kebanyakan keluarga mendiang sudah tinggal di kota lain, seperti Kota Jogja dan Jakarta. Sementara pemakaman di tanah itu juga makin menyusut minatnya lantaran ada metode pemakaman lain yaitu dikremasi dan dilabuh ke laut.