Erupsi Merapi 2020 Diprediksi Berbeda dari 2010, Ini Penjelasannya

Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Dam Sabo Kali Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, Minggu (12/4/2020). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
17 November 2020 20:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan jika guguran yang terjadi di Gunung Merapi hingga sempat terdengar oleh warga dikarenakan terjadinya tekanan dari dalam tubuh Gunung Merapi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan jika guguran terjadi ketika ada tekanan magma ke permukaan. Sehingga, material-material yang ada di puncak Gunung Merapi gugur karena tidak stabil.

"Magma itu kan terus menuju ke permukaan, karena ada magma yang menuju permukaan material yang di atas jadi tidak stabil. Karena tidak stabil maka material yang ada di atas jatuh (ngglundhung) sehingga menimbulkan suara gemuruh," ujar Hanik Humaida, Selasa (17/11/2020).

Lebih lanjut, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyatakan jika dalam status siaga (level tiga) Gunung Merapi, sekarang ini terdeteksi adanya dua kantong magma. Dua kantong magma tersebut diprediksi menjadi penyuplai utama material jika nantinya Gunung Merapi mengalami erupsi.

"Pertama, kantong magma dangkal kurang lebih 1,5-2 km dari puncak merapi. Kedua, kantong magma dalam yang jaraknya kurang lebih 5 km dari puncak Gunung Merapi. Dari posisi hiposenter gempa vulkanik saat ini dapat disimpulkan ada dua kantong magma di Gunung Merapi," sambung Hanik.

Berdasarkan catatan BPPTKG, hingga status Gunung Merapi berubah menjadi siaga level tiga, belum terdeteksi intensitas gempa vulkanik dalam (VA) masih di angka 0. Artinya, membuat kondisi yang berbeda jika dibandingkan pada erupsi pertama tahun 2010. Pada waktu itu, gempa vulkanik dalam bisa mencapai tujuh kali.

"Dengan kondisi tersebut mengindikasikan jika tidak ada suplai magma baru dari dalam perut Merapi, sekaligus menjadi salah satu indikasi kemungkinan erupsi 2020 ini tidak akan seperti tahun 2010. Pada aktivitas merapi tahun 2020, gempa vulkanik dalam terakhir yang muncul adalah pada tanggal 25 September 2020 lalu," ungkapnya.

Adapun, kantong magma sendiri disebut oleh Hanik berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Artinya, jika terjadi tekanan melebihi ambang batas, maka magma akan keluar dengan bentuk erupsi eksplosif, atau efusif yang berupa pembentukan kubah lava. "Pola letusan Merapi sendiri tidak mengalami perubahan," pungkas Hanik.