WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Ilustrasi jalan tol./JIBI-Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Tol Jogja-Bawen di wilayah DIY akan memakai Selokan Mataram. Lahan 500 meter di sisi kiri dan kanan Selokan Mataram bakal menjadi koridor terdampak jalan bebas hambatan ini. Tujuh desa dilewati tol ini.
Pemda DIY menyerahkan Izin Penetapan Lokasi (IPL) Tol Jogja-Bawen wilayah DIY kepada Satuan Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Kantor Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY, Selasa (22/12/2020).
BACA JUGA: Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen Diserahkan Maret 2021, Pembangunan Dimulai Agustus
Kepala Dispertaru DIY, Krido Suprayitno, menuturkan Tol Jogja-Bawen wilayah DIY sepanjang 8,5 kilometer (km), dengan luas pembebasan lahan kurang-lebih 49,65 hektare (ha). “Jumlah bidangnya ancer-ancer sudah kelihatan di konsultasi publik sebanyak 915 bidang,” ujarnya.
Sebagian tol akan melintasi Selokan Mataram. Meski demikian ia memastikan keberadaan tol tidak akan mengganggu fungsi selokan.
“2021 kami bergerak cepat susun pengkajian dan pengendalian terhadap pengaruh exit toll khususnya terhadap Selokan Mataram,” katanya.
Pelestarian fungsi Selokan Mataram, kata dia, harus terjamin baik secara teknis dan pemanfaatan. Jaminan ini akan tercantum dalam DED. “Koridor terdampak Selokan Mataram 500 meter ke kanan 500 meter ke kiri,” ungkapnya.
BACA JUGA: IPL Resmi Diserahkan, 915 Bidang Lahan di 3 Kecamatan Terkena Tol Jogja-Bawen
Dengan 952 warga terdampak, lokasi tol ini akan melewati 28 dusun, tujuh desa, tiga kecamatan, yakni Tempel, Seyegan, dan Sleman. Tujuh desa yang dilewati Tol Jogja-Bawen adalah Banyurejo, Tambakrejo, dan Sumberrejo (Tempel), Margokaton, Margodadi, dan Margomulyo (Seyegan), serta Tirtoadi (Mlati).
Tol ini akan memengaruhi fungsi jalan kabupaten, jalan desa dan jalan lingkungan, dengan satu exit toll dan simpang susun berada di Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel.
Sekitar 75-78% jalan tol ini melayang (elevated), dengan sejumlah titik at grade (di permukaan tanah). Penentuan titik elevated dan at grade tercantum dalam detail engineering design (DED), yang saat ini masih dalam proses finalisasi.
Keberadaan jalan tol ini diharapkan memberi dampak multiplier effect sehingga DIY memiliki peluang investasi. “Pertumbuhan di sektor barat laut sebagai pintu gerbang Joglosemar [Jogja-Solo Semarang] di DIY, terlebih lagi nanti adanya Bedah Menoreh,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Pemerintah masih mengkaji lokasi PFII. Bali menjadi salah satu opsi, termasuk kawasan KEK yang statusnya dapat diubah jika diperlukan.
Program kompor listrik gratis untuk rumah tangga masuk RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan pengurangan subsidi energi dan impor LPG.
Target PAD retribusi parkir Kulonprogo naik menjadi Rp1,187 miliar pada 2026. Dishub optimistis tercapai dengan sistem kontrak pengelolaan parkir.
Progres Tol Trihanggo–Junction Sleman telah mencapai 87 persen. Ramp On dan Ramp Off ditargetkan rampung pada Agustus 2026.
Pergerakan wisatawan Kota Jogja mencapai 51.436 orang per hari pada 2026. Malioboro masih menjadi destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi.