Sekolah di Sleman Masih Jalani Pembelajaran Jarak Jauh

Seorang anak menyimak pembelajaran yang disiarkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari untuk PAUD hingga SMA melalui TVRI. - ANTARA FOTO/Saiful Bahri
06 November 2020 06:27 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana memastikan pihaknya belum memberikan izin penyelenggaraan kelas tatap muka di Sleman. Alasannya, kasus positif Covid-19 di Sleman terus bertambah.

"Belum ada sekolah yang mengajukan tatap muka, karena kami belum izinkan. Kasus masih fluktuatif. Pembelajaran masih dari rumah," terang Ery kepada wartawan, Kamis (5/11/2020).

Pihaknya juga masih menunggu izin dari Gubernur DIY dan Bupati Sleman terkait hal ini. Kendati demikian, ia telah menyiapkan prosedur pembelajaran tatap muka jika sewaktu-waktu diperlukan.

"Sekolah kami minta untuk membuat SOP [standar operasional prosedur] untuk pembelajaran tatap muka. Sehingga kalau diizinkan [tatap muka], langsung bisa [dijalankan]," ujarnya.

Untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya klaster pendidikan, Ery masih menjalankan pembelajaran jarak jauh dengan memaksimalkan aplikasi Sembada Belajar untuk jenjang sekolah dasar. Sementara, untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) masih persiapan.

"Pengguna Sembada Belajar cukup banyak. Materi untuk SMP baru persiapan. Rata-rata sudah ada aplikasi pembelajaran sendiri, namun nanti akan kita kembangkan kontennya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Sleman, Sudiyo menuturkan untuk pembelajaran jarak jauh yang menjadi tantangan ialah pembelajaraan untuk jenjang SD. Sebab, siswa SD masih sangat memerlukan pendampingan dari guru untuk masa sekolah awal mereka.

"Yang menjadi masalah adalah siswa SD kelas bawah yang butuh bimbingan langsung dari guru, sampai saat ini belum menemukan model pembelajaran yang tepat. Kalau untuk siswa SMP atau SMK kelas praktik di sekolah bisa menerapkan protokol kesehatan yang ketat, tapi bagaimana dengan siswa SD kelas 1 dan 2?" kata Sudiyo.

Untuk itu, hingga saat ini ia yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Sleman masih terus melakukan kajian tentang evaluasi pendidikan di masa pandemi Covid-19 dan strategi pembelajaran masa adaptasi kebiasaan baru.

"Untuk SD kami belum punya gagasan yang tepat kecuali melakukan tatap muka dengan jumlah maksimal sepertiga dari rombongan belajar, masuk bergantian dua hari sekali, tatap muka maksimal tiga jam, dan menerapkan protokol kesehatan ketat," kata Sudiyo.