Desa Budaya Dibina hingga Mandiri

Kegiatan desa budaya. - Ist.
25 November 2020 14:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kebudayaan DIY telah memiliki program pengembangan desa budaya sejak lama. Pembinaan Desa Budaya terus digulirkan hingga desa menjadi mandiri dan berbudaya.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Sumadi menyampaikan pada tahun ini Disbud DIY melaksanakan agenda yang diperuntukkan bagi Desa Budaya dengan nama Gelar Potensi Desa Budaya. Kegiatan ini dilaksanakan dari tahun ke tahun. Sedangkan program Maestro Masuk Desa baru dilaksanakan pada tahun 2020 ini.

“Artinya para maestro atau para empunya seni dan budaya itu kita hadirkan kepada desa-desa budaya agar Desa Budaya bisa langsung menyerap ilmunya dari para maestro,” ujar Sumadi.

Sejumlah maestro di bidang seni tari, ketoprak, jathilan, maestro di bidang riset penulisan esai atau karya dan maestro di bidang kuliner dihadirkan langsung di Desa Budaya.

Setelah menyerap segala informasi yang diberikan dari para maestro, Sumadi mengatakan Desa Budaya nanti dilihat seberapa jauh mereka dapat mengimplementasikan materi. “Setelah mereka menyerap langsung ilmunya terus kita minta mereka menginisiasi di masing-masing desa untuk berinovasi, mengkreasi apa yang mereka dapat terus tampilkan. Tapi mereka enggak tahu kita nilai, apakah dari kreasi mereka bisa menerapkan itu [materi dari para maestro],” ujarnya.

Namun, karena pandemi program Maestro Masuk Desa tidak bisa diselenggarakan, akhirnya Desa Budaya diminta berkreasi kemudian menampilkan gelar potensinya pada lomba Gelar Potensi Desa Budaya.

Dari pengamatan Sumadi dalam perhelatan tersebut, potensi Desa Budaya di bidang kesenian terbilang sudah baik.

Hanya daya pada aspek penulisan harus mendapatkan bimbingan dan pelatihan lanjutan. “Untuk hal-hal yang bersifat seni atraksi dan budaya sudah baik. Kemudian pada hal baru seperti penulisan esai, apa potensi mereka kemudian ditulis, memang butuh banyak hal-hal yang dilakukan terus. Karena apa tidak semua orang bisa menulis potensi mereka itu. Itu perlu terus dikembangkan,” ungkapnya.

Selanjutnya di bidang kuliner, tidak setiap Desa Budaya memiliki produk unggulan kuliner. Sumadi berpendapat jika Desa Budaya perlu inovasi baru dalam menciptakan produk kuliner. “Sebetulnya mereka punya bahan dasarnya tapi harus ada inovasi baru. Salah satunya tiwul. Tiwul ini selama ini sudah dikreasikan tetapi tidak ada sesuatu yang wow. Kemarin yang menang [lomba] itu ada kreasi tiwul bakar dipadukan dengan ikan teri. Membuat sesuatu yang lain, selama ini kan tiwul pakai juruh gula jawa, tetapi sekarang tiwulnya dibakar dan rasanya khas sekali tiwul teri bakar. Jadi tidak hanya mengejar bentuk atau sensasi, inovasinya ada dan rasanya juga enak,” katanya.

“Harapan kami Desa Budaya itu menjadi ujung tombak pusat-pusat pertumbuhan. Selama ini basis pertumbuhan di kota saja, sekarang kita ingin meratakan itu sampai di desa-desa. Apakah itu kulinernya, apakah itu atraksi seni budayanya, macam-macam. Harapannya terus berkembang dan kita lakukan pembinaan terus di sana. Kita juga ada program desa wisata sehingga wisatawan bisa mengunjungi desa-desa wisata itu,” ujar Sumadi.

Salah satu arah dari pembinaan dari Desa Budaya ialah menjadi Desa Mandiri Budaya. Sumadi menuturkan jika Desa Mandiri Budaya itu mengarah kepada kemandirian sendiri-sendiri di bidang kebudayaan, di bidang pemberdayaan masyarakatnya, terus bidang UMKM-nya, dan bidang pariwisatanya. Di mana masing-masing Desa Mandiri Budaya memiliki punya karakter sendiri.

Berbekal antusiasme dan dukungan masyarakat kepada Desa Budaya, diharapkan semua Desa Budaya dapat menjadi Desa Mandiri Budaya. “Harapannya Desa Budaya bisa mandiri budaya semua, tetapi kan selektif tidak bisa langsung. Kita siapkan dulu, kita bina dulu nanti menjadi mandiri yang memang benar-benar terlepas dari pemerintah daerah, mereka bisa mandiri,” ucapnya.

“Dari tahun ke tahun akan kita cetuskan Desa Mandiri Budaya, supaya desa-desa itu bisa jadi mandiri, benar-benar punya potensi yang tidak terikat dengan kita lagi, kita hanya pemantauan saja. Kedepannya seperti yang tadi saya sampaikan bagaimana desa itu bisa mempunyai kemandirian sehingga bisa menjadi sebuah sentra pertumbuhan yang itu tidak hanya Kota saja. Endingnya nanti masyarakat bisa mandiri di sana bisa mencukupi kebutuhan sendiri tidak tergantung dari pemerintah daerah,” kata Sumadi. 

Dukungan Desa Budaya

Kepala Bidang ATLAS, Disbud DIY, Eni Lestari Rahayu menuturkan jika dukungan kepada Desa Budaya tidak hanya dilakukan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan saja. Disebutkan Eni bentuk dukungan juga diberikan dalam wujud fasilitas sarana dan prasarana salah satunya hibah gamelan. Dari 56 Desa Budaya di DIY tahun ini 13 Desa Budaya akan mendapatkan hibah gamelan.

“Tanggal 26 Desember kita akan kepyakan hibah Gamelan. Kita akan memberikan 13 Gamelan kepada Desa Budaya yang rencananya diberikan langsung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kemudian di 2021 rencananya delapan gamelan lagi untuk desa budaya,” ujar Eni.

Sehingga pada 2021 diharapkan 56 Desa Budaya telah memiliki serangkaian gamelan.  Agenda lain yang juga bakal dilakukan pada 2021 ialah akreditasi Desa Budaya. Eni menjelaskan akreditasi Desa Budaya akan dikukuhkan dari rintisan desa budaya yang kewenangannya ada di kabupaten dan kota. “Itu akan kita akreditasi untuk bisa naik dari rintisan desa budaya menjadi Desa Budaya.

Kesepakatan terakhir kemarin masing-masing kabupaten mengusulkan lima rintisan desa budaya. Proposal harus sudah masuk di bulan Februari. Sehingga kami segera memproses grade tadi, dari rintisan menjadi Desa Budaya,” ujarnya.

Konsekuensi dengan penambahan Desa Budaya dituturkan Eni akan berdampak pada jumlah pendamping di Desa Budaya.

Penambahan pendamping rencananya baru dilaksanakan pada 2022. Pada 2021 jumlah pendampingnya akan sama yakni sebanyak 112 orang. Beberapa sarana dan prasarana juga akan diusulkan dari rintisan desa budaya. “Rintisan budaya baru diajukan 2021 itu masing-masing Kabupaten mengirimkan maksimal lima, kan belum tentu itu kita akreditasi bisa masuk dan lima itu menargetkan besok 10 seperti itu tidak bisa, kan kita lihat dulu yang bisa masuk berapa.

Karena kelihatannya yang ada sekarang ini masing-masing rintisan sangat ingin menjadi desa budaya,” ujar Eni. Padahal proses akreditasi dijelaskan Eni cukup berat, baik bagi rintisan desa budaya maupun bagi Disbud DIY.

“Karena desa-desa rintisan itu harus mengejar dari desa-desa yang ada. Karena posisinya saat ini di desa budaya itu ada 30 Desa Budaya kategori maju, 24 Desa Budaya kategori berkembang, dan dua Desa Budaya kategori tumbuh. Sementara dari 56 Desa Budaya, 10 Desa Budaya sudah mandiri,” ungkapnya.

Desa Mandiri Budaya memang kerjasama silang organisasi perangkat daerah (OPD). Namun Eni menerangkan jika skor tertinggi ada di Desa Budaya, 50% Desa Budaya, 30% Desa Wisata, 10% Desa Prima, dan 10% Desa Preneur. “Kalau desa budaya maju, desa wisata maju, pasti akan menjadi desa mandiri budaya karena skornya tertinggi di situ,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan Eni, esensi rintisan desa budaya dan Desa Budaya sama harus memiliki lima komponen upacara adat, seni permainan tradisional, bahasa sastra dan aksara, kuliner kerajinan pengobatan tradisional, kemudian tata ruang dan kawasan cagar budaya. “Itu semua harus ada, lima item itu harus ada. Baik itu desa budaya maupun di rintisan desa budaya.

Kalau tidak ada lima item itu tidak akan menjadi desa budaya,” tegasnya.

“Harapannya masyarakat yang sudah kepengin rintisan naik menuju desa budaya, ya mari bersama sama membangun desa itu,” katanya.

Pada 2020 ini Disbud DIY melakukan kajian potensi desa budaya. Masing-masing Desa Budaya ini muncul kesepakatan antara Lurah dengan Ketua Desa Budaya di mana masing-masing Desa Budaya harus memiliki potensi unggulannya. “Harapannya apa, dari potensi unggulannya ini bisa dikembangkan lagi.

Sehingga misal ada tamu yang ingin ke kerajinan, kita bisa mengarahkan ke desa wisata berdasarkan potensi unggulannya. Misalnya Saptodadi sentra kerajinan kulit, Minggir sentranya akar wangi, seperti itu bisa menjadi potensi unggulan yang menjadi jujukan bagi tamu atau wisatawan,” ungkapnya.

Potensi unggulan dari tiap-tiap desa akan terus dikembangkan karena ujung-ujungnya agar ekonomi masyarakat desa bertambah. “Itu yang diutamakan di situ. Makanya kemarin kami ada lomba kuliner dan kerajinan, itu harapannya itu menjadi makanan unggulannya di desanya.

Makanan kreasi dari ketela, karena bahannya kalau dari ketela itu hampir di setiap Desa Budaya ada. Kemudian kerajinan bahannya dari kayu. Hampir semua Desa Budaya punya kayu jadi kerajinan itu handycraft yang nanti kerja samanya dengan Dekranas, Asita yang dijual di situ bisa jadi oleh-oleh,” katanya.

“Harapannya ke depan seperti itu, tetapi kan kita tidak bisa instan, butuh waktu bimbingan pelatihan. Sesuatu itu tidak bisa langsung jadi, melalui proses atau tahapan. Kita ingin entah lima tahun atau 10 tahun ke depan, semua desa itu bisa menjadi Desa Budaya,” tutupnya. (Adv)