KABAR KAMPUS: Tantangan Penerapan Internasionalisasi di Tengah Pandemi

Peserta workshop daring tentang Penguatan Pengelolaan Kantor Urusan Internasional. - Ist/UII.
16 November 2020 11:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Isu internasionalisasi menjadi tantangan bagi perguruan tinggi (PT) di dunia yang fokus pada penguatan untuk pengakuan global. Berbagai upaya dilakukan melakukan aktivitas implementasi kerja sama dengan mitra dalam maupun luar negeri di situasi pandemi ini. Tantangannya, upaya mobilitas internasional pun terbatas melalui mobilitas maya dengan memanfaatkan teknologi digital.

Sehingga keberadaan Kantor Urusan Internasional (KUI) di setiap PT menjadi sangat strategis untuk menjadikan kampus dikenal secara internasional. Namun ada tantangan bagi KUI khususnya terkait pengelolaan internasionalisasi, termasuk peningkatan kerja sama internasional secara daring tanpa mengurangi nilai, esensi, kualitas proses dan luaran mutu kegiatan. Isu ini dibahas melalui Workshop Penguatan Pengelolaan Kantor Urusan Internasional, yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Universitas Padjajaran (Unpad) dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari Kemendikbud pada Kamis (12/11/2020).

BACA JUGA : Tak Hanya Dosen, UII Juga Kirim Mahasiswa Ke Luar Negeri

Rektor UII Profesor Fathul Wahid menjelaskan internasionalisasi pada perguruan tinggi bukan sekedar pada lintas negara, namun harus dimaknai pada peningkatan kualitas pembelajaran hingga penelitian. Apalagi di era perkembangan teknologi saat ini batas negara sudah menjadi pudar.

“Jadi semboyan bersama maju bersama internasional bukan hanya pada lintas negara karenanya harus beri makna yang lebih. Batas negara semakin sedikit, main ke Oslo bisa mirip ke Solo. Batas negara pudar. Sehingga kualitas internasional, tak hanya merujuk pada lintas teritorial. Maka internasionalisasi adalah meningkatkan kualitas. Kualitas pembelajaran, riset, dan aktivitas lainnya,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Senin (16/11/2020).

Ia mengatakan untuk dapat menerapkan internasionalisasi dibutuh aktor baik individu maupun organisasi dalam sebuah perguruan tinggi. Dalam konteks perkualiahan misalnya, harus ada misi mendidik menjadikan warga global. Sehingga pemahaman lintas budaya antaranegara menjadi sangat penting. Perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk meningkatkan pemahaman lintas budaha, sehingga Kantor Urusan Internasional menjadi sangat penting keberadaannya.

BACA JUGA : Wow, UII Miliki Studio Arsitektur 24 Jam, Mahasiswa Bisa 

“Pemahaman lintas budaya yang minim akan merobek tenun kebangsaan kita. Di sinilah perguruan tinggi punya kewajiban untuk meningkatkan pemahaman lintas budaya. Kantor Urusan Internasional punya peran vital, bisa menjadi katalis. Selain itu kerja sama antar perguruan tinggi ini harus dibingkai dengan semangat saling menghargai,” katanya.

Rektor Unpad, Profesor Rina Indiastuti mengajak untuk melakukan internasionalisasi yang bisa dimaknai oleh akademisi sebagai akses informasi menuju Iptek ke berbagai belahan dunia. Sehingga akademisi bisa belajar maupun praktis secara langsung tentang Iptek di suatu negara luar negeri.

Menurutnya pandemi saat ini memberikan pemahaman tentang karakter attitude dari pada pemangku kepentingan hampir di semua negara untuk beradaptasi. Ketika secara lengkap Iptek dan sumber daya manusianya bisa dikuasi, maka bisa menjadi inspirasi.

BACA JUGA : KULIAH DI JOGJA : 15 PTS Ini Dinyatakan Layak Jadi

“Kita harus memilah informasi yang sesuai. Harus jalani pergaulan yang luas agar menjadi lebih baik, karena akan muncul benefit. Kami juga melihat bahwa internasionalisasi ini sangat strategis, kita sendiri akan berubah menjadi sumber daya yang tak hanya pandai, bijaksana, dan berpikiran luas tetapi juga nanti menularkan ke mahasiswa,” ucapnya.