Kera Merapi Turun ke Permukiman, Begini Kata Juru Kunci

Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Dam Sabo Kali Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, Minggu (12/4/2020). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
18 November 2020 19:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Mas Asih atau Mas Wedono Suraksohargo Asihono yang didapuk sebagai Juru Kunci Merapi berkomentar soal hewan kera di Gunung Merapi yang kini turun ke permukimn warga.

Perilaku hewan seperti kera yang sempat turun ke perkampungan dinilai oleh Mas Asih tidak bisa serta merta dikaitkan dengan aktivitas Gunung Merapi.

"Ada sih ada hewan turun ke desa dan ke kampung-kampung. Tetapi, itu ada kaitannya dengan Merapi atau tidak saya kurang tahu. Yang jelas memang ada kera sampai ke kampung-kampung makan tanaman penduduk itu," ungkap Mas Asih, Rabu (18/11/2020).

Kera-kera turun ke perkampungan dinilai oleh Mas Asih merupakan hal biasa. Kera turun ke perkampungan bisa dikarenakan dua hal. Pertama, suhu naik di lereng Gunung Merapi atau karena di hutan tidak ada makanan.

"Ya mungkin sudah biasa. Di samping itu, mungkin karena suhu naik atau karena di hutan tidak ada makanan itu juga bisa. Itu turun karena tidak ada makanan dan akhirnya pergi ke kampung-kampung karena ada tanaman itu bisa dimakan," sambung Mas Asih.

Warga di lereng Gunung Merapi memang sudah terbiasa dengan aktivitas yang ditunjukkan oleh warga yang hidup di gunung yang berbatasan langsung dengan dua provinsi ini. Warga juga dinilainya sudah bisa mengambil sikap jika Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda perkembangan aktivitas.

"Ya biasa. Artinya kita itu hidup di lereng Gunung Merapi sejak lahir. Kalau ada sesuatu di Gunung Merapi ada gejolak atau akan ada erupsi lebih baik menjauh. Tetapi kalau Merapi itu baik dan Merapi itu tenang, ya kita tenang-tenang saja dan tetap beraktivitas di tempat-tempat masing-masing. Warga itu kan biasa mencari rumput di lereng di hutan, sudah kebiasaan penduduk sini mencari rumput di sana (lereng Gunung Merapi)," terang Mas Asih.

BACA JUGA: Corona di Jogja Meledak Lagi, Sehari Tambah 153, Kasus Aktif Tembus 1.000

Mas Asih juga mengimbau agar warga di lereng Gunung Merapi selalu menjaga kelestarian alam. Tidak ada warga maupun wisatawan yang membuang sampah secara sembarangan. Warga juga diimbaunya tidak merusak alam dengan menebang kayu seenaknya.

"Alamnya harus dijaga. Misalnya, ada sampah di sana ya perlu dibersihkan, mungkin dibawa turun atau dibuang di bawah supaya lingkungan bersih. Tidak boleh merusak alam dengan menebang kayu, karena kita manusia hidup di alam," sambung Mas Asih.

Masyarakat juga sadar terhadap status Gunung Merapi menjadi siaga level tiga. Pengalaman erupsi 2010 menjadi pelajaran berharga bagi warga di lereng Gunung Merapi. Masyarakat, lanjut Mas Asih, tanpa harus diperintahkan pun akan secara otomatis menjauh.

"Sudah ada pelajaran 2010 memang kalau ada sesuatu di Gunung Merapi, masyarakat tidak diperintah pun sudah menjauh. Apalagi, ada suara gemuruh atau letusan warga langsung mengevakuasi diri," pungkasnya.