Pemkot Jogja Tolak Titik Nol & Tugu Jogja Di-Lockdown Malam Tahun Baru

Kawsan Titik Nol Kilometer dipenuhi wisatawan beberapa waktu lalu - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
28 Desember 2020 22:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Wakil Wali Kota Jogja sekaligus Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi tidak sepakat me-lockdown alias mengunci kawasan Titik Nol dan Tugu Jogja pada malam tahun baru.

Usulan mengunci dua kawasan tersebut sebelumnya disampaikan DPRD Kota Jogja guna menghindari kerumunan dan mencegah penularan Covid-19 yang kini tengah meroket di DIY.

Menurut Heroe, penutupan tersebut tidak sesuai dengan Instruksi Gubernur (Ingub) No. 7/2020 tentang Penegakan Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19 pada saat libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Heroe berpandangan jika penutupan satu lokasi hanya akan memindahkan titik kerumunan ke lokasi lainnya. Usulan pansus DPRD menurut Heroe akan dikaji kembali terutama soal pembatasan jam malam atau lockdown.

BACA JUGA: 82 Saksi Terkait Kasus Polisi Tembak Mati Laskar FPI

"Sampai saat ini kami tetap mengambil keputusan tetap dibuka sampai malam tahun baru pun dibuka. Mengapa itu kita lakukan, karena jika kita lalukan penutupan akses artinya ini kan seperti balon, ketika satunya ditutup yang lainnya pasti menggelembung. Makanya kenapa kita membuat aksesnya dibuka itu supaya tidak ada kerumunan. Karena kalau ada yang ditutup pasti ada yang berkerumun di tempat lain," tutur Heroe, Senin (28/12/2020).

Terkait membeludaknya wisatawan Malioboro, Heroe tetap akan menggunakan metode yang sama yakni menurunkan seluruh petugas yang ada di kawasan tersebut. Dengan catatan jika telah memenuhi kapasitas zona, petugas akan menyetop wisatawan yang hendak masuk. Heroe belum bisa menyebutkan data kunjungan wisatawan yang mengsisi Kode QR di kawasan Malioboro.

Ketua Pansus Pengawasan Pelaksanaan Penanganan Covid-19 DPRD Kota Jogja, Antonius Fokki Ardiyanto mengaku punya dalih jelas kenapa lockdown kudu diberlakukan. Intensitas kerumunan di dua lokasi tersebut membuat pihaknya mengusulkan kawasan Tugu sampai Titik Nol diterapkan pembatasan jam malam.

"Seperti sudah dipahami bersama bahwa setiap tahun baru itu pusat keramaian itu ada di sepanjang Tugu dan Titik Nol. Itu kan potensi [kerumunan] di depan mata. Itu bisa menjadi klaster Covid-19 yang itu sangat-sangat banyak dan mungkin kalau itu terjadi maka itu akan sangat sulit ditracing," tegas Fokki.