Lahannya Rusak Karena Proyek Kereta Bandara, Petani di Temon Mengadu ke Bupati Kulonprogo

Perwakilan petani Kapanewon Temon saat audiensi dengan Bupati Kulonprogo, Sutedjo di rumah dinas bupati Kulonprogo, Kapanewon Wates, Rabu (4/11/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
05 November 2020 10:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Sejumlah petani mendatangi Kantor Bupati Kulonprogo, Rabu (4/11/2020) malam. Mereka meminta Bupati, Sutedjo ikut turun tangan dalam penyelesaian masalah lahan pertanian di Kalurahan Glagah dan Kalidengen, Kapanewon Temon yang rusak terendam banjir lantaran adanya proyek pembangunan rel bandara.

Perwakilan petani Bayu Puspo Putro Pangaribawa, mengungkapkan proyek rel bandara yang dibangun di lahan pertanian di Kalidengen dan Glagah telah menyebabkan saluran pembuangan air tersendat. Akibatnya saat hujan turun di kawasan tersebut pada 28 Oktober 2020 lalu, terjadi luapan air di sungai hingga menggenangi lahan pertanian.

Air dari sungai yang meluap itu merendam lahan pertanian seluas 16,18 hektare di dua kalurahan tersebut. Imbasnya tanaman Cabai, Melon, Lombok, Semangka serta Jagung yang sudah berusia lebih dari 40 hari rusak parah dan menyebabkan petani gagal panen.

Baca juga: Masyarakat Desa Diberdayakan untuk Peningkatan Kesejahteraan

Petani, kata Bayu sudah melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan tanaman mereka. Salah satunya dengan menyedot air menggunakan mesin diesel. Namun karena genangannya cukup banyak, upaya itu berakhir sia-sia.

"Total kerugian yang kami derita sekitar Rp6,5 miliar dengan rincian Rp4 miliar di lahan pertanian Kalidengen dan Rp2,5 miliar di Glagah," kata Bayu, di rumah dinas bupati Kulonprogo, Rabu malam.

Bayu menjelaskan jauh sebelum adanya proyek pembangunan rel bandara, setiap turun hujan lahan pertanian di sana aman-aman saja. "Setelah proyek jalan dan bertepatan musim hujan, kok malah banjir gini, padahal sebelumnya kami sudah wanti-wanti ke pengelola agar dibuatkan gorong-gorong di sana, tetapi karena pelaksananay hanya sub kontraktor, mereka tidak berani," terangnya.

Baca juga: Pencairan APBD Perubahan 2020 di Bantul Terganjal Tanda Tangan Mendagri

Pengelola yang dimaksud Bayu adalah PT Kalista KSO, perusahaan yang ditunjuk melaksanakan pembangunan di wilayah Kalidengen dan Glagah. Para petani sudah sudah bertemu dengan PT ini, tetapi. Pihak PT kata Bayu, tidak memberikan solusi konkret sehingga mereka mengadukan persoalan ini kepada Bupati dengan harapan bisa mendapatkan titik temu.

Menanggapi aduan tersebut, Sutedjo berjanji akan mencari solusi. Bersama OPD terkait di lingkungan Pemkab Kulonprogo, pihaknya memastikan bakal membantu petani terdampak itu. "Yang pasti akan kami bantu untuk menjembatani komunikasi antara petani dan pelaksana," ujarnya.