Wow, UII Miliki Studio Arsitektur 24 Jam, Mahasiswa Bisa Mandi & Makan

Penyampaian tentang perolehan akreditasi internasional level tertinggi Arstitektur UII, Kamis (6/2/2020). - Ist/ftsp UII
07 Februari 2020 12:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Belajar dengan kurikulum yang menyenangkan banyak diterapkan di negara maju sehingga mahasiswa tidak bosan. Sistem ini menjadi salah satu dari sekian banyak syarat suatu jurusan untuk berkembang menuju internasional. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) telah lama mempraktikkan cara-cara ini.

Sistem yang standar internasional diberlakukan, mulai dari pertukaran dosen, mahasiswa hingga tenaga kependidikan dengan sejumlah kampus asing. Hingga pada 2020 ini Arsitektur UII mendapatkan predikat akreditasi internasional dari Korea Architerctural Accrediting Board (KAAB) di bawah Canberra Accord dengan status akreditasi penuh enam tahun untuk periode 2020-2026. Canberra Accord sendiri telah diakui Perserikatan Arsitek Dunia.

Ketua Jurusan Arsitektur UII Noor Cholis Idham menjelaskan upaya internasionalisasi itu telah dilakukan selama bertahun-tahun, sehingga pada 2017 mendapatkan akreditasi tiga tahun dari KAAB dan puncaknya pada 2020 ini mendapatkan status akreditasi penuh enam tahun.

"Kurikulum semua sudah standar internasional, sehingga semua lulus lima tahun, empat tahun sarjana dan setahun profesi maka mereka akan bisa diterima di seluruh dunia pada umumnya, kualitas sudah setara dengan internasional," terang dia dam rilisnya yang diterima Harian Jogja, Jumat (7/2/2020).

Pihaknya sangat memperhatikan berbagai fasilitas kampus untuk kenyamanan belajar mahasiswa. Mereka bisa berlama-lama di kampus untuk menyelesaikan suatu proyek gambar dengan tanpa bosan. "Kami [Arsitektur UII] satu-satunya di Indonesia yang studio [arsitekturnya] buka selama 24 jam. Terbuka 24 jam tujuh hari dalam sepekan, tidak pernah libur," katanya.

Saat ini baru ada tiga kampus di Indonesia yang mendapatkan akreditasi internasional untuk jurusan arsitektur, antara lain arsitektur ITB pada 2016, arsitektur UII sejak 2017 dan arsitektur UGM di 2020 ini. Minimnya akreditasi internasional membuat Indonesia belum bisa mendirikan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) arsitektur, karena syarat utamanya minimal harus ada lima kampus yang memiliki akreditasi internasional untuk jurusan arsitektur. Saat ini kampus lain sedang menunggu kampus internasionalisasi untuk bisa mendapatkan akreditasi internasional.

"Studio arsitektur 24 jam kami buka seperti mahasiswa berada di rumah. Disediakan berbagai fasilitas, dilengkapi semua kebutuhan mahasiswa, makan minum, bahkan kebutuhan mandi disiapkan. Seperti asrama tetapi itu, tetapi studio. Semua aktivitasnya bisa terpantau karena lengkap dengan CCTV ada di mana-mana. Kantin kalau mendekati waktu lembur kami siapkan 24 jam, itu salah satu fun sehingga mahasiswa tidak merasa terbebani," katanya.

Dekan FTSP UII Miftahul Fauziah mengatakan melalui sistem pembelajaran dan kurikulum yang menyenangkan tersebut, mahasiswanya memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kreativitasnya. "FTSP UII sebenarnya sudah lama menerapkan sebelum ada kebijakan Merdeka Belajar dari Mendikbud, kami sudah menerapkan," katanya.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII Imam Djati Widodo mengatakan FTSP menjadi pelopor internasionalisasi di UII kemudian disusul fakultas lain. Hal itu dilakukan mulai dari akreditasi, sertifikasi dan dua degree. Proses akreditasi internasional tidak mudah namun harus melalui proses yang terstandar menjadi bagian harus diterapkan dalam pembelajaran. "Proses ini tidak bisa dilakukan secara instan," katanya.

Foto : Penyampaian tentang peroleh akreditasi internasional level tertinggi Arstitektur UII, Kamis (6/2/2020). /Ist-ftsp uii