Saudara Mbah Maridjan Ini Masih Tetap Rajin Kunjungi Rumahnya yang Berada di Kawasan Rawan Bencana Merapi

Sudi Wiyono, 75, warga Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, di depan rumahnya, Rabu (18/11/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
21 November 2020 15:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Mbah Sudi Wiyono alias Mak Keti, 75, yang dijuluki Rektor Merapi, masih tetap mengunjungi rumahnya yang berada di Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi.

Rumah Mak Keti berada kurang lima kilometer dari puncak Gunung Merapi, radius bahaya yang ditetapkan oleh Balai Penyelidikan, Pengembangan Teknologi Kebencaan Geologi (BPPTKG).

BACA JUGA: Mak Keti, "Rektor Universitas Merapi" Rela Tinggal Sendiri di Bekas Dusun yang Disapu Erupsi

Dari Balai Desa Umbulharjo menuju ke rumah Mak Keti memakan waktu sekitar 20 menit. Rumah Mak Keti berada di sisi barat jalan utama Desa Umbulharjo yang berhulu ke objek wisata Bunker Kaliadem, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Papan bertuliskan Universitas Merapi masih terpampang di depan rumah Mak Keti.

"Sukarelawan itu ngeposnya di sini [sejak sebelum erupsi Gunung Merapi 2010 silam], yang buat itu anak angkat saya. Dia sukarelawan komunitas Merapi. Anak angkat saya itu rumahnya di bawah Taman Nasional Gunung Merapi [TNGM]. Namanya Hari Jaran, yang buat tulisan Universitas Merapi ya dia," ujar Mak Keti saat diwawancarai di rumahnya di Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Rabu (18/11/2020).

Mak Keti tidak tahu persis mengapa ada tulisan Universitas Merapi di depan rumahnya. Namun, Mak Keti menyebutkan tulisan tersebut terpampang atas restu darinya.

BACA JUGA: Ini Syarat Sekolah Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Mak Keti mengatakan anaknya yang bernama Wahono, pernah bergabung sebagai sukarelawan Gunung Merapi. Namun, Wahono ikut menjadi korban erupsi Gunung Merapi 2010 silam. "Anak-anak sukarelawan itu kan mantau Merapi juga di sini. Kebetulan, anak saya juga ikut menjadi sukarelawan. Tapi, dia kena erupsi 2010 lalu. Nah, semenjak itu teman-teman sukarelawan sering menengok saya di sini, ya karena sudah tua," ujar Mak Keti sambil tertawa lepas.

Mak Keti sebenarnya sudah mempunyai tempat yang lebih aman yakni di Hunian Tetap (Huntap) Karangkendal, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Berdasarkan data dari Pemkab Sleman, pembangunan hunian tetap di Karangkendal merupakan relokasi mandiri kolektif yang berasal dari Dusun Pelemsari, dengan perincian 67 KK berada di lahan milik sendiri dan 14 KK yang lain berada di tanah kas desa. "Sejak Gunung Merapi Siaga, saya disuruh turun. Kalau malam saya di huntap, kalau pagi saya naik ke sini ditemani cucu dan adik saya," ujar Mak Keti.

"Enggak enak di bawah itu [huntap Karangkendal]. Saya sepedukuhan dengan Pak Asih [Juru Kunci Merapi]. Kebetulan, Pak Asih itu masih saudara saya.”

BACA JUGA: Tak Muncul Pasca Menikahkan Anaknya, Akhirnya Habib Rizieq Menampakkan Diri

Mas Asih adalah adalah penerus Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang meninggal dunia terkena awan panas saat Erupsi Merapi 2010. Mak Keti adalah sepupu dari Mbah Maridjan.

Mak Keti mengaku masih setia menunggu rumahnya. Selain alasan romantisme, ia juga harus memberi pakan ayam. "Hanya tersisa ayam, kalau kambing dan sapi sudah dijual. Ya besok kalau sudah tenang, beli lagi," ungkapnya.

Menurut Mak Keti,  tinggal di huntap rasanya ada yang janggal. "Tempatnya itu kan sempit [huntap]. Kalau di sini saya leluasa bisa ke mana saja. Saya itu kalau enggak ke mana-mana malah enggak enak badan. Kalau ada di sini kan bisa cari rumput, cari kayu, kalau ada di bawah mau ngapain. Enggak ada kegiatan," ujarnya.

BACA JUGA: Potensi Cuaca Ekstrem Terjadi di Beberapa Daerah di Indonesia, Termasuk DIY

Terkadang, ada sukarelawan yang menjemput Mak Keti karena cemas dengan kondisinya. Ketika dijemput oleh sukarelawan, Mak Keti mengaku tidak bebal. Ia bersedia turun demi keselamatan.

"Sukarelawan jemput ke sini. Saya diajak turun. Ya saya mau saja. Saya juga tidak sendiri di sini. Ada cucu sama adik saya. Nanti kalau sudah sore ya turun," ujarnya.

Mak Keti yang sudah 75 tahun tinggal di lereng Gunung Merapi menceriotakan bagaimana erupsi Gunung Merapi 2010 silam menghanguskan rumahnya serta empat sapi dan ratusan ayam miliknya. Bahkan, anak keempatnya ikut menjadi korban.

"Anak saya itu sudah jadi sukarelawan, kena [erupsi] di dekat rumah Mbah Maridjan. Dia naik untuk mengajak warga yang masih di atas untuk turun. Ayam saya seratus dan sapi perah empat ikut hangus. Suara letusannya minta ampun. Itu yang hari Jumat [erupsi Gunung Merapi 2010]," ungkap Mak Keti.

BACA JUGA: Legenda Timnas Indonesia Meninggal Dunia Saat Bermain Bola

Masih bertahannya Mak Keti di rumahnya ditanggapi Eko Susilo, 36, sukarelawan sekaligus warga asli Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

"Aturan pemerintah [BPPTKG] itu kan lima kilometer harus dikosongkan, tidak ada kegiatan. Ketika melanggar itu berarti risiko ditanggung sendiri. Namun, warga ini kan rata-rata peternak sapi. Nah, dan itu masuk ke kawasan hutan [kurang dari lima kilometer dari puncak Gunung Merapi]. Nah itu, dilemanya di situ. Suket sing arep nggolek sopo," ujar Eko.

Namun, kata Eko, warga cukup arif dalam menghadapi kenaikan status Gunung Merapi. Warga menurutnya sudah khatam soal bagaimana harus bersikap ketika Merapi menunjukkan aktivitas tertentu.

"Ketika harus ngungsi dan sebagainya warga saya kira sudah paham, walaupun risiko itu akan selalu ada. Kalau orang sini jika harus ngungsi itu saya kira akan teratur, dengan pengalaman sebelumnya, warga sudah tahu harus bersikap seperti apa. Nah, yang jadi persoalan kalau wisatawan yang datang. Mereka kan buta soal jalur evakuasi dan sebagainya," kata Eko.