Merapi Bergejolak, Masih Ditemukan Penambang Di KRB III

Penampakan salah satu sungai di sekitar Gunung Merapi, dalam pemantauan dari udara BPPTKG dan BPBD DIY, Kamis (26/11 - 2020)./Ist Humas Pemda\\r\\n
26 November 2020 20:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Untuk melihat perkembangan kondisi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memantau kawasan Gunung Merapi dari udara, kamis (26/11/2020).

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menjelaskan dari pantauan tersebut, diketahui semua sungai di sekitar Gunung Merapi masih cukup dalam, sehingga masih mencukupi untuk menampung jika terjadi luncuran awan panas.

“Tadi di puncak cukup cerah, tapi terbangnya [helikopter] ke samping, tidak bisa lihat dalam kawahnya seperti apa. Tapi dari dinding-dinding kawah, saya sedikit lihat guguran material lama, jatuh ke arah Sungai Senowo, sebagian ke Sungai Lamat,” ujarnya.

Meski demikian guguran material tersebut masih berada di hulu sungai. Adapun prediksi potensi bahaya masih ke arah Kali Gendol, karena bukaan kawah mengarah ke situ. Tapi karena guguran ke arah barat dan barat laut, potensi ke arah ini juga ada.

Pemantauan dari udara ini kata dia, tujuannya agar para pengambil kebijakan secara lebih dekat melihat situasi. Ia mengimbau warga yang saat ini sudah mengungsi agar tenang dan sabar karena Gunung Merapi memang aktivitasnya tinggi tapi dengan durasi lama.

Perekayasa Ahli Madya BPPTKG, Dewi Sri Sayudi, mengungkapkan dari pantauan ini, terlihat masih ada sebagian kecil aktivitas penambangan di kawasan rawan bencana (KRB) III, di Sungai Krasak. “jaraknya cukup dekat dengan puncak. Mereka menambang bukan saja pada bagian alur sungai, tapi sudah merambah ke lingkungan sekitarnya,” katanya.

Untuk aktivitas wisata, beberapa jeep masih terpantau namun berada di luar KRB III. Hal ini kata dia, menunjukkan penyikapan yang bijak dari pelaku wisata, yakni dengan mengalihkan jalur ke luar KRB III. Sementara kegiatan wisata di dalam KRB III semua sudah terhenti.

Terkait potensi lahar dingin dan penambahan material di aliran sungai, menurutnya masih bisa teratasi karena sungai di sekitar Gunung Merapi semuanya memiliki tebing yang dalam dan lebar. “Jika terjadi lahar di musim penghujan, denga nada atau tidaknya penambahan material karena erupsi, masih cukup menampung lahar,” ungkapnya.

BACA JUGA: Lahan Tergusur 1 Meter Persegi untuk Tol Jogja-Solo, Pria Ini Dapat Rp1 Juta

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY, Danang Samsurizal, mengatakan dari hasil pantauan ini, pihaknya akan mengevaluasi peta dan pola evaluasi, jika ada yang perlu diperkuat atau justru diganti. “Nanti ada rapat koordinasi dengan sektor terkait,” kata dia.

Berdasarkan laporan harian BPPTKG, pada Rabu (25/11/2020) tercatat terjadi 50 gempa guguran, 324 gempa multifase, 41 gempa vulkanik dangkal, 2 gempa tektonik dan 73 gempa hembusan. Asap warna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, setinggi 350 meter di atas puncak.

Sedangkan dari pengamatan BPPTKG pada Kamis (26/11/2020) pukul 00.00-12.00 WIB, tercatat terjadi 9 gempa guguran, 81 gempa multifase, 47 gempa hembusan dan 11 gempa vulkanik dangkal. Dengan aktivitas ini, status Gunung Merapi masih Siaga.