Pemkab Gunungkidul Fokus Entas Kemiskinan di 7 Wilayah Ini
Pemkab Gunungkidul memfokuskan program pengentasan kemiskinan di tujuh kapanewon prioritas. Target angka kemiskinan turun hingga 13 persen pada 2026.
Ilustrasi HIV/AIDS./JIBI-Dok
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jumlah penderita HIV/AIDS di Gunungkidul terus bertambah. Hingga triwulan ketiga 2020, ada tambahan 37 kasus, dengan rincian 29 kasus HIV dan delapan kasus AIDS.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro, mengatakan secara akumulatif hingga akhir September ada 396 kasus HIV dan 229 AIDS.
“Untuk triwulan keempat belum masuk karena masih pendataan. Hingga akhir September ada tambahan 29 kasus HIV dan delapan AIDS,” kata Sumitro kepada wartawan, Selasa (1/12).
BACA JUGA: Kepala Dinas Sosial Kota Jogja Meninggal Dunia karena Covid-19, Pemkot Berduka
Menurut dia, upaya pencegahan penularan akan terus dilakukan. Meski demikian, butuh partisipasi aktif dari masyarakat untuk menekan penyebaran. Sosialisasi penanganan HIV/AIDS menggunakan rumus ABCDE. A memiliki arti abstinence atau tidak melakukan hubungan seks secara bebas. Langkah ini dinilai efektif karena penularan HIV-AIDS salah satunya melalui hubungan badan.
B memiliki arti be faithful atau setia pasangan. “Berikutnya C atau use condom. Penggunaan alat kontrasepsi ini penting agar terhindar dari penularan HIV,” ungkapnya.
BACA JUGA: Umat Gaduh, Gus Mus: Tolong Para Ustaz Hadirkan Akhlaknya Rasulullah
Sementara itu, untuk D memiliki arti no drugs, dengan tidak mengonsumsi narkotika dan obat terlarang. Terakhir E memiliki arti early testing, early treatment. Sumitro mengatakan pelaksanaan tes awal melalui VCT menjadi cara mendeteksi apakah seseorang tertular virus atau tidak. “Kalau hasil tes positif, upaya perawatan bisa lebih cepat sehingga penanganan bisa maksimal,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Menurut dia, penderita HIV/AIDS berkaitan dengan pola perilaku manusia. Menurut dia, penularan terbesar di Gunungkidul berasal dari hubungan seksual. “Kami mengimbau kepada masyarakat untuk ikut partisipasi dalam upaya mencegah penularan, salah satunya dengan tidak melakukan seks bebas atau bergonta-ganti pasangan. Sedangkan bagi yang sudah tertular, kami patuh minum obat agar kualitas hidup tetap terjaga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul memfokuskan program pengentasan kemiskinan di tujuh kapanewon prioritas. Target angka kemiskinan turun hingga 13 persen pada 2026.
Pascagempa NTT, 32 dari 33 titik longsoran telah ditangani. BNPB mencatat 68 orang meninggal dan 213 lainnya luka-luka.
SAC menggelar pameran 150 lukisan untuk merayakan HUT RI ke-81 sekaligus merespons dinamika global dan memperkuat pesan perdamaian.
Menkeu Purbaya memastikan pengalihan status guru PPPK menjadi pegawai pusat tak mengganggu fiskal. Defisit RAPBN 2027 tetap 2,40%.
Perpres Ojol segera terbit. Tarif angkutan orang akan diatur Kemenhub, sedangkan tarif barang dan makanan menjadi kewenangan Komdigi.
Film Indonesia Solata tayang di Festival Film Anak dan Remaja Yordania. Film Ichwan Persada sebelumnya meraih penghargaan di Bulgaria.