Pandemi, Wawan Olah Debog Pisang Jadi Camilan Berduit

Wawan Doniyanto (kiri) bersama istri dan putra tunggalnya menunjukkan produk Taroe Debog di rumahnya di Hunian Tetap Gondang 2 Wukirsari, Cangkringan, Sleman, belum lama ini. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
30 Desember 2020 15:17 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pada masa pandemi Covid-19, sejumlah ide berdagang kreatif bermunculan. Salah satunya memanfaatkan bahan yang selama ini tak dipandang manusia sebagai sumber makanan. Itulah yang dilakukan oleh Wawan, pria asal lereng Gunung Merapi belakangan ini. Berikut ini laporan wartawan Harian Jogja, Bernadheta Dian Saraswati.

Sepuluh tahun silam, tepatnya seusai erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, pemerintah gencar memberikan bantuan bibit pisang ke sejumlah desa di Cangkringan, Sleman. Sepanjang satu dekade, bibit-bibit itu telah menjadi pohon yang subur, berbuah, dan beranak pinak hingga saat ini.

Buahnya telah membantu masyarakat terdampak dalam memenuhi kebutuhan pangan. Bagi yang panen lebih, mereka menjualnya untuk menambah pendapatan rumah tangga. Tak hanya dari buahnya, daunnya pun juga bisa mendatangkan rupiah.

Belakangan ini, seorang pria yang tinggal di Hunian Tetap Gondang 2 Wukirsari, Cangkringan, bernama Wawan Doniyanto, 32, mencoba mendatangkan rupiah dari bagian lain tanaman pisang yang selama ini tidak banyak terpikirkan orang-orang. Dengan segenap idenya, pria satu anak itu mengolah pelepah pisang alias gedebog pisang menjadi makanan ringan menyerupai bentuk jajanan bermerek Taro. Panjang, pipih, dan berlubang-lubang.

"Semuanya berawal karena pandemi [Covid-19] ini. Saya yang pekerjaannya biasanya menambang pasir dan jualan pulsa, sekarang harus punya ide jualan agar tetap bertahan," katanya belum lama ini.

Makanan dari gedebog itu ia beri nama Taroe Debog. Ide itu muncul saat ia berjalan-jalan menyusuri kebun di dekat rumahnya. Banyaknya tanaman pisang jenis kepok dan raja, membuatnya berpikir untuk menjadikannya duit. "Buah, daun, dan jantung [pisang] sudah biasa dimakan. Kalau gedebognya biasanya hanya untuk pakan ternak, padahal tekstur bagus seperti Taro. Kalau Taro dibentuk pakai mesin, kalau pelepah ini kan alami. Memang aslinya berongga-rongga," kata Wawan.

Berawal dari ketertarikannya terhadap teksturnya, Wawan mulai mencoba mengolah pelepah pisang menjadi makanan. Hal itu ia lakukan sekitar Oktober lalu.

Tiga bulan menjadi waktu yang panjang bagi Wawan dan istrinya Onny Nadhia Pratika, 31 untuk bereksperimen. Keduanya putar otak agar gedebog-gedebog itu bisa layak menjadi makanan manusia.

Pelepah yang dipilih tidaklah sembarangan. Tiga hingga empat lembar dari luar darus dibuang, selanjutnya pelepah yang tersisa, itulah yang bisa diambil untuk diolah. "Sampai batas yang paling dalam [yang diambil], tapi jangan sampai terlalu muda karena lembek," tuturnya.

Selanjutnya pelepah dikuliti, dipotong sesuai selera, direndam, dicuci air mengalir minimal 3 kali, direndam lagi sampai bersih, ditiriskan, dan mulai diberi tepung. "Kalau untuk bumbu yang kami campurkan selalu pakai bawang dan kami non-MSG. Setelah itu, gedebog bisa digoreng dan ditiriskan pakai alat peniris minyak," jelas dia.

Banyak Rasa

Selain original, banyak varian rasa yang ditawarkan. Mulai dari jagung manis, pedas, balado, dan masih banyak lagi. Taroe Debog ini disajikan dalam wadah 100 gram dan dijual Rp10.000. Ia menjualnya via online dan ke depan, ia berencana menitipkan Taroe Debog ke galeri-galeri UMKM.

Meski termasuk pebisnis baru, Wawan sudah mengantongi izin usaha. Hal itu bisa membuatnya lebih leluasa untuk berkreasi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Untuk memajukan bisnis rumahannya yang lahir pada masa pandemi Covid-19 ini, ia tak segan-segan ngangsu kawruh ke Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sleman dan kerap diundang mengikuti acara UMKM yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten.