Membangun Spirit Enterpreneur Desa Mandiri Budaya

Sejumlah perempuan di tingkat desa mengikuti pelatihan dalam rangka mewujudkan desa mandiri. - Ist
10 November 2020 10:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Di tengah tantangan pembangunan yang dihadapkan pada problematika kemiskinan dan ketimpangan pembangunan, maka orientasi pembangunan berkelanjutan sudah seharusnya menitikberatkan pada pembangunan desa yang bertumpu pada penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Sementara itu, gerusan ideologi materialistis yang setiap hari mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari semakin mengeksplorasi pola konsumsi masyarakat yang jauh dari skema keberlanjutan. Alhasil, gerusan itu, meluruhkan nilai-nilai kearifan lokal yang sebenarnya menjadi modal dasar dalam menwujudkan pembangunan perekonomian yang tidak sekedar tumbuh pesat tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keadilan dan pemerataan.

Baca juga: BPR di DIY Didorong Punya Penyuluh Prokes Cegah Munculnya Klaster Covid-19

Karena itu, bingkai Desa Preneur dikembangkan sebagai jawaban atas kegelisahan pembangunan desa yang magnetnya semakin mendekat menjadi wilayah urban, ketika generasi muda produktifnya banyak yang beralih ke kota atau meninggalkan sektor agraris karena dianggap tidak menjanjikan.

Desa Preneur adalah status bagi suatu kawasan yang masih memiliki semangat enterprenerspirit atau konsisten menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan dalam mengembangkan ekonomi lokal secara kreatif. Ekonomi lokal yang bercirikan para UMKM diharapkan mampu menyangga stabilitas perekonomian desa dengan mendorong produk-produk lokal semakin naik kelas, semakin berkualitas, semakin disukai pasar, dan memiliki nilai lebih yang unik.

“Maka, sejak dua tahun terakhir, Pemda DIY melalui Dinas Koperasi UKM DIY berkampanye pengembangan Desa Preneur dalam skema kewirausahaan desa untuk mendorong dinamisasi perekonomian lokal untuk bercita rasa global,” ujar Kepala Bidang Layanan Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Wisnu Hermawan dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (10/11/2020).

Sekurangnya tedapat 15 Desa Preneur yang sedang dikembangkan secara bertahap, dengan skema desa penumbuhan, desa pengembangan, dan desa maju. Kampanye Desa Preneur ini dilaksanakan selama tiga tahun pada suatu wilayah desa, dengan menggandeng expert yang memiliki konsep yang sama.

Baca juga: DPRD Jogja Awasi Penggunaan Dana Hibah Kemenparekraf

Maka, untuk teknis pelaksanaannya implementasi Desa Preneur juga bisa diterapkan melalui semangat Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur yang juga memiliki desain pendampingan terwujudnya semangat enterprenerspirit. Adanya usaha yang berkelanjutan dengan produk UMKM yang dikelola secara benar sehingga bisa dibranding hingga naik kelas, menjadi skema yang saling mengisi. Dengan demikian, Desa Preneur adalah salah satu bentuk pendampingan yang menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat agar berdaya secara ekonomi dengan produk-produk usaha yang unggul.

Penentuan produk, pengelolaan produk yang tepat disertai tatakelola pengemasan hingga branding yang berkelanjutan; menjadi kunci bahwasanya dari desa bisa memberikan sesuatu yang berharga dalam konteks kemandirian wilayah pada perspektif ekonomi berkelanjutan. Semakin banyak desa yang memiliki status Desa Preneur, maka pemerataan pembangunan akan semakin mendekati kenyataan dan bukan sekedar utopia belaka. (ADV)