PTKM Diberlakukan, Separuh Pedagang Lesehan Malioboro Memilih tutup

Sejumlah pengunjung berjalan di kawasan Malioboro pada saat uji coba Malioboro bebas kendaraan bermotor, Rabu (11/11/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
10 Januari 2021 22:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) akan diberlakukan mulai 11-25 Januari. Salah satunya mengenai jam buka usaha boga resto hanya sampai pukul 19.00 WIB.

Tanggapan atas aturan PTKM yang diberlalukan pun muncul dari Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro, Desio Hartonowati. Diakui Desio pembatasan jam buka sangat berdampak bagi para pedagang. "Dampaknya teman-teman lesehan tidak bisa jualan karena selesai buka, selang 30 menit sudah harus tutup lagi," ujarnya pada Minggu (10/1/2020).

BACA JUGA: Warung Lesehan dan Angkringan di Sleman Boleh Beroperasi saat Pembatasan Asalkan...

"Harapan dari para pedagang kebijakan ini tidak diperpanjang lagi. Sudah cukup sampai tanggal 25 Januari saja. Masalah buka atau tidak, saya serahkan ke teman-teman [pedagang lesehan]. Tetapi saya pribadi dan beberapa teman-teman sudah memutuskan untuk tidak buka karena mepetnya waktu yang tidak memungkinkan untuk buka," tuturnya.

Menurut hitungan Desio, kurang lebih separuh pedagang yang tergabung dalam PPLM memilih tidak buka selama PTKM diterapkan. Padahal jumlah anggota PPLM mencapai 36 pedagang dan 20 pedagang yang belum terdaftar. "Separuh lebih yang memutuskan tidak buka. Hilangnya penghasilan dua minggu. Tdak jualan online, kami hanya bisa berharap kebijakan sampai tanggal 25 Januari saja. Mungkin separo lebih [yang tidak berdagang], namun kami belum tahu pasti. Nanti kita lihat di lapangan," tukasnya.

"Lesehan Malioboro ini konsumen utamanya wisatawan. Bukan warga sekitar kita. Kedua, yang dicari pembeli itu bukan hanya soal makanan, tapi lebih suasana khas Malioboro. Jadi sulit untuk berpindah ke online. Beberapa lesehan sudah mencoba saat awal-awal pandemi beberapa bulan yang lalu tapi gagal.

Beralih ke online mungkin bisa dilakukan oleh kuliner yang konsumennya warga setempat dan kekuatannya bukan di suasana yang khas," tegasnya.